SATELITNEWS.COM, TANGERANG – Polemik yang sempat mencuat terkait GKPI Rajeg mendapat perhatian dari Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hak Asasi Manusia (HAM) Banten, Menase Kadepa. Ia bertemu dengan Bupati Tangerang, Moch. Maesyal Rasyid, serta perwakilan jemaat GKPI dalam pertemuan di Ruang Wareng, Sekretariat Daerah Kabupaten Tangerang, Selasa (6/10).
Dalam pertemuan tersebut, Menase menyebut kesalahpahaman antara masyarakat Rajeg dan GKPI Rajeg telah terselesaikan dengan baik. Ia juga mengatakan keputusan yang diambil Pemerintah Kabupaten Tangerang telah diterima oleh kedua belah pihak.
“Pak Bupati sangat cepat tanggap, artinya sudah ambil langkah, sikap yang tegas dan selesaikan tuntas. Dan hari ini saya terima laporan yang jelas dan berkomitmen, dia sudah selesai masalahnya. Sudah. Selesai,” ujar Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hak Asasi Manusia (HAM) Banten, Menase Kadepa, kepada Satelit News, Selasa (6/10).
Bahkan, Menase menilai kerukunan antarumat beragama di Kabupaten Tangerang sangat menjunjung tinggi nilai Bhinneka Tunggal Ika dan dapat menjadi contoh bagi daerah-daerah lain di Indonesia.
Menurutnya, meskipun masyarakat Kabupaten Tangerang sangat heterogen, baik dari sisi suku bangsa maupun agama, warga tetap dapat hidup rukun secara berdampingan. Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang dapat memecah belah dan beredar luas di media sosial.
“Kerukunan di Tangerang itu, wow! Sangat luar biasa. Indonesia harus mengambil contoh dari Tangerang sini. Kalau ada informasi di luar sana atau di medsos yang membuat melenceng, itu tidak benar. Karena saya hadir langsung di sini, Bupatinya juga sangat cepat tanggap,” katanya.
Baca Juga: Diikuti Ribuan Anak, Wabup Intan Apresiasi Tarbiyah Manasik Haji IGTKI
Menase mengaku sangat mengapresiasi langkah-langkah yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Tangerang dalam menyikapi adanya kesalahpahaman antarumat beragama di Kabupaten Tangerang. Ia juga menilai masyarakat Kabupaten Tangerang sudah sangat dewasa dalam menyikapi perbedaan.
“Toleransi di Kabupaten Tangerang sangat terjaga dengan baik. Saya juga sangat mengapresiasi masyarakat di sini yang sangat dewasa, semua sudah jelas aman, damai, dan tertib,” katanya.
Pihaknya pun mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Tangerang agar terus mempertahankan kondusivitas dan keamanan wilayah. Menurutnya, keberagaman yang terjaga dengan baik merupakan kekuatan sekaligus cerminan Indonesia dalam skala kecil.
“Tangerang itu damai, aman dan tenteram. Daerah lain harus belajar dari Tangerang,” pungkasnya.
Di tempat yang sama, Bupati Tangerang, Moch. Maesyal Rasyid, menambahkan bahwa kerukunan antarumat beragama di Kabupaten Tangerang memang telah terjaga dengan baik. Bahkan, keberadaan tempat ibadah yang berdampingan di sejumlah wilayah Kabupaten Tangerang telah menjadi hal yang biasa di tengah masyarakat.
“Masjid bersebelahan dengan gereja itu bukan hal yang aneh di beberapa wilayah Kabupaten Tangerang. Semua unsur umat beragama bisa hidup rukun dan saling bertoleransi,” ujar Bupati Maesyal.
Baca Juga: APBD Perubahan Tangerang Dipangkas Rp434,21 Miliar, Program Prioritas Tetap Jalan
Ia menyebut Kabupaten Tangerang merupakan miniatur Indonesia karena dihuni masyarakat dari berbagai suku dan agama sejak lama. Mereka hidup rukun dan berdampingan satu dengan yang lainnya.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten Tangerang tidak akan membiarkan setiap persoalan yang berpotensi mengganggu kerukunan berlarut-larut. Setiap persoalan yang terjadi senantiasa direspons cepat melalui komunikasi dan penyelesaian bersama Forkopimda serta unsur terkait lainnya.
“Segala suku dan agama ada di Kabupaten Tangerang. Kita hidup rukun dan saling bertoleransi. Ketika ada permasalahan, kita langsung diskusi dan duduk bersama. Kita respons cepat agar persoalan tidak melebar dan tidak berkepanjangan,” tegasnya.(alfian/aditya)




















