SATELITNEWS.COM, SERANG – Serapan pupuk bersubsidi di Provinsi Banten, hingga pertengahan Oktober 2026, masih rendah. Hal itu terjadi karena beberapa hal, salah satunya musim kemarau panjang, dan menyebabkan petani tidak menggarap lahan mereka.
Berdasarkan data dari Dinas Pertanian (Distan) Provinsi Banten, stok pupuk tahun 2026 sebanyak 149.499 ton, terdiri dari pupuk Urea sebanyak 82.729 ton, Pupuk Nitrogen Fosfor dan Kalium (NPK) sebanyak 65.000 ton, dan pupuk Organik sekira 6.857 ton.
Ratusan ribu ton pupuk itu, tersebar di delapan kabupaten/kota dan stoknya masih melimpah. Buktinya, berdasarkan serapan pupuk bersubsidi tertanggal 13 Oktober 2026, di Kabupaten Pandeglang stok pupuk Urea sekira 30.388 ton dan baru terserap 11.034 ton atau sekira 36 persen.
Kemudian pupuk NPK sebanyak 23.352 ton dan baru terserap sekira 9.460 ton atau sekira 41 persen. Sedangkan pupuk Organik tersedia sebanyak 870 ton dan baru terserap sekira 176,7 ton atau sekira 20 persen.
Di Kabupaten Lebak, stok pupuk Urea sebanyak 21.778 ton dan baru terserap sebanyak 6.364,6 ton atau sekira 29 persen. Kemudian stok pupuk NPK yang tersedia sebanyak 19.507 ton dan baru terserap sebanyak 9.367,3 ton atau sekira 48 persen. Sedangkan stok pupuk Organik tersedia sebanyak 261 ton dan baru terserap sebanyak 26,9 ton atau sekira 10 persen.
Di Kabupaten Tangerang, stok pupuk Urea yang disediakan sebanyak 10.752 ton dan baru terserap sebanyak 5.901 ton atau sekira 55 persen. Sedangkan stok pupuk NPK yang disediakan sebanyak 7.609 ton dan baru terserap sebanyak 4.759,5 ton atau sekira 63 persen.
Baca Juga: Wagub Dimyati Paparkan Investasi Banten, Pengamat: Harus Berdampak kepada Masyarakat
Kemudian stok pupuk Organik, tersedia sebanyak 81 ton dan baru terserap sebanyak 15,6 ton atau sekira 19 persen.
Di Kabupaten Serang, stok pupuk Urea yang tersedia sebanyak 17.026 ton dan baru terserap sebanyak 8.461,3 ton atau sekira 50 persen. Kemudian stok pupuk NPK disediakan sebanyak 12.248 ton dan baru terserap sebanyak 7.684,5 ton atau sekira 63 persen.
Sedangkan pupuk Organik, disediakan sebanyak 527 ton dan baru terserap sebanyak 115,1 ton atau sekira 22 persen.
Di Kota Cilegon, stok pupuk Urea yang disediakan sebanyak 365 ton dan baru terserap sebanyak 175,5 ton atau sekira 48 persen. Kemudian stok pupuk NPK yang disediakan sebanyak 335 ton dan baru terserap sebanyak 202,2 ton atau sekira 60 persen. Sedangkan stok pupuk Organik, tidak dialokasikan.
Di Kota Serang, stok pupuk Urea yang disediakan sebanyak 2.420 ton dan baru terserap sebanyak 1.504,2 ton atau sskira 62 persen.
Kemudian stok pupuk NPK yang disediakan sebanyak 1.949 ton dan baru terserap sebanyak 1.609,8 ton atau sekira 83 persen. Sedangkan stok pupuk Organik yang disediakan sebanyak 31 ton dan baru terserap sebanyak 16 ton atau sekira 52 persen.
Baca Juga: Minim Pengawasan, Komponen Alat Pendeteksi Tsunami di Banten Kerap Hilang
Sedangkan untuk Kota Tangerang dan Kota Tangerang Selatan (Tangsel), tidak dialokasikan untuk jenis pupuk Urea, NPK, maupun pupuk Organik.
