SATELITNEWS.COM, SERANG – Pemprov Banten, saat ini sudah mulai mengatur siklus kebutuhan masyarakat, terutama kebutuhan cabai yang begitu tinggi dan menyebabkan naiknya angka inflasi di Provinsi Banten, beberapa waktu yang lalu.
Pengaturan siklus itu untuk mengantisipasi terjadinya kenaikan harga dan kelangkaan pada empat momen, dimana kebutuhan masyarakat akan Cabe begitu tinggi.
Empat momen itu yakni tahun baru masehi, Hijriah, perayaan Maulid Nabi, Idul Adha dan Idul Fitri.
Kepala Dinas Pertanian (Distan) Provinsi Banten Agus M Tauchid mengatakan, Pemprov Banten saat ini sudah melakukan gerakan penanaman cabai di Kabupaten Lebak, Pandeglang, Serang dan Kota Serang. Dari kelima daerah itu, total lahan yang dipersiapkan sebanyak 58 hektar.
“Kota Serang kita alokasikan khusus 2 hektar di luar 58 hektar itu. Lahan itu kita kerja sama kamu dengan Bank Indonesia (BI) kantor perwakilan Provinsi Banten,” katanya, seusai melakukan tanam cabai bersama Walikota Serang dan Kepala BI Banten di Kecamatan Walantaka, Kota Serang, Selasa (11/10/2022).
Agus melanjutkan, dengan gerakan nasional penanaman cabe yang dicanangkan oleh pemerintah itu, pihaknya berharap bisa mengkondisikan laju inflasi di Provinsi Banten.
Sebab, ketika saat ini dilakukan penanaman serentak, maka untuk beberapa momen perayaan di atas bisa diatasi terhadap kebutuhannya.
“Sampai saat ini memang harus diakui kita sering defisit terhadap kebutuhan cabe merah. Tapi kalau bisa disiasati untuk momen-momen di atas dengan tepat, insya Allah kebutuhan itu bisa dijaga dengan Langkah aksi ini,” ujarnya.
Diungkapkan Agus, dalam setahun kebutuhan Cabe di Provinsi Banten mencapai 38.000 ton, sedangkan untuk besaran produksi kita hanya bisa mencapai 3.600 ton.
Artinya, jika mengandalkan petani lokal yang ada, kebutuhan yang bisa disuplay itu hanya sekitar 9,5 persen.
“Namun dengan gerakan ini, insya Allah kita optimis ke depan Banten bisa menjaga kebutuhan untuk sendiri. Ditambah lagi dengan Gerakan PKK dalam pemanfaatan lahan pekarangan dan lain-lainnya,” ungkapnya.
Untuk menjaga stabilitas harga dipasaran, Agus berharap peran aktif BUMD, dalam hal ini PT Agro Banten Mandiri (ABM) bisa maksimal sebagai offtaker hasil panen dari para petani. ABM dengan segala kewenangan dan SDM-nya nanti akan melakukan Langkah-langkah untuk menstabilkan harga cabe itu.
“Sehingga harga di petani terjaga, dan tidak merugi. Begitu juga dengan harga di pasarannya, tetap stabil,” imbuhnya.
Terpisah, Direktur Utama (Dirut) PT ABM Saiful Wijaya PT Agrobisnis Banten Mandiri (ABM) yang merupakan Perusahaan Daerah (Perseroda) mengaku dirinya siap menjadi oftaker hasil panen para petani di Banten seperti cabai, bawang, tomat dan yang lainnya dengan jaminan harga jual yang stabil berdasarkan standar yang berlaku.
Menurut Saiful, oftaker hasil pertanian yang dilakukan ABM itu penting dilakukan, agar dalam situasi apapun harga komoditi yang selalu memicu kenaikan angka inflasi itu bisa dikendalikan, karena stok kebutuhannya akan tercukupi.
“Kita siap memperkuat sektor perdagangan. Makanya ketika ada kegiatan tanam cabai kemarin, kita juga ikut serta, pada tahap pasca panennya tiga bulan nanti,” katanya.
Saiful menambahkan, meskipun baru dia tahun berdiri, namun ABM sudah memiliki dua gudang distribusi serta 350 jaringan warung-warung kecil yang dinamakan Warung Banten (Wanten), yang tersebar di seluruh daerah di Banten.
“Di Wanten ini kita baru bisa distribusikan bahan-bahan kebutuhan pokok seperti minyak, gula, beras dan lainnya. Sedangkan untuk komoditi cabai dan lainnya kita baru akan menjajakan sekarang, supaya nanti ketika panen kita bisa langsung oftaker,”ujarnya.
Namun demikian, lanjutnya, penanganan masalah yang saat ini tengah dihadapi tidak bisa ditangani oleh ABM sendiri, butuh kerjasama dengan pemerintah seperti Dinas Pertanian (Distan) Provinsi dalam melakukan pemetaan dimana titik-titik pertanian yang akan memasuki masa panen.
“Beberapa Gapoktan sudah bekerjasama, seperti petani bawang di Kramatwatu, padi di Pandeglang dan Kabupaten Serang,” pungkasnya. (mg2)