SATELITNEWS.COM, TANGERANG — Transformasi digital di rumah sakit selama ini kerap dibayangkan sebagai perubahan dari dokumen kertas menuju layar komputer. Namun, perubahan itu sesungguhnya menyentuh persoalan yang jauh lebih mendasar: bagaimana data pelayanan kesehatan dikelola, bagaimana keputusan dibuat, bagaimana mutu dijaga, dan pada akhirnya bagaimana pasien memperoleh pelayanan yang lebih baik.
Pertanyaan itu menjadi salah satu benang merah dalam Indonesian Hospital Transformation Summit (IHTS) 2026 yang berlangsung di Hotel Harris & Convention Gading Serpong, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu-Kamis (12-13/8/2026).
Lebih dari 350 pimpinan dan pengelola rumah sakit dari berbagai daerah di Indonesia hadir dalam forum tersebut. Mereka berasal dari beragam bidang, mulai dari direksi dan pemilik rumah sakit, pengelola pelayanan, komite mutu dan akreditasi, kepala unit Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS), teknologi informasi, keuangan, hingga keperawatan.
Pertemuan itu memperlihatkan bahwa transformasi rumah sakit tidak dapat dikerjakan hanya oleh satu bidang. Perubahan teknologi berkaitan dengan mutu pelayanan. Mutu berkaitan dengan data. Data berkaitan dengan pembiayaan dan pengambilan keputusan. Sementara di balik seluruh sistem tersebut tetap ada manusia yang memberikan dan menerima pelayanan kesehatan.
Dalam konteks itulah IHTS 2026 mengangkat pembahasan mengenai strategi reakreditasi rumah sakit di era transformasi digital, penguatan SIMRS, mutu layanan, keselamatan pasien, tata kelola, hingga keberlanjutan organisasi.
Dari Gudang Data Menjadi Bank Data
Baca Juga: Masih Abaikan PP Tunas, Platform Digital Belum Patuh
Salah satu persoalan yang mendapat perhatian adalah pengelolaan rekam medis elektronik. Dr. dr. Rano Indradi Sudra, M.Kes, salah satu narasumber IHTS 2026, melihat bahwa rumah sakit perlu mengubah cara memandang rekam medis elektronik. Sistem tersebut tidak seharusnya hanya digunakan untuk memastikan data pelayanan masuk dan tersimpan.
Rekam medis elektronik, menurut Rano, perlu disiapkan menjadi sumber data yang bermutu dan dapat dimanfaatkan. “Rekam medis elektronik yang sekarang ini sedang kita perbaiki, sempurnakan bertahap, ayo kita siapkan supaya tidak sekadar menjadi gudang data,” ujar Rano.
Ia mendorong rumah sakit menjadikan rekam medis elektronik sebagai “bank data”. Istilah tersebut menggambarkan kebutuhan agar data yang tersimpan tidak berhenti sebagai kumpulan informasi, tetapi dapat dikelola dan dimanfaatkan untuk kepentingan pelayanan.
Bagi Rano, persoalannya bukan semata-mata apakah seluruh data sudah terisi. Kualitas data menjadi hal yang lebih penting.
Data yang terkumpul harus lengkap sekaligus rasional, logis, dan sesuai dengan fakta. Untuk itu, proses validasi perlu mendapatkan perhatian dalam pengembangan sistem rekam medis elektronik. “Sehingga data tidak saja lengkap, tapi juga rasional, logis, faktual, dan sebagainya,” katanya.
Gagasan tersebut menjadi penting ketika rumah sakit semakin bergantung pada data dalam menjalankan organisasi. Data pelayanan dapat menjadi bahan evaluasi mutu, dasar pengambilan keputusan, serta bagian dari proses pengelolaan rumah sakit.
Baca Juga: UU Perlindungan Anak di Ranah Digital; Dampak Positif terhadap Kesehatan Mental Anak Menurut Ahli
Jika data yang digunakan tidak memiliki kualitas yang memadai, teknologi yang dibangun di atasnya juga akan menghadapi keterbatasan.
Karena itu, digitalisasi tidak cukup dimaknai sebagai pengadaan aplikasi atau perangkat. Rumah sakit perlu membangun kebiasaan baru dalam mengelola informasi.
