SATELITNEWS.COM, TANGSEL—Warga Perumahan Bukit Pamulang Indah (BPI) RT07/RW04 Kelurahan Pamulang Timur Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan meminta agar saluran air dari u-ditch di wilayahnya dibongkar. U-ditch tersebut dianggap memperburuk banjir yang sering kali terjadi di perumahan BPI.
Salah satu warga BPI, Trisca (62) menyatakan u-ditch tersebut dipasang pada tahun 2017 lalu. Namun semenjak adanya terowongan beton tersebut, banjir yang merendam rumahnya semakin parah. Jika sebelumnya air hanya sampai garasi maka kini sudah masuk ke dalam rumah.
“Sekitar 2017 dipasang u-ditch-nya. Proyek dari Pemda. Sebelum dipasang memang banjir tapi ngga parah. Semenjak ini dipasang aja parah. Biasanya cuma sampai garasi sekarang sampai masuk rumah. Lebih parah sekarang,” ujar Trischa saat ditemui, Minggu (7/1).
Trisca mengatakan, para warga sepakat untuk u-ditch tersebut dibongkar. Kata dia, warga pun telah mengusulkan pembongkaran tersebut kepada pemerintah.
“Warga sudah mengusulkan untuk diangkat. Warga sini minta dibuka, kalau mampet juga enak ngeruknya,” katanya.
Hal semua dikatakan Popon, pria berusia 70 tahun ini berharap agar segera dibuka u-ditch tersebut. Apalagi, di musim penghujan yang membuat warga terus merasa was was.
Baca Juga: YSH Bantah Isu Perpindahan Siswa Dampak Konflik dengan UIN Jakarta
“Kurang lebih 200 meter lebar gorong-gorong u-ditnya dua meter. Warga resahnya ini doang, kalau dibuka di air ngga ke jalan. Lagi mana ada kali ditutup. Kecuali got wajar ditutup bisa dibuka,” sebutnya.
Ketua RT 07 Kusno Ardjanto menyebut, pihaknya akan melakukan pengajuan agar u-ditch dibuka pada musyawarah perencanaan pembangunan atau Musrenbang.
“Sebetulnya panjang kalau itu. Memang masalah ini berkaitan dengan lingkungan dengan RW, itu sudah bagian dari satu pengajuan untuk di musrembang nanti tanggal 13 Januari,” ungkapnya.
Kusno menjelaskan, kali yang menampung aliran dari sejumlah perumahan disekitar membuat hilirnya harus sehat. Untuk itu, ia pun berharap usulan yang sudah dilakukan sejak lama ini bisa terwujud di tahun ini.
“Sampai saat ini dari tahun 2020 lumayan parah karena memang banyak adanya sedimen endapan ya termasuk pasir dan sampah sampah plastik, kayu, kita tidak bisa monitor. Pemasangan sudah lama, dari sebelum saya menjabat dua periode,” bebernya.
“Jadi bentuknya u-dith, yang mengalir ke kali besar. Ini kali kumpulan dari beberapa wilayah. Jadi otomatis air bisa mengalir normal. Kalau melihat data dari sebelumnya. Ini baru mau saya ajukan lagi mengulang kembali. Ngga semudah kalau kita bicara ucapan belum tentu sesuai dengan perbuatan. Yang kedua pengajuan ini mereka juga akan mengajukan lagi di RAPBD apakah diproses atau tidak,” sambungnya.
Baca Juga: Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie Sesalkan Kisruh YSH-UIN Jakarta
Menurutnya, perlu dilakukan normalisasi mulai dari bak penampungan sampai aliran air. Selain itu, kata dia, satu pompa air dirasa masih kurang lantaran tidak sebanding dengan volume air yang ada saat banjir.
Sebagai informasi, hujan ekstrem yang mengguyur wilayah Tangsel pada dua hari kemarin menyebabkan ratusan rumah terdampak di 11 titik pemukiman warga tergenang maupun terendam banjir tinggi muka air bervariasi. Salah satunya di Perumahan BPI.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangsel, M Faridzal Gumay menjelaskan, sekitar 1.112 kepala keluarga atau jiwa di Kota Tangsel terdampak. Sata ini, kata dia, keadaan sudah kondusif.
“Alhamdulillah sudah kondusif,” pungkasnya. (eko)
























