SATELITNEWS.ID, LEBAK—Saskia (16) Saroh (26) nampak begitu semangat belajar Alqur’an Braille di Masjid Agung Al-A’raaf Rangkasbitung, Kabupaten Lebak. Warga Kecamatan Maja dan Kecamatan Rangkasbitung merupakan gadis tunanetra yang gigih mempelajarai ilmu agama Islam. Tak heran keduanya mempunyai cita-cita menjadi seorang ustazah dan guru.
Saskia yang memiliki keterbatasan indra penglihatan tak mau ketinggalan setiap momen yang diajarkan oleh pengajarnya. Hal itu, nampak ketika ia datang bersama orangtuanya ke Masjid Agung, Rabu (27/07/2022). Sang ibu yang mendampingi selalu mengingatkan Saksia agar berhati-hati saat berlari, khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan.
Ini adalah hari kedua dia belajar. Hingga kini dia sudah belajar Iqro Braille hingga bab 9. Saskia mengaku sangat antusias belajar karena ingin mengejar cita-citanya kelak. “Karena ingin jadi ustazah dan guru,” cetus Saskia saat ditanyawa wartawan di Masjid Agung Rangkasbitung.
Rupanya, semangat gadis yang kehilangan indera penglihatannya sejak usia delapan tahun itu untuk mempelajari ilmu Alqur’an tidak hanya di Masjid Agung saja. Menurutnya dia sudah belajar Alquran Braille dari seorang pendamping di kediamannya. Tapi dia mengaku itu belum cukup, dia ingin lebih banyak belajar dari guru-guru yang lain.
Saskia sebelumnya bisa melihat selayaknya orang normal lain. Tapi karena satu penyakit ia akhirnya tak bisa melihat. Namun hal itu tidak membuat dirinya kehilangan semangat untuk terus belajar. Dia mengatakan kendati tidak bisa melihat dia masih tetap bisa mengejar impiannya. “Sekarang sekolah Kelas II SMA Khusus, nanti mau lanjut kuliah dan jadi guru,” katanya. Saskia juga mengaku senang belajar di sini karena selain mendapat ilmu juga bisa mendapat teman-teman baru sesama penyandang tuna netra, seperti Saroh.
Sementara Saroh juga begitu semangat untuk belajar, bahkan dia enggan pulang dari Masjid Agung karena ingin terus belajar. Tapi karena tidak ada pendamping saat malam hari, Saroh akhirnya ikut pulang ke rumah Saskia untuk belajar bersama. “Tadinya mau nginap di sini, karena besok masih belajar lagi,” kata dia.
Kegiatan membaca Alquran Braille di Lebak masih merupakan hal yang jarang. Kegiatan selama tiga hari ini diselenggarakan atas inisiasi sebuah yayasan yang bekerja sama dengan pengajar dari Jakarta. Salah satu pengajar, Furqon Hidayat mengatakan normalnya butuh sekitar satu minggu untuk anak-anak dan remaja bisa membaca Alquran Braille. Dalam kegiatan ini, peserta akan diajar mengenal konstruksi titik-titik huruf Braille dalam Alquran.
“Kalau sudah punya modal itu bisa memungkinkan untuk belajar secara bertahap mulai dari huruf Hijaiyah, tanda baca hingga membuat kalimat sederhana,” kata Furqon. “Cepat atau lambatnya seorang bisa membaca Alquran Braille, tergantung dari kemampuan jari jemari seseorang dalam mendeteksi konstruksi titik-titik braille,” timpal pria kerap dipanggil untuk mengajar ke sejumlah kota mulai dari sekitar Jabodetabek hingga ke Aceh tersebut.
Penyelenggara kegiatan belajar Alquran Braille, Abdul Rohman mengatakan kegiatan ini diikuti oleh sebanyak 20 peserta penyandang tunanetra di Kabupaten Lebak. Kegiatan ini, kata dia, disambut antusias oleh para peserta karena pertama kali dilakukan di Lebak. “Sebelumnya yayasan kami fokus ke distribusi Alquran termasuk yang Braille, ternyata mereka juga minta diajarkan membacanya,” pungkasnya.(mulyana)