Menjaga Jejak Data
Rano juga menekankan pentingnya fitur audit trail dalam rekam medis elektronik. Fitur tersebut diperlukan agar pengelolaan data dalam sistem dapat ditelusuri. Dengan demikian, rumah sakit memiliki mekanisme untuk mengetahui bagaimana rekam medis dikelola dan siapa yang melakukan perubahan atau tindakan tertentu di dalam sistem.
“Ayo kita lengkapi rekam medis elektronik kita dengan fitur audit trail. Sehingga kita bisa mempertanggungjawabkan pengelolaan rekam medis kita,” ujarnya.
Bagi Rano, persoalan tersebut tidak sekadar berkaitan dengan teknologi. Rekam medis merupakan data yang dipercayakan pasien kepada rumah sakit. Karena itu, pengelolaannya merupakan bagian dari amanah yang harus dijaga.
Dalam perkembangan layanan kesehatan digital, semakin banyak proses pelayanan bergantung pada sistem elektronik. Kondisi tersebut membuat kebutuhan terhadap akuntabilitas data menjadi semakin penting.
Rumah sakit perlu mengetahui bahwa data yang ada di dalam sistem bukan sekadar angka atau catatan. Di balik data tersebut terdapat informasi mengenai kondisi pasien dan pelayanan yang diterimanya. Dengan begitu, kualitas rekam medis menjadi bagian dari kualitas pelayanan itu sendiri.
Pandangan Rano memperlihatkan bahwa transformasi digital memiliki dua pekerjaan sekaligus. Pertama, membangun sistem yang mampu menampung dan mengolah data. Kedua, membangun tata kelola agar data yang dihasilkan dapat dipercaya. Keduanya tidak dapat dipisahkan.

Reakreditasi sebagai Momentum
Persoalan mutu data tersebut juga berhubungan dengan proses reakreditasi rumah sakit.
Pengarah dan Penasihat IHTS 2026, Dr. dr. Ediansyah, MARS, MM, mengatakan rumah sakit perlu mengubah cara pandang terhadap reakreditasi. Proses tersebut tidak seharusnya dipandang sebagai kegiatan administratif yang hanya dilakukan ketika jadwal penilaian tiba.
“Kesiapan rumah sakit menghadapi reakreditasi tidak lagi dapat dipandang semata sebagai pemenuhan standar administratif, melainkan bagian dari upaya strategis memperkuat sistem, proses, budaya mutu, dan keberlanjutan organisasi,” ujar Ediansyah.
Perubahan kebutuhan masyarakat ikut mendorong rumah sakit melakukan pembenahan. Pasien kini menuntut pelayanan yang cepat, transparan, dan memiliki kepastian mutu.
Dalam kondisi seperti itu, pencatatan manual dan pelaporan yang terfragmentasi menjadi tantangan tersendiri.
Ediansyah mendorong penguatan SIMRS yang terintegrasi. Dengan sistem yang lebih baik, data mutu dan keselamatan pasien dapat tercatat secara lebih terstruktur dan menjadi bagian dari bukti yang mendukung proses akreditasi.
Di titik ini, digitalisasi memiliki hubungan langsung dengan budaya mutu.
Rumah sakit tidak perlu menunggu proses akreditasi untuk mulai membenahi data. Pembenahan justru harus berlangsung dalam kegiatan sehari-hari sehingga ketika proses evaluasi dilakukan, kondisi yang terlihat merupakan gambaran dari sistem yang memang berjalan.
Dengan pendekatan tersebut, reakreditasi tidak hanya menjadi tujuan administratif. Ia dapat menjadi momentum untuk melihat kembali apakah sistem rumah sakit telah berjalan sesuai kebutuhan pelayanan.
Menyatukan Data dan Layanan
Transformasi digital juga membawa rumah sakit ke persoalan integrasi data.
Dalam IHTS 2026, perkembangan digitalisasi pelayanan dan klaim BPJS Kesehatan menjadi salah satu topik yang dibahas. Direktur Teknologi Informasi BPJS Kesehatan Setiaji memaparkan arah pengembangan digitalisasi pelayanan dan klaim serta implikasinya terhadap operasional fasilitas kesehatan.
