SATELITNEWS.ID, PANDEGLANG—Meski sudah meninjau saluran irigasi Cilancar II yang jebol, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruangan (DPUPR) Pandeglang tak bisa cepat melakukan perbaikan karena terkendala anggaran.
Kepala DPUPR Pandeglang, Asep Rahmat mengatakan, pihaknya sudah menerima informasi bahwa Irigasi Ciracas II jebol. Bahkan dia mengaku telah memerintahkan Kepala Bidang (Kabid) Suber Daya Air (SDA) untuk melakukan pengecekan langsung ke lapangan, dikarenakan perbaikan Irigasi Ciracas II yang jebol merupakan kewenangan DPUPR Pandeglang.
“Iya itu kewenangan kami. Saya sudah memerintahkan Kabid SDA untuk mengecek kondisinya langsung di lapangan,” kata Asep saat dikonfirmasi melalui telepon seluler, Selasa (18/5).
Namun sepertinya DPUPR tak bisa bergerak cepat dengan membangun atau memperbaiki irigasi yang jebol itu secara permanen. Sebab Asep mengaku, bahwa pihaknya tak memiliki anggaran darurat becana. “Di DPUPR tak ada anggaran, karena kami tak punya anggaran tanggap darurat,” ujarnya.
Asep memastikan agar para petani tak gagal tanam, maka jebolnya irigasi itu bakal ditangani sementara bersama masyarakat atau petani yang terkena dampaknya.
“Kemarin (Senin) itu sudah ada laporannya, bahwa nanti ditangani sementara bersama masyarakat. Kami juga sudah berkoordinasi dengan Camat,” tegasnya.
Supaya ditangani cepat secara permanen, Asep sudah mengusulkan ke Bupati Pandeglang agar pembangunan irigasi jebol itu diprioritaskan. “Sudah mulai sih tadi (Selasa) penanganan sementara oleh masyarakat. Namun karena penanganan sementara, kami usulkan juga ke pimpinan (bupati) untuk ada penanganan permanen dan jadi skala prioritas,” imbuhnya.
Asep pun pesimis jika pembangunan itu bisa dilaksanakan pada APBD murni Tahun Anggaran (TA) 2021. Pasalnya, APBD murni sudah terkunci. “Paling di perubahan anggaran yang ada peluangnya. Tapi kalau perubahan anggaran terlalu lama, mudah-mudahan bisa cepat, kan TAPD (Tim Anggaran Pemerintah Daerah) yang lebih tahu,” tandasnya.
Asep sangat berharap irigasi itu menjadi prioritas, karena sekarang sudah musim tanam. Kata dia, jika tak segera ditangani bakal berdampak kerugian bagi petani. “Makanya kami juga berupaya agar bisa ditangani di musim tanam ini. Sekarang ditangani sementara,” ungkapnya.
Terpisah, Ketua Kelompok Tani (Gapoktan) Tirtasari Desa Kadubelang, Abdul Hadi mengungkapkan, pihak DPUPR Pandeglang tak memenuhi janjinya bakal ke lokasi lagi untuk membantu memperbaiki sementara irigasi yang jebol tersebut.
“Kemarin informasinya pihak dinas mau kesini lagi, namun kami tunggu-tunggu hingga saat ini tak kunjung datang membantu kami melakukan perbaikan sementara,” katanya.
Hadi menegaskan, perbaikan sementara saat ini sedang berjalan dan murni gotong royong para petani di tiga desa yakni Desa Kadubelang, Medong dan Desa Sukamulya. Begitu juga soal anggaran dipastikannya, hasil swadaya para petani penggarap.
“Kami lakukan swadaya, karena antisipasi irigasi dan jalan tambah amblas. Kalau menunggu bantuan dari pihak DPUPR masih lama. Padahal ada dana di Badan Penanggulangan Becana Daerah (BPBD) yang sifatnya bisa sementara,” tandasnya.
Diberitakan sebelumnya, petani di tiga desa yakni, Kadubelang, Sukamulya, dan Medong Kecamatan Mekarjaya, ketar ketir karena jebolnya saluran irigasi Cilancar II, sehingga pesawahan mereka dengan luas sekitar 9 hektar tak teraliri air. Alhasil, kini mereka terancam gagal tanam baik padi maupun sayuran. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pandeglang pun diminta segera melakukan perbaikan jebolnya saluran irigasi tersebut. (nipal/aditya)