SATELITNEWS.COM, TANGSEL–Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menggelar sarasehan di Hotel Santika BSD, Serpong, pada Kamis (29/10) untuk mengidentifikasi kendala sekaligus membina 150 sekolah yang vakum dari program Adiwiyata. Langkah ini diambil guna membedah akar persoalan yang membuat institusi pendidikan berhenti menjalankan gerakan lingkungan.
Wakil Wali Kota Tangerang Selatan, Pilar Saga Ichsan, menyatakan bahwa sosialisasi khusus ini ditujukan bagi sekolah-sekolah yang pernah meraih predikat Adiwiyata namun kini tidak aktif.
“Hari ini adalah sosialisasi Adiwiyata kepada sekolah-sekolah yang pernah meraih gelar Adiwiyata, namun saat ini kondisinya mereka vakum, tidak melanjutkan dengan berbagai macam alasan,” ujar Pilar dalam acara tersebut.
Dalam forum itu, pihak sekolah memaparkan langsung berbagai hambatan di lapangan. Pertemuan tersebut sekaligus menjadi wadah bagi pemerintah daerah untuk merumuskan solusi konkret agar gerakan peduli lingkungan kembali berjalan.
Berdasarkan inventarisasi pemerintah, kemandekan program Adiwiyata dipicu oleh beberapa kendala utama. Faktor tersebut mencakup minimnya tenaga pendidik penggerak, rotasi guru, serta masalah fasilitas dan operasional sekolah.
“Misalkan operasional, masalah kekurangan guru Adiwiyatanya ya, pendidiknya, lalu penggeraknya di sekolah, fasilitas, dan lain sebagainya. Maka dari itu, hari ini kita bertukar pikiran, silaturahmi, apa masukan dari mereka, apa yang kurang yang bisa kita support,” paparnya.
Pilar menegaskan, kesadaran menjaga lingkungan wajib ditanamkan sejak usia dini melalui pembiasaan di rumah dan sekolah. Pola hidup ramah lingkungan perlu digalakkan mulai jenjang pendidikan anak usia dini hingga sekolah menengah pertama.
Baca Juga: Minimarket di Rest Area Tol Serpong-Ulujami Terbakar, Kerugian Ditaksir Rp2 Miliar
Pemerintah daerah berharap pembinaan intensif ini mampu melahirkan generasi masa depan yang peduli terhadap kelestarian alam. Kesadaran ekologis dipandang sebagai fondasi penting yang harus dibentuk secara konsisten sejak bangku sekolah.
“Karena bagaimanapun juga, pendidikan anak-anak generasi masa depan kita harus dimulai dari sekolah, dari rumah dan sekolah, dari mulai PAUD, SD, SMP, supaya ke depan kita menghasilkan masyarakat yang mencintai dan pro terhadap lingkungan hidup,” katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Tata Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang Selatan, Doni Herawan, merinci bahwa sasaran pembinaan mencakup 150 sekolah dari tingkat dasar hingga menengah pertama, baik negeri, swasta, maupun di bawah naungan Kementerian Agama.
Doni menjelaskan, ratusan sekolah tersebut sebelumnya pernah mengikuti program Adiwiyata tetapi berhenti di tengah jalan. Sebagian instansi sempat mengikuti evaluasi tingkat kota atau provinsi, namun tidak melanjutkan ke tingkat nasional.
“Yang sekarang tuh 150 sekolah dari SD sampai SMP. SMA-nya kan masih kewenangan provinsi. Kalau total seluruhnya kan ratusan. Nah ini nanti kita coba lakukan pembinaan, kendalanya apa, masalahnya gimana. Kalau misalkan administrasi atau hal-hal lain kan nanti kita bantu,” jelas Doni.
Ia menambahkan, hambatan operasional tidak selalu bersumber dari masalah anggaran. Pergantian kepala sekolah dan perpindahan guru penggerak terbukti sangat memengaruhi kelangsungan program di satuan pendidikan.
Baca Juga: Korban Tewas Akibat Ledakan Pasar Cimanggis Ciputat Bertambah Satu
Oleh karena itu, keberhasilan Adiwiyata sangat bergantung pada komitmen pimpinan sekolah dan pembentukan kebiasaan harian siswa, bukan pada kemegahan fasilitas atau besarnya biaya.
Penerapan Adiwiyata idealnya terintegrasi dalam aktivitas harian siswa sejak tiba hingga pulang sekolah. Kebiasaan sederhana seperti membawa botol minum sendiri dan menjaga kebersihan ruang kelas harus melekat sebagai karakter.
“Jadi bukan harus bagus, harus segala macam, enggak. Yang penting kayak bawa tumbler, itu kan cuma kebiasaan. Kalau itu dilakukan setiap hari sama siswa kan artinya dia bisa dibawa ke rumah kan lebih bagus lagi, buang sampah, atau juga makan,” ungkap Doni.
Pemerintah optimistis sekolah yang konsisten menerapkan pembiasaan tersebut dapat menjadi teladan bagi institusi lain di Tangerang Selatan. Target utamanya adalah memastikan seluruh sekolah binaan mengamalkan nilai ekologis, bukan sekadar mengejar penghargaan simbolis. (eko)

