Sementara itu, Ardian Budi Permana dari Pusat Pembiayaan Kesehatan Kementerian Kesehatan membahas integrasi rekam medis elektronik dengan platform SATUSEHAT.
Pembahasan tersebut menunjukkan bahwa sistem informasi rumah sakit tidak berdiri sendiri. Data yang dihasilkan rumah sakit semakin berkaitan dengan ekosistem kesehatan yang lebih luas.
Di lapangan, integrasi tersebut tentu membawa tantangan. Rumah sakit perlu memastikan data yang tersedia dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan tanpa kehilangan kualitas dan konsistensinya.
Dalam diskusi IHTS 2026, persoalan keselarasan data klaim BPJS Kesehatan, potensi pending claim, dan interoperabilitas rekam medis elektronik menjadi bagian dari pertanyaan para peserta.
Artinya, transformasi digital tidak berhenti pada persoalan internal rumah sakit. Sistem yang dibangun perlu mampu berkomunikasi dengan sistem lain.
Kebutuhan tersebut membuat pengelolaan data menjadi semakin strategis.

Perspektif Rumah Sakit Daerah
Bagi rumah sakit di daerah, perubahan tersebut memiliki tantangan tersendiri.
Wakil Direktur Rumah Sakit Nirmala Suri Sukoharjo, Addib Rosyadi, B.Buss, melihat IHTS 2026 memberikan perspektif yang berbeda mengenai pengelolaan rumah sakit.
Menurut Addib, selama ini pembahasan manajemen rumah sakit sering kali sangat dekat dengan angka dan indikator keuangan. “Kalau dulu kita berfokus pada angka, EBITDA, dan sebagainya, tetapi pada saat ini mungkin kita akan banyak belajar ternyata ada hal lain yang harus kita perhatikan, utamanya dari organisasi, kemudian dari kesejahteraan,” kata Addib.
Bagi dia, pendekatan tersebut memberi ruang untuk melihat rumah sakit secara lebih utuh.
Rumah sakit memang membutuhkan pengelolaan keuangan yang sehat. Efisiensi juga diperlukan agar organisasi dapat bertahan. Namun, keberlangsungan rumah sakit tidak hanya ditentukan oleh angka keuangan.
Ada tenaga kesehatan yang menjalankan pelayanan. Ada organisasi yang harus dikelola. Ada pasien yang membutuhkan perhatian. Dan ada perubahan regulasi serta teknologi yang harus diikuti.
Perspektif semacam itu menjadi penting bagi rumah sakit dengan skala yang lebih kecil dan berada di daerah.
Addib berharap kegiatan seperti IHTS dapat terus diselenggarakan sehingga rumah sakit di daerah memiliki ruang untuk mendapatkan informasi mengenai perkembangan terbaru dalam dunia kesehatan.
Menurut dia, regulasi, teknologi, AI, efisiensi, dan produktivitas akan terus berkembang. Karena itu, forum semacam IHTS perlu mengikuti perubahan tersebut.
“Harapan saya di tahun yang akan datang, pasti akan banyak perkembangan-perkembangan yang terjadi di dunia kesehatan di Indonesia. Mungkin regulasi-regulasi baru dan sebagainya,” ujarnya.
Ia berharap perkembangan teknologi, termasuk AI, serta persoalan efisiensi dan produktivitas tetap menjadi bagian dari pembahasan pada penyelenggaraan berikutnya.
Teknologi yang Tetap Memanusiakan
Menariknya, pembicaraan tentang teknologi dalam IHTS 2026 tidak berhenti pada persoalan sistem dan angka.
Salah satu gagasan yang muncul adalah perlunya menjaga keseimbangan antara efisiensi organisasi dengan nilai kemanusiaan.
Gagasan tersebut dituangkan Ediansyah dalam buku Rumah Sakit yang Bernapas: Menemukan Kembali Makna di Balik Angka dan Strategi yang diluncurkan dan dibedah dalam rangkaian IHTS 2026.
