SATELITNEWS.ID, SERANG–Beberapa program kebudayaan yang ditawarkan oleh duet ‘Aje Kendor’ belum terealisasi dengan maksimal. Padahal, sudah hampir dua tahun duet tersebut memimpin Kota Serang sejak dilantik pada Desember 2018.
Presidium Gerakan Pemuda Kota Serang, Ahmad Fauzan, mengatakan sampai saat ini pihaknya masih belum melihat realisasi dari visi kebudayaan, yang diusung oleh Syafrudin-Subadri. “Yah bisa dilihat, janji politik mereka kan supaya nilai-nilai kebudayaan masyarakat Kota Serang dapat semakin kuat. Namun ternyata realisasinya belum terlihat kan di usia kepemimpinan yang hampir dua tahun ini,” ujarnya kepada awak media, Selasa (10/11).
Ia mencontohkan, salah satu program yang sampai saat ini belum terealisasi adalah Selasa Bebasan. Padahal keduanya pada awal kepemimpinan selalu menggadang-gadang program itu sebagai pengejawantahan visi Berbudaya.
“Sekarang kita tidak tahu, pembahasan Selasa Bebasan ini sudah sampai mana? Kapan diterapkan? Seperti apa teknisnya? Dengan apa aturan Selasa Bebasan ini diatur? Kan ini seperti belum dibahas. Jadi tidak jelas arahnya,” tutur mantan Ketua BEM FKIP Untirta itu.
Ia mengatakan bahwa salah satu program yang telah terealisasi yakni dibuatnya motif batik khas Kota Serang. Motif tersebut juga telah dibuat Perwal sebagai landasan hukumnya. Namun sayang, sosialisasi dari motif batik itu tidak maksimal.
“Seharusnya sosialisasi itu digencarkan. Kita punya beberapa motif batik, namun kalau tidak disosialisasikan mah sama saja bohong. Masyarakat jarang yang tahu bahwa Kota Serang sudah punya batik,” ungkapnya.
Baca Juga: Festival Cisadane 2026 Dimulai, Pemkot Tangerang Targetkan Dampak Pariwisata dan UMKM
Menurut Fauzan, seharusnya Pemkot Serang mulai menyimbolkan dan menggunakan motif batik Kota Serang di setiap kegiatan-kegiatan yang dilakukan. Dengan demikian, masyarakat menjadi terbiasa dengan motif tersebut.
“Penggunaan batik kan bukan hanya dengan baju. Misalkan di banner ucapan dan di median-median lainnya yang dapat diselipkan motif batik tersebut. Sehingga masyarakat ‘ngeh’ dengan motifnya,” jelasnya.
Hal tersebut diakui oleh Walikota Serang, Syafrudin. Menurutnya, beberapa program kebudayaan yang pihaknya canangkan memang masih belum terealisasi. Salah satunya terkait dengan Selasa Bebasan atau sehari penuh berbahasa Bebasan.
“Selasa Bebasan saat ini masih dibahas. Jadi itu belum. Selasa Bebasan itu mudah-mudahan dalam waktu dekat ini bisa direalisasikan, masih dalam tahap pembahasan,” ujarnya.
Terkait dengan batik Kota Serang, Syafrudin mengaku bahwa pihaknya saat ini tinggal melakukan pencetakan batik saja. Ia menargetkan motif batik dapat tersosialisasikan pada Desember mendatang.
“Batik sudah kami tanda tangani. Tinggal dicetak saja motif batiknya. Kami menargetkan Desember itu sudah selesai melakukan pencetakan motif batik tersebut,” tandasnya. (dzh/bnn)
