Secara keseluruhan, stok pupuk Urea yang disediakan Pemprov Banten sebanyak 82.729 ton dan baru terserap sebanyak 33.441 ton atau sekira 40 persen.
Sedangkan untuk jenis pupuk NPK yang disediakan, sebanyak 65 ribu ton dan baru terserap sebanyak 33.073,5 ton atau sekira 51 persen. Sedangkan jenis pupuk Organik yang disediakan sebanyak 1.770 ton dan baru terserap sebanyak 350,4 ton atau sekira 20 persen.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Distan Provinsi Banten, Saiful Bahri Maemun mengakui, masih rendahnya serapan pupuk bersubsidi di Provinsi Banten, atau tepatnya di semua kabupaten kota di Banten.
“Ya penyebabnya ada beberapa, seperti petani belum mengolah lahan karena kemarau yang panjang, kemampuan modal petani untuk menebus pupuk, data luas lahan yang dimiliki atau digarap oleh petani tidak sesuai dengan E-RDKK (Elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok),” katanya, saat berbincang dengan satelitnews.com, Rabu (14/10/2206).
Saiful memastikan, pihaknya akan terus mengoptimalkan pendistribusian pupuk bersubsidi, agar para petani bisa mendapatkannya dengan mudah. Dengan begitu, serapan pupuk bersubsidi disemua wilayah di Provinsi Banten, bisa terus dimaksimalkan.
“Kita lakukan dengan para penyuluh memberikan informasi, agar petani dan para poktan agar segera menebus pupuk dalam rangka peningkatan produksi padi,” ujarnya.
Saiful mengingatkan kepada kelompok tani (poktan), atau gabungan kelompok tani (gapoktan), agar bisa melakukan pendataan dengan baik dan benar. Tujuannya, agar data yang masuk merupakan petani yang sebenarnya, sehingga pupuk bersubsidi ini bisa tepat sasaran.
Apabila ada poktan atau gapoktan yang bermain dengan cara memalsukan nama petani, memasukan nama selain petani, dan tindakan kecurangan lainnya akan segera ditindaklanjuti sesuai aturan perundang-undangan yang berlaku.
“Nah ini harus segera diperbaiki, kalau dia bukan petani tidak boleh menebus pupuk bersubsidi, dan apalabila ada petani baik pemilik atau penggarap yang belum mendapat alokasi pupuk subsidi penyuluh wajib untuk memasukkan petani tersebut kedalam kelompok yang ada atau kakau banyak yang belum mendaptkan bisa membentuk poktan baru agar mereka mendapat pupuk bersubsidi,” tegasnya.
Saiful menjelaskan, secara keseluruhan stok pupuk bersubsidi yang di dapat Pemprov Banten tahun 2026 mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Rinciannya, kata dia, untuk alokasi Urea dari 82.604 ton menjadi 82.729.
“Kemudian alokasi NPK tahun sebelumnya sebanyak 58.129 ton, tahun 2026 naik menjadi 65.000 ton. Sedangkan alokasi pupuk Organik sebelumnya 6.857 ton, ditahun 2026 turun menjadi 1.770 ton,” pungkasnya.
Fahruroji, petani asal Desa Sangiang, Kecamatan Pamarayan, mengaku sempat kesulitan membeli pupuk ditingkat agen.
Hal itu terjadi karena, namanya sebagai petani tidak dimasukan oleh Poktan setempat. Setelah beradu argumen dengan pihak agen, dirinya baru bisa membeli pupuk bersubsidi.
“Awalnya enggak bisa beli, namanya enggak ada. Saya juga aneh, pas saya periksa, ternyata nama yang dikasih oleh Poktan kebanyakan bukan petani. Tolong ini juga dibenahi, karena kami yang petani sebenarnya sulit mendapatkan pupuk,” imbuhnya. (adib)

















