SATELITNEWS.COM, PANDEGLANG–Memasuki bulan Ramadan, sejumlah perajin apem putih yang saat ini populer disebut apem “bohay” di Desa Kadubungbang, Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang, kebanjiran pesanan.
Perajin apem “bohay”, Mahfud mengatakan, kebanjiran pesanan karena setiap bulan Ramadan apem putih menjadi salah satu hidangan favorit untuk berbuka puasa.
“Awal Ramadan ini dari biasa 50 Kg (membuat apem bohay), sekarang naik menjadi 75 Kg. Karena dapat pesanan dari warga Cilegon, Tangerang, Serang, Sukabumi dan Bandung,” kata Mahfud, Rabu (6/4/2022).
Ia sangat bersyukur, memasuki awal Ramadan, usahanya terlihat mulai bangkit dan semoga saja bisa kembali normal. Harapan terbesarnya pandemi ini bisa segera berakhir.
“Saya juga sangat bersyukur dengan adanya pelonggaran dari pemerintah karena tren kasus Covid-19 mengalami penurunan. Kita juga bersyukur selama dua tahun pandemi masih bertahan dan tidak sampai memberhentikan 12 orang karyawan,” tandasnya.
Karyawannya tetap bekerja di tengah pandemi, dan sekarang ini melambungnya harga sembako termasuk minyak goreng. “Untungnya pembuatan apem putih ini di kukus. Sehingga, baiknya harga minyak untuk saat ini tidak sampai harus menaikan harga jual apem putih bohay. Harga masih tetap sama satu bungkus sebanyak 10 potong Rp10.000,” pungkasnya.
Baca Juga: Tak Sekadar Program Pemerintah, Tapi Harapan yang Membuat Mimpi Tetap Hidup
Memasuki bulan Ramadan ini, per hari memproduksi sebanyak 3.000 potong. , karena apem bohay saat bulan suci Ramadan menjadi salah satu hidangan untuk berbuka puasa.
“Sudah menjadi ciri khas warga Pandeglang, kalau buka puasa nggak diawali dengan apem bohay, kayaknya belum apdol. Tapi kalau sudah diawali dengan hidangan apem putih, buka puasanya terasa apdol banget,” tandasnya. (nipal)

















