SATELITNEWS.COM, PANDEGLANG – Krisis air bersih dampak kemarau panjang di Kabupaten Pandeglang, belum berakhir dan semakin parah.
Hingga saat ini, dari 99 Desa di 26 Kecamatan yang mengalami krisis air bersih, 12 Desa diantaranya belum mendapatkan pasokan air bersih.
Diketahui, 26 Kecamatan yang mengalami krisis air bersih itu yakni, Kecamatan Cadasari, Sukaresmi, Cikeusik, Mandalawangi, Patia, Sobang, Angsana, Karangtanjung, Panimbang, Banjar, Picung, Sindangresmi, Cibitung, Pagelaran, Pandeglang, Saketi, Bojong, Majasari, Munjul, Cigeulis, Kaduhejo, Cibaliung, Mekarjaya, Koroncong, Labuan, dan Kecamatan Cisata.
Kepala Seksi (Kasi) Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBDPK) Kabupaten Pandeglang, Rian Sutansyah mengakui, masih ada 12 Desa yang belum mendapatkan pasokan air bersih. Hal itu terjadi, karena banyaknya desa yang mengajukan permohonan bantuan air bersih.
“Ada 12 Desa yang belum menerima bantuan air bersih, karena memang setiap hari banyak yang mengajukan bantuan air bersih. Sementara, armada kita terbatas jadi enggak bisa dalam sehari itu selesai mengirimkan bantuan air bersih,” kata Rian, Senin (2/10/2023).
Rian mengatakan, dalam satu hari lebih dari sepuluh Desa mengajukan bantuan air bersih.
Baca Juga: Erupsi GAK Terus Meningkat, Sekolah di Pandeglang Berlakukan BDR
Sementara, pihaknya hanya bisa mengirimkan air empat sampai lima lokasi dalam satu hari. Untuk itu, pihaknya selalu berkoordinasi dan berkomunikasi dengan pihak terkait, agar bisa ikut membantu mengirimkan pasokan air bersih.
“Kalau hanya kita yang mengirimkan bantuan itu enggak akan cukup karena keterbatasan kita. Tetapi, kita dibantu oleh pihak lain dalam mengirimkan pasokan air bersih, baik dari pihak swasta, organisasi atau lembaga, serta dari Pemprov Banten juga ikut membantu,” tambahnya.
Rian mengatakan, hingga hari ada sebanyak 20.639 Kepala Keluarga (KK) atau sebanyak 21.174 jiwa yang kesulitan mendapatkan pasokan air bersih akibat dampak kemarau panjang yang melanda Pandeglang.
“Jumlah itu bisa terus bertambah karena musim hujan diprediksi akan terjadi pada November 2023 nanti,” tandasnya.
Ditanya terkait penetapan darurat bencana kekeringan, Rian mengaku, pihaknya masih melakukan kajian dan pembahasan dengan semua pihak terkait.
Meski demikian, instansinya akan terus membantu masyarakat yang terdampak kekeringan.
Baca Juga: Abu Vulkanik Erupsi GAK Hujani Pandeglang, Bupati Dewi: Gunakan Masker dan Kacamata
“Kalau penetapan darurat bencana belum, karena kita masih melakukan pembahasan,” pungkasnya.
Deden Nuryadin, warga Kecamatan Sindangresmi mengatakan, krisis air bersih diwilayahnya sudah terjadi sejak dua bulan terakhir.
Untuk menutupi kebutuhan air bersih, dirinya harus menunggu kiriman bantuan dari pihak lain atau membeli galon air minum dalam jumlah banyak.
“Udah lama susah dapat air bersihnya, karena mata air yang ada sudah mulai kering. Kalau disini, dua bulan enggak hujan aja udah kering airnya, makanya sekarang ini air bersih susah di kita. Nunggu bantuan juga lama, kada satu minggu baru bisa dikirim airnya,” tuturnya.
Juhra, warga Kecamatan Kaduhejo berharap, Pemkab segera mengeluarkan kebijakan untuk mengatasi persoalan krisis air bersih ini.
Soalnya, kata dia, apabila hanya mengandalkan bantuan air bersih, tidak ada solusi buat mengatasi kekeringan yang sekarang terjadi.
“Kalau bisa buatkan sumur bor atau tempat penampungan air, supaya pasokan air tetap ada walaupun musim kemarau,” imbuhnya. (mg4)
























