SATELITNEWS.ID, PANDEGLANG–Masih minimnya pelayanan kesehatan di Kabupaten Pandeglang, baik itu di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Berkah maupun di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), khususnya persoalan ketersediaan obat bagi pasien BPJS, membuat kesal dan gereget Oman Abdurohman, Ketua Fraksi PPP Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pandeglang.
Menurut Oman, sudah terjadi sejak dulu, bahwa pasien BPJS yang seharusnya mendapat fasilitas berobat secara gratis, namun dipaksa harus merogoh kantongnya untuk membeli obat yang dibutuhkan pasien ke apotek swasta yang berada di luar tanggungan BPJS. Dikarenakan ketersediaan obat yang dibutuhkan pasien tersebut, tidak tersedia di apotek Rumah Sakit.
“Persoalan paling mendasar terhadap akses kesehatan di Kabupaten Pandeglang ini, salah satunya yaitu minimnya fasilitas kesehatan, serta kurang maksimalnya pelayanan, khususnya pelayanan kesehatan terhadap pasien-pasien BPJS. Seperti halnya ketersediaan obat bagi pasien BPJS, yang sering kali tidak ada. Sehingga pasien terpaksa harus membeli obat ke apotek luar RS. Padahal obat yang dibutuhkan, bukanlah obat yang diluar tanggungan BPJS,” kata Oman Abdurohman, Kamis (10/6).
Oman juga menyikapi persoalan tingginya angka stunting serta angka kematian ibu dan anak saat melahirkan. Ditambah kurang responsifnya penanganan penyakit menular di wilayah Kabupaten Pandeglang ini, seakan-akan menjadi catatan tersendiri bagi para pemangku kebijakan di bidang kesehatan di Pandeglang.
“Entah apa yang terjadi, yang pasti selama ini persoalan itu ibarat sebuah penyakit akut yang tidak bisa diobati, yang pada akhirnya terus-terusan begitu, tanpa mencari solusinya. Padahal beberapa program penangan penyakit stunting, maupun program antisipasi kematian ibu dan anak saat melahirkan, tiap tahun selalu ada, baik itu dari pusat, provinsi maupun daerah,” terangnya.
Masih menurut Politisi PPP yang lolos sebagai legislator dari Daerah Pemilihan (Dapil) II ini, juga merasa aneh terkait manajemen yang ada di RSUD Berkah. Karena dari informasi yang didapatnya, bahwa RSUD Berkah memiliki piutang terhadap supplier obat, sehingga pihak supplier mulai mengurangi suplai obat-obatan tersebut ke RSUD Berkah.
Baca Juga: Di DPRD Pandeglang, Abuya Muhtadi Cidahu Turun Langsung Deklarasi Menolak LGBT
“Informasi yang kita dapat sih, katanya RSUD Berkah itu menunggak pembayaran untuk pengadaan obat pada pihak supplier, baik itu tunggakan dari pasien BPJS maupun tunggakan dari pasien umum. Sehingga wajar bila ketersediaan obat di RSUD tersebut menjadi berkurang, atau sering tidak ada ketika pasien BPJS butuh obat-obat tertentu,” pungkasnya. (nipal/aditya)
























