Seperti diketahui, dulu menjelang sahur kerap terdengar keramaian khususnya anak-anak dan kelompok pemuda, yang berkeliling membangunkan sahur.
Sambil membawa sejumlah peralatan seperti piring, sendok, ember dan barang lainnya. Mereka berkeliling ke rumah-rumah dan menelusuri jalan kampung, membangunkan masyarakat untuk santap sahur.
Kini, yang terdengar hanya teriakan melalui speaker Musola atau Masjid, mengimbau agar bangun dan santap sahur.
Seorang warga di Kampung Maja Tengah, Kelurahan Sukaratu, Kecamatan Majasari, Ali memgaku, tradisi semacam itu hanya dialaminya semasa ia kecil. Sekarang, sudah tak pernah terlihat lagi.
“Ya, waktu saya kecil kira-kira usia masih SD sampai SMP, masih ramai tuh suka keliling sama teman-teman bangunkan orang-orang buat sahur,” aku Ali, sedikit mengenang masa kecilnya, Rabu (13/4/2021).
Katanya, sambil keliling sekitar pukul 02.00 WIB membawa peralatan dapur lalu dipukul-pukul menghasilkan bunyi berirama yang cukup kencang.
“Nggk lama sih, paling keliling setengah jam lah, terus kita pulang lagi buat sahur juga,” tandasnya.
Diakuinya, suasana saat itu sangat menyenangkan. Bahkan, masyarakat juga tidak ada yang marah walau merasa terganggu dengan bunyi-bunyian yang keras itu.
Pengalaman senada disampaikan Dendy, warga Kelurahan Saruni, Kecamatan Majasari. Menurutnya, tradisi itu pudar diduga karena sudah tidak ada lagi generasi penerusnya.
“Anak-anak sekarang mana ada yang mau, bangun sahur saja kadang susah,” ujarnya, seraya tersenyum.
Ia juga mengaku rindu dengan suasana tersebut, yang kini hanya tinggal kenangan. (mardiana)