SATELITNEWS.COM, LEBAK — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lebak mencatat 85 kasus baru HIV hingga Agustus 2026. Kasus tersebut ditemukan di 24 kecamatan, dengan tiga orang di antaranya meninggal dunia. Secara kumulatif, jumlah orang dengan HIV (ODHIV) yang tercatat di Kabupaten Lebak hingga Agustus 2026 mencapai 788 orang.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Lebak, Nining Tilawah, mengatakan jumlah kasus baru HIV pada 2026 mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. “Jumlah kumulatif sampai dengan Agustus 2026 sebanyak 788 ODHIV. Untuk tahun 2026 sampai Agustus, ditemukan 85 kasus HIV. Jika dibandingkan dengan tahun 2025, ditemukan 126 kasus HIV,” kata Nining kepada wartawan, Rabu (23/9/2026).
Dari 85 kasus baru tersebut, Kecamatan Rangkasbitung mencatat temuan terbanyak dengan sembilan kasus atau sekitar 10,5 persen dari total kasus baru tahun ini. “Untuk tahun 2026 sampai bulan Agustus, kasus HIV tersebar di 24 kecamatan. Yang tertinggi ada di Kecamatan Rangkasbitung sebanyak sembilan kasus atau 10,5 persen dari 85 kasus HIV yang ditemukan tahun ini,” ujarnya.
Menurut Nining, tingginya temuan kasus di Rangkasbitung tidak terlepas dari karakteristik wilayah tersebut yang memiliki aktivitas dan mobilitas masyarakat cukup tinggi. Selain itu, perilaku seksual berisiko serta masih terbatasnya pemahaman sebagian masyarakat mengenai HIV menjadi faktor yang perlu mendapat perhatian.
Namun, Nining menegaskan, jumlah kasus yang ditemukan melalui pemeriksaan tidak serta-merta menggambarkan jumlah penularan baru yang sebenarnya. Angka tersebut juga dipengaruhi oleh cakupan pemeriksaan atau skrining HIV di masyarakat. Semakin luas pemeriksaan dilakukan, semakin besar peluang kasus yang sebelumnya belum diketahui dapat ditemukan sehingga penderita bisa segera mendapatkan penanganan.
“Selain itu, stigma terhadap orang dengan HIV juga membuat seseorang takut melakukan tes atau berobat. Di sisi lain, tingginya kasus yang ditemukan juga dipengaruhi oleh semakin aktifnya pemeriksaan HIV di fasilitas kesehatan,” jelasnya.
Baca Juga: Abu GAK Mengintai Gangguan Pernapasan, Warga Lebak Diminta Tak Abai
Stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV masih menjadi salah satu tantangan dalam penanganan HIV. Perlakuan diskriminatif dapat membuat seseorang enggan membuka statusnya, menjalani pemeriksaan lanjutan, maupun mengikuti pengobatan secara rutin.
Dinkes Lebak juga mencatat adanya kematian akibat HIV/AIDS. Secara kumulatif, sebanyak 48 orang tercatat meninggal dunia akibat HIV/AIDS di Kabupaten Lebak. Sementara sepanjang Januari hingga Agustus 2026, terdapat tiga kematian. “Sejauh ini sudah ada 48 orang meninggal akibat HIV/AIDS di Kabupaten Lebak. Untuk tahun 2026 ada tiga orang,” ungkap Nining.
Untuk menekan penularan HIV, Dinkes Lebak mendorong masyarakat melakukan pemeriksaan sedini mungkin dan tidak menunggu munculnya gejala. Edukasi mengenai pencegahan, deteksi dini, pengobatan, serta pendampingan bagi ODHIV juga terus diperkuat.
Nining menilai upaya penanggulangan HIV membutuhkan keterlibatan lintas sektor. Selain tenaga kesehatan, pemerintah desa, sekolah, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA), dan berbagai pihak terkait dinilai memiliki peran penting dalam pencegahan dan penanganan HIV/AIDS.
“Perlu memperkuat pencegahan dan penanganan HIV/AIDS melalui edukasi, pemeriksaan dini, peningkatan layanan kesehatan, serta pengobatan dan pendampingan berkelanjutan. Upaya ini perlu melibatkan KPA, Dinas Kesehatan, pemerintah desa, sekolah dan pihak terkait,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya penyampaian informasi yang benar mengenai HIV kepada masyarakat. Pengetahuan yang memadai diharapkan dapat mendorong warga melakukan pemeriksaan tanpa rasa takut sekaligus mengurangi stigma terhadap ODHIV.
Baca Juga: Cegah Hantavirus, Dinkes Lebak: Tutup Akses Tikus
“Stigma dan diskriminasi juga harus dikurangi agar masyarakat berani memeriksakan diri dan menjalankan pengobatan. Penanganan HIV perlu dilakukan bersama-sama dengan memastikan akses informasi, pemeriksaan, pengobatan dan dukungan bagi masyarakat,” tegasnya.
Nining berharap kesadaran masyarakat terhadap pencegahan dan pemeriksaan HIV terus meningkat. Deteksi dan penanganan lebih awal memungkinkan ODHIV memperoleh pengobatan serta pendampingan secara berkelanjutan.
“Dinkes Lebak perlu terus memperkuat edukasi, pencegahan, pemeriksaan dan pendampingan HIV/AIDS. Harapannya masyarakat semakin sadar, berani melakukan pemeriksaan dan tidak memberikan stigma kepada orang dengan HIV. Dengan kerja sama semua pihak, penularan HIV dapat ditekan dan masyarakat Lebak menjadi lebih sehat,” pungkasnya. (mulyana)

















