SATELITNEWS.COM, SERANG–Luasan lahan pertanian di Provinsi Banten selama tiga tahun terakhir terus menyusut. Sedikitnya, ada sekira 2.983 hektare lahan pertanian hilang dan berubah menjadi kawasan industri atau perumahan dan pergudangan.
Berdasarkan data dari Dinas Pertanian Provinsi Banten, penyusutan itu terjadi merata disemua wilayah di Provinsi Banten. Di Kabupaten Pandeglang, luasan lahan pada tahun 2023 sekira 52.640 hektare, tahun 2024 seluas 52.373 hektare, ditahun 2025 seluas 52.447 hektare.
Di Kabupaten Lebak, luasan lahan pertanian pada tahun 2023 sekira 51.297 hektare, kemudian ditahun 2024 sekira 52.025 hektare, sedangkan ditahun 2025 sekira 51.907 hektare. Di Kabupaten Tangerang, luas lahan pertanian tahun 2023 sekira 39.389 hektare, ditahun 2024 luas lahan pertanian sekira 36.712 hektare, sedangkan tahun 2025 sekira 34.861 hektare.
Kemudian di Kabupaten Serang luas lahan pertanian ada tahun 2023 sekira 49.463 hektare, sedangkan ditahun 2024 luasan lahan pertanian menjadi 48.050 hektare, dan ditahun 2025 luas lahan pertanian sekira 47.267 hektare.
Di Kota Tangerang, luasan lahan mengalami penyusutan drastis, ditahun 2023 luasan lahan pertanian sekira 1.143 hektare, kemudian ditahun 2024 luasan lahan pertanian berkurang hingga hampir seribuan hektare, yakni tinggal 183 hektare, sedangkan ditahun 2025 luasan lahan pertanian menyisakan 109 hektare.
Di Kota Cilegon, luasan lahan pertanian pada tahun 2023 sekira 1.691 hektare, kemudian ditahun 2024 sampai 2025 luasan lahan pertanian tidak mengalami perubahan, yakni sekira 1.151 hektare.
Baca Juga: Layanan SIM Keliling Kota Tangerang Selasa 6 Oktober, Cek Lokasinya
Di Kota Serang, penyusutan lahan pertanian selama tiga tahun terakhir mencapai seribuan hektare. Buktinya, ditahun 2023 luasan lahan pertanian yang ada sekira 8.475 hektare, sedangkan ditahun 2024 luasan lahannya berubah menjadi 7.353 hektare, dan ditahun 2025 menjadi sekira 7.124 heltare.
Sedangkan di Kota Tangerang Selatan tidak ada lahan pertanian. Secara keseluruhan, luasan lahan pertanian di Provinsi Banten pada tahun 2023 sekira 204.335 hektare, sedangkan ditahun 2024 berubah menjadi sekira 197.847 hektare, dan ditahun 2025 menjadi sekira 194.864 hektare.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten Saiful Bahri Maimun mengakui adanya penyusutan lahan pertanian setiap tahunnya. Hal itu, kata dia, terjadi karena beberapa hal, termasuk perluasan investasi di beberapa wilayah di Provinsi Banten.
“Setiap tahun ada penyusutan lahan pak, penyebabnya karena adanya alih fungsi lahan dan sebagian pemda ingin lahannya untuk dijadikan industri dan perumahan,” katanya, Selasa (6/10/2026).
Saiful memastikan, meski terjadi penyusutan lahan setiap tahun, hal itu tidak berdampak terhadap produktivitas padi di Provinsi Banten. Selain itu, Banten tetap menjadi salah satu daerah lumbung pangan nasional meski terjadi penyusutan.
“Tidak terlalu berdampak, kita dengan adanya penguragan lahan kita melaksanakan program luas tambah tanam (LTT) artinya kita minta petani mengolah lahan dari dua kali setahun menjadi tiga kali setahun, memperbaiki irigasi-irigasi yang rusak,” paparnya.
Baca Juga: Pemkot Tangerang Perkuat Pendampingan Pelaku Usaha Lewat Bimtek LKPM
Saiful mengatakan, Pemprov Banten telah berupaya mengatasi persoalan penyusutan lahan tersebut agar tidak terus meluas. Bahkan, Gubernur Banten Andra Soni turun langsung dan menyampaikan kepada Pemerintah Pusat agar membantu menjaga ketersediaan lahan pertanian.
“Pak gubernur sudah menyampaikan surat ke Mentri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional untuk menetakan usulan lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B) pada luas baku sawah seberapa 84,168 persen per tanggal 31 Juli 2026 kemarin,” ujarnya.
Selain menjaga ketersediaan lahan, Pemprov Banten juga membantu para petani dengan berbagai program, seperti berkolaborasi dengan PUPR untuk membangun dan memperbaiki daerah-daerah irigasi, membangun irigasi perpompaan, irigasi perpipaan,membangun konservasi air dan optimaliasi lahan (Oplah).
“Kita juga memberikan bantuan benih padi, melakukan gerakan pengendalian hama dan penyakit, memberikan asuransi usaha tani padi (AUTP) kepada petani yang mengalami puso, dan memberikan bantuan alsintan,” ujarnya.
Anggota Poktan Kecamatan Tunjung Teja Dadang mengatakan, luasan lahan pertanian di wilayahnya terus mengalami pengurangan karena berbagai hal, utamanya karena ada penetapan kawasan industri di Kecamatan Tunjungteja.
Akibat hal itu, kata dia, lahan pertanian seluas empat ribu hektare terancam hilang karena banyak investor memburu lahan tersebut. Alasannya, karena lahan pertanian memiliki harga yang murah, serta banyak bertebaran calon tanah untuk melakukan pembebasan.
“Sekarang saja sudah 250 hektare lahan pertanian yang hilang, tanahnya udah dibeli sama investor, bahkan ada puluhan hektare sawah sudah berubah menjadi gudang industri,” katanya. (adib)



