Buku tersebut mengangkat paradoks yang dapat muncul dalam proses modernisasi rumah sakit. Di satu sisi, rumah sakit perlu mengejar efisiensi biaya, unit cost, tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR), dan berbagai indikator kinerja. Di sisi lain, rumah sakit tetap memiliki fungsi kemanusiaan.
Teknologi seharusnya tidak membuat hubungan antara tenaga kesehatan dan pasien semakin jauh.
Sebaliknya, teknologi idealnya membantu mengurangi beban pekerjaan administratif sehingga tenaga kesehatan memiliki lebih banyak waktu untuk memberikan perhatian kepada pasien.
Pandangan tersebut menjadi bagian penting dari gagasan transformasi yang dibawa IHTS.
Transformasi tidak sekadar membuat rumah sakit lebih digital. Transformasi diharapkan membuat organisasi lebih mampu merespons perubahan sekaligus mempertahankan tujuan utama pelayanan kesehatan.
Belajar dari Banyak Perspektif
Untuk mencapai tujuan tersebut, IHTS 2026 tidak hanya menghadirkan seminar.
Pada hari kedua, peserta mengikuti empat workshop yang membahas aspek yang berbeda dalam pengelolaan rumah sakit.
Workshop pertama membahas Strategic Governance & Business Growth, dengan fokus pada penyusunan rencana strategis, business plan, dan pengembangan produk unggulan rumah sakit.
Workshop kedua membahas Financial Sustainability & Unit Cost. Peserta mempelajari perhitungan unit cost, penetapan tarif, serta integrasi data keuangan dengan SIMRS.
Workshop ketiga mengangkat Digital Clinical Governance, termasuk tata kelola keperawatan, audit klinis digital, serta program mutu dan keselamatan pasien berbasis data.
Sementara workshop keempat membahas AI & Digital Service Innovation, termasuk pemanfaatan AI dalam layanan publik rumah sakit dan pengembangan layanan digital.
Keempat tema tersebut memperlihatkan luasnya persoalan yang dihadapi rumah sakit.
Transformasi digital tidak dapat berdiri sendiri tanpa tata kelola. Tata kelola membutuhkan pemahaman keuangan. Pengelolaan keuangan perlu didukung data. Pelayanan klinis membutuhkan sistem yang baik. Dan teknologi baru seperti AI perlu ditempatkan dalam kerangka kebutuhan organisasi.
Karena itu, forum pertemuan antarpengelola rumah sakit dapat menjadi ruang untuk bertukar pengalaman dan melihat persoalan dari perspektif yang berbeda.
Penanggung jawab IHTS 2026 sekaligus CEO PT Data Integrasi Inovasi, Fikar Ryan Wijaya, mengatakan forum tersebut dirancang untuk mempertemukan regulator, praktisi manajemen, akademisi, pakar teknologi kesehatan, dan penyedia solusi industri.
“Melalui IHTS 2026, kami tidak hanya menghadirkan seminar konseptual, tetapi juga memfasilitasi empat workshop tematik yang bersifat aplikatif dan langsung dapat diterapkan di rumah sakit masing-masing,” kata Fikar.
Dari Forum Menjadi Gerakan Perubahan
IHTS 2026 juga menghadirkan Hospital Expo yang diikuti 14 perusahaan dan vendor teknologi kesehatan. Berbagai solusi ditampilkan, mulai dari SIMRS, rekam medis elektronik, tanda tangan elektronik, alat kesehatan, farmasi dan perbekalan medis, hingga layanan asuransi dan pembayaran.
Namun, keberadaan teknologi tetap kembali pada pertanyaan mendasar: untuk apa teknologi tersebut digunakan?
Jika sistem hanya menambah jumlah aplikasi yang digunakan rumah sakit, transformasi belum tentu menghasilkan perubahan berarti.
Sebaliknya, ketika teknologi membantu menghasilkan data yang lebih baik, mempercepat pelayanan, mengurangi beban administratif, memperkuat akuntabilitas, dan membantu manajemen mengambil keputusan, di situlah transformasi mulai memiliki arti.
Gagasan Rano mengenai rekam medis sebagai bank data memperlihatkan salah satu contoh perubahan tersebut.
