SATELITNEWS.COM, LEBAK—Dinas Pertanian Kabupaten Lebak mencatat ada penurunan hingga 10 ribu ton produksi jagung di Bumi Multatuli pada tahun 2023 jika dibandingkan dengan 2022 lalu. Faktornya akibat kemarau dan terserang hama penyakit.
“Produksi jagung tahun 2023 mencapai 3.193 ton, dengan omzet hingga sekitar Rp 3 miliar. Namun demikian, jumlah tersebut menurun sekitar 10 ribu ton ya jika dibandingkan tahun sebelumnya,” kata Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Deni Iskandar, Minggu (18/2).
Ia mengungkapkan, penurunan produksi jagung di Lebak karena terdampak kemarau panjang. Tak hanya itu, kurangnya subur serta hama penyakit me jadi salah satunya faktor yang mempengaruhi produksi jagung di Kabupaten Lebak.
Deni menuturkan, produksi Jagung petani Kabupaten Lebak berasal dari panen seluas 1.017 hektare yang terbesar di Kecamatan Gunungkencana. “Produksi jagung mayoritas dari Kecamatan Gunungkencana, untuk tahun ini semoga ada peningkatan,” paparnya.
Deni mengungkapkan, nilai transaksi penjualan sebanyak 3.193 ton itu diperkirakan lebih dari Rp 3 miliar dengan harga Rp 4.000 per Kilogram dalam bentuk pipilan. “Sebagian besar produksi jagung itu ditampung oleh perusahaan peternakan, seperti PT Charoen Phohphand di Balaraja, Jaffa di Serang, perusahaan pakan Sukabumi,” jelas dia.
Ia menambahkan, selama ini pertanian Jagung belum menjadikan andalan ekonomi petani Kabupaten Lebak akibat terbatasnya lahan garapan serta masyarakat di Kabupaten Lebak masih banyak yang menggarap padi. “Belum jadi andalan, kebanyakan masyarakat menanam padi,” pungkas Deni.
Baca Juga: DKPP Kabupaten Tangerang Gelar Pelatihan Pertanian Terpadu, Ini Alasannya
Sementara, seorang petani di Kecamatan Gunung Kencana Kabupaten Lebak, Zian Akbar (40) mengaku menggarap lahan seluas satu hektare untuk ditanami jagung. “Kami menanam jagung di lahan itu untuk memenuhi permintaan pasar Rangkasbitung, sekarang sudah mulai,” singkatnya. (mulyana)
