SATELITNEWS.ID, PANDEGLANG–Jembatan gantung yang melintasi Sungai Ciliman sepanjang 28 meter, di Kampung Keramat, Desa Keramat Manik, Kecamatan Angsana, Kabupaten Pandeglang, memprihainkan dan mengancam keselamatan masyarakat.
Informasi yang dihimpun, sudah puluhan tahun jembatan itu tak kunjung diperbaiki atau direhab, baik oleh pemerintahan desa setempat maupun Pemkab Pandeglang.
Jembatan dengan lebar sekitar 1,5 meter dan panjang 28 meter itu, hanya menggunakan material kayu, potongan bambu dan diikat tali plastik saja.
Jembatan yang membentang diatas Sungai Ciliman itu, menghubungkan antar desa dan kecamatan, yakni Desa Keramat Manik Kecamatan Angsana, dan Desa Rancanini Kecamatan Sukaresmi.
Seorang warga, Wardi (50) mengatakan, jembatan di kampungnya itu sudah lama rusak. Bahkan kondisi saat ini ungkapnya, paku penguat pun sudah nampak terlihat, tali penyangga yang hampir putus dan kayu serta bambu-pun kerap kali terlepas dari ikatan, saat warga melintas menggunakan kendaraan roda dua.
“Dulu alasnya pakai papan kayu, sekarang pakai bambu, kita perbaiki secara swadaya. Pokoknya sangat membahayakan, apalagi kalau hujan,” kata Wardi, Jumat (10/12/2021).
Katanya, jembatan tersebut dibangun tahun 2013 silam. Kerusakan jembatan itu, akibat lapuk dimakan usia. Karena akses lain sangat jauh, warga setempat yang mayoritas petani itu terpaksa melintas di jembatan yang sudah hampir amruk tersebut, karena merupakan akses terdekat menuju jalan utama.
“Jembatan itu merupakan akses utama untuk perekonomian masyarakat. Selain itu juga, ada anak sekolah yang setiap hari melintas. Ada akses lain, cuma jauh sekitar 5 kilometer. Kalau lewat sini, sekitar 2 kilometer untuk ke jalan utama,” tambahnya.
Warga berharap, pemerintah segera memperbaiki jembatan gantung itu. Selain untuk menunjang perekonomian masyarakat, jembatan itu juga merupakan akses utama para siswa yang hendak ke sekolah.
“Kami berharap, segera diperbaiki,” harapnya.
Terpisah, Kades Keramat Manik, Enung Nurjaya membenarkan kondisi jembatan itu. Ia juga menyebutkan, jembatan gantung itu merupakan penunjang perekonomian masyarakatnya.
“Jembatan itu akses terdekat, dan akses penunjang perekonomian masyarakat. Selain itu juga, ada anak sekolah yang sering lewat sini. Kalau tidak lewat sini, membutuhkan waktu sekitar 1 jam, kalau lewat sini hanya sekitar 10 menit saja dari kampung,” ungkap ENung.
Ia mengaku, sudah mengajukannya ke pihak terkait. Namun, sejak terakhir kali ia mengajukan agar jembatan itu diperbaiki tahun 2017, hingga saat ini belum ada tanda-tanda perbaikan.
“Sudah dua kali saya mengajukan perbaikan jembatan itu ke DPUPR, namun belum terealisasi sampai sekarang. Jembatan ini sangat penting untuk masyarakat,” tandasnya. (nipal)