Data yang bermutu dapat membantu rumah sakit memahami kondisi pelayanan. Audit trail dapat memperkuat akuntabilitas. Integrasi sistem dapat mengurangi fragmentasi informasi. Sementara pemanfaatan AI membuka kemungkinan baru dalam pengembangan layanan.
Semua itu membutuhkan fondasi yang sama: tata kelola.
Rumah Sakit yang Lebih Tangguh
Pada akhirnya, transformasi digital rumah sakit bukan hanya cerita mengenai perangkat lunak, rekam medis elektronik, atau kecerdasan buatan.
Transformasi adalah perubahan cara rumah sakit memahami data, mengambil keputusan, mengelola sumber daya, dan memberikan pelayanan.
IHTS 2026 mencoba mempertemukan berbagai sisi perubahan tersebut dalam satu forum. Ada perspektif teknologi, pembiayaan, mutu, tata kelola, regulasi, hingga pengalaman rumah sakit daerah.
Di tengah perubahan yang berlangsung cepat, rumah sakit dituntut mampu beradaptasi tanpa kehilangan orientasi utamanya.
Data harus benar sebelum digunakan. Teknologi harus memberi manfaat sebelum disebut sebagai inovasi. Efisiensi perlu berjalan bersama mutu. Dan keberlanjutan organisasi harus tetap berdampingan dengan kepentingan pasien.
Bagi Rano, perjalanan menuju rumah sakit digital juga merupakan perjalanan membangun kepercayaan melalui data yang bermutu.
Bagi Adi, transformasi perlu memperluas cara pandang agar rumah sakit tidak hanya mengejar angka, tetapi juga memperhatikan organisasi dan kesejahteraan.
Sementara gagasan Ediansyah mengingatkan bahwa di balik seluruh strategi, sistem, dan angka terdapat manusia yang membuat rumah sakit tetap hidup.
Dengan perspektif tersebut, IHTS 2026 tidak sekadar menjadi forum yang mempertemukan para pengelola rumah sakit selama dua hari. Forum ini menjadi ruang untuk melihat kembali arah perubahan yang sedang berlangsung di dunia perumahsakitan Indonesia.
Teknologi akan terus berkembang. Regulasi akan berubah. Model pembiayaan akan menyesuaikan. Kebutuhan pasien pun akan terus bergerak.
Yang perlu dijaga adalah kemampuan rumah sakit untuk mengikuti perubahan tanpa kehilangan makna pelayanan.
Sebab pada akhirnya, rumah sakit bukan hanya tentang seberapa canggih sistem yang digunakan, seberapa lengkap data yang dikumpulkan, atau seberapa efisien biaya yang dikelola.
Rumah sakit adalah tentang bagaimana seluruh sistem tersebut bekerja bersama untuk memberikan pelayanan yang aman, bermutu, manusiawi, dan dapat dipercaya. Di situlah transformasi digital menemukan maknanya.
NUHA, Hadir Mendukung Perjalanan Transformasi Rumah Sakit
Sebagai bagian dari komitmennya dalam mendukung kemajuan rumah sakit di Indonesia, NUHA (PT Data Integrasi Inovasi) menghadirkan Indonesian Hospital Transformation Summit (IHTS) 2026 sebagai ruang kolaborasi bagi para pemimpin dan praktisi rumah sakit.
IHTS 2026 bukan sekadar sebuah acara, tetapi menjadi wujud nyata kepedulian NUHA terhadap berbagai tantangan yang dihadapi rumah sakit dalam meningkatkan mutu layanan, memenuhi tuntutan regulasi, serta mempercepat transformasi digital.
Melalui forum ini, NUHA berupaya mempertemukan berbagai perspektif, pengalaman, dan solusi agar rumah sakit dapat terus berkembang dan beradaptasi menghadapi perubahan di industri kesehatan.
Sebagai pengembang SIMRS NUHA, komitmen tersebut juga diwujudkan melalui pengembangan ekosistem digital yang membantu rumah sakit mengintegrasikan proses pelayanan, mengelola data dengan lebih baik, meningkatkan efisiensi operasional, serta mendukung pengambilan keputusan berbasis data. (*/ari/dm)

















