SATELITNEWS.COM, JOMBANG —Presiden Prabowo Subianto, Rais Aam PBNU terpilih KH Miftachul Akhyar, dan Ketua Umum PBNU terpilih KH Abdul Hakim Mahfudz alias Gus Kikin menyampaikan pandangan yang bermuara pada pentingnya menghadirkan kemaslahatan dan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia.
KH Miftachul menekankan kewajiban manusia memakmurkan bumi dan menyejahterakan umat. Gus Kikin menyerukan agar khidmah Nahdlatul Ulama membumi dan menyentuh rakyat kecil. Adapun Prabowo menegaskan fokus pemerintahannya adalah mengangkat sebanyak-banyaknya masyarakat Indonesia keluar dari kemiskinan.
Ketiganya menyampaikan pandangan tersebut dalam penutupan Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Senin (31/8). Prabowo bahkan menyatakan menangkap langsung apa yang disampaikan Miftachul dalam taujih penutupan muktamar.
“Tadi, pesan-pesan dari Rais Aam terpilih saya tangkap. Hari ini saya bisa langsung tangkap,” kata Prabowo.
Ia mengatakan pengentasan kemiskinan menjadi fokus dan tujuan utama strategi transformasi bangsa yang dijalankan pemerintah. “Fokus, perhatian, tujuan dari strategi transformasi bangsa kita yang saya sekarang pimpin dan kendalikan adalah bagaimana mengangkat sebanyak-banyaknya rakyat Indonesia keluar dari kemiskinan,” ujarnya.
Prabowo optimistis jutaan rakyat dapat keluar dari kemiskinan. Ia mengaku telah menghitung langkah tersebut secara cermat hingga kebutuhan anggarannya.
Baca Juga: Sah, KH Abdul Hakim Mahfudz Terpilih Jadi Ketua Umum PBNU 2026-2031
“Kita harus berani, dan saya sudah hitung dengan cermat sampai ke rupiah-rupiahnya. Saya sudah hitung, saya yakin dan percaya kita akan berhasil. Kita akan mengangkat jutaan rakyat kita keluar dari kemiskinan, dan kita sudah buktikan dalam dua tahun pertama kita,” katanya.
Sebelumnya, KH Miftachul menyampaikan taujih dengan mengingatkan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di muka bumi. Tugas itu bukan sekadar mengelola alam, tetapi juga menciptakan tata kehidupan yang tertib agar masyarakat dapat hidup tanpa saling menzalimi, termasuk antara kelompok kaya dan miskin.
“Yang ngurus bumi ini, yang membuat peraturan, tata tertib agar kehidupan menjadi tertib,” kata KH Miftachul.
Ia mengutip Surat Hud ayat 61 yang menegaskan perintah untuk memakmurkan bumi. “Pemakmuran bumi ini kita mengerahkan segenap kekuatan otak kita, pengetahuan kita, semua kita kerahkan untuk kita lahirkan kemanfaatan-kemanfaatan, kemaslahatan untuk umat secara keseluruhan,” ujarnya.
KH Miftachul mencontohkan upaya tersebut dengan menghijaukan kembali sawah dan ladang serta menghidupkan gunung-gunung yang gundul. Tanggung jawab itu juga dapat dijalankan melalui pemerintahan agar rakyat merasakan kesejahteraan.
“Karena rakyat, anak bangsa akan bisa merasakan kesejahteraan kalau ada tindakan upaya mengerahkan sekuat-kuatnya otak pikirannya, bagaimana bisa mensejahterakan umat ini,” katanya.
Baca Juga: Angka Kemiskinan di Banten Turun, Pemerintah Diminta Tak Terlena
Ia juga mengutip Surat Az-Zariyat ayat 56 mengenai tujuan manusia untuk beribadah. Karena itu, pembangunan tidak boleh berhenti pada kemegahan fisik, tetapi harus memiliki nilai ibadah dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Nilai-nilai tersebut akan diupayakan menjadi pijakan program NU pada awal abad kedua, termasuk untuk memperkuat ekonomi warga NU.
“Inilah tiga ayat menjadi dasar nanti kita upayakan sebagai program di awal abad yang kedua ini untuk bagaimana Nahdlatul Ulama betul-betul sejahtera ekonominya,” kata dia. “Semoga Bapak Presiden pun memperhatikan semua apa yang kita lakukan, demi untuk umat, demi kemaslahatan rakyat,” ujarnya lagi.
Sementara itu, Gus Kikin menekankan rekonsiliasi setelah dinamika muktamar. “Hari ini, tidak ada yang kalah, dan tidak ada yang tersingkir,” kata Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng itu.
Gus Kikin menyebut hasil muktamar sebagai kemenangan rekonsiliasi, Qonun Asasi, Nahdliyin, dan Indonesia. Kepada tokoh-tokoh yang sebelumnya berada dalam bursa kepemimpinan PBNU, ia membuka pintu untuk berjalan bersama.
“Sampai kapan pun, panjenengan semua adalah mahkota jam’iyah ini. Tak ada garis pemisah di antara kita. Tangan saya terbuka lebar, dada saya lapang, dan jiwa saya siap berjalan beriringan,” ujarnya.
Gus Kikin juga meminta Qonun Asasi menjadi pedoman dalam menjalankan organisasi, bukan sekadar dokumen yang disimpan. “Jangan biarkan Qonun Asasi menjadi pajangan di lemari organisasi, tetapi jadikanlah ia kompas moral yang tak pernah bergeser, pelita yang menuntun ikhtiar di daerah, dan benteng penjaga dari godaan pragmatisme,” kata dia.
Menurut Gus Kikin, keluasan ilmu NU harus diterjemahkan menjadi khidmah yang menyentuh kehidupan masyarakat. Fatwa dan kerja organisasi tidak boleh berhenti pada tataran teori, tetapi harus hadir di tengah rakyat kecil dan kaum mustad’afin. (rmg/xan)























