SATELITNEWS.COM, PANDEGLANG – Persoalan nelayan payang di Labuan, Kabupaten Pandeglang, yang kesulitan mendapatkan solar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN), belum juga terselesaikan. Bahkan, kini para nelayan tersebut hanya bisa membeli dengan sistem Purchase Order (PO).
Tarini, pemilik kapal Payang Barokah mengatakan, para nelayan kini semakin sulit mendapatkan pasokan solar di SPBN, karena harus menggunakan sistem PO. Padahal sebelumnya para nelayan tinggal datang ke SPBN dan membawa derigen solar.
“Dulu biasanya bawa enam dirigen solar, bisa langsung diisi di SPBN. Kalau sekarang enggak bisa, harus pakai PO. Kalau nelayan Arad sama Apollo, bisa langsung beli tanpa harus PO,” kata Tarini Jumat (17/11/2023).
Perempuan yang akrab disapa Tini ini mengatakan, untuk sementara perahu miliknya tidak melaut, karena tidak mendapatkan pasokan Solar. Hal itu mengakibatkan, dirinya kesulitan mendapatkan uang untuk keperluan sehari-hari.
“Enggak melaut, enggak ada uang juga,” tandasnya.
Dia berharap, agar persoalan tersebut segera diselesaikan. Sehingga, para nelayan bisa kembali melaut dan tidak lagi kesulitan mendapatkan solar.
Baca Juga: Krisis Air Bersih Masih Melanda, Warga Desa Idaman Pandeglang Butuh Penanganan Serius
“Kalau bisa janganlah seperti ini, semuanya serba sulit. Kami ini yang menjadi korban, karena enggak bisa melaut untuk menangkap ikan,” keluhnya.
Pedro, nelayan lainnya minta agat aparat penegak hukum segera bertindak. Karena, persoalan tersebut sudah merugikan para nelayan.
Terlebih, stok solar masih banyak di SPBN, tetapi nelayan sulit mendapatkannya. “Ini kan solarnya ada, tetapi buat belinya sulit sekali, harus inilah, harus itulah. Kami hanya mau solar,” ujar Pedro.
Pedro menilai, sulitnya mendapatkan solar merupakan bentuk monopoli pihak pengelola. Buktinya, nelayan Arad dan Apollo tidak memberikan sumbangsih bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD), tetapi tetap mendapatkan jatah solar, berbeda dengan nelayan payang dan kursin.
“Logikanya begini, kita dapat ikan terus kita lelang di TPI, itu kan menyumbang bagi PAD. Sementara kapal Arad dan Apollo, tidak melelangkan di TPI, artinya enggak nyumbang PAD. Tetapi kenapa mereka gampang dapat solarnya,” pungkasnya.
Sebelumnya diberitakan, sikap tidak baik ditunjukan manajer Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) Labuan, Aan Karinda.
Baca Juga: Desa Bandung Pandeglang Siap Expor Ikan Mas Sinyonya dan Udang Sawah ke Papua Nugini
Bukannya menyelesaikan persoalan solar yang sulit didapat buat nelayan payang, malah mengaku dekat dengan salah satu anggota Polisi Perairan dan Udara (Polairud) Polres Pandeglang.
Tujuan tindakan itu, diduga sebagai salah satu ancaman bagi wartawan satelitnews.com sekaligus untuk menahan agar pemberitaan tidak dilanjutkan.
Secara tegas, Aan mengatakan dirinya memiliki hubungan dekat dengan salah satu personel Polairud Polres Pandeglang.
Bahkan, dia membantah pernyataan yang dia sampaikan kepada wartawan terkait persoalan tersebut.
Padahal, dirinya sudah menegaskan tidak akan menyelesaikan aduan yang dianggap tidak jelas. .
“Kalau anda membuat berita, tolong konfirmasi ke saya dulu. Pak Ari (personel Polair Polres Pandeglang,red) rekan saya,” imbuhnya, Kamis (16/11/2023). (mg4)

















