SATELITNEWS.COM, SERANG – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Banten, menilai melejitnya harga besar di pasaran beberapa bulan terakhir disebabkan telatnya masa tanam padi.
Sementara di sisi lain, masyarakat Banten lebih cenderung memilih beras premium lokal dibandingkan beras medium atau beras Bulog.
Kepala Disperindag Provinsi Banten Babar Suharso mengatakan, stok beras premium yang tersedia saat ini merupakan hasil dari masa tanam yang dilakukan pada bulan November 2023.
Mengingat pada saat itu, luas tanamnya masih terbatas, karena pasca Elnino yang berkepanjangan. Sehingga, stok berasnya saat ini terbatas.
“Padahal bulan November itu, sudah memasuki musim hujan. Kalau saja pada saat itu tanam yang dilakukan banyak, InsyaAllah harga beras di pasaran saat ini tidak menjadi mahal, dan langka pula. Ini mah karena stok-nya sedikit, kemudian harga gabahnya menjadi naik cukup tinggi,” kata Babar, Senin (26/2/2024).
Diakui Babar, saat ini harga gabah di tingkat petani mencapai Rp8.000/kg, dimana ketetapan harga Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani ditetapkan sebesar Rp5.000.
Baca Juga: Pengadaan 500 Ribu Perumahan Di Banten Terkendala Lahan
Perhitungan yang berlaku di pasar, harga beras itu merupakan perkalian dua dari harga gabah. Jadi misalnya harga gabah Rp5000/kg, maka Ketika sudah menjadi beras harganya menjadi Rp10.000/kg.
“Maka wajar kemudian, jika saat ini harga berasnya mencapai Rp16.000/kg, karena harga gabahnya saja sudah Rp8.000/kg,” jelasnya.
Untuk diketahui, berdasarkan Peraturan Badan Pangan Nasional No 7/2023, HET beras berlaku sejak Maret 2023 adalah Rp. 10.900/kg medium, sedangkan beras premium Rp 13.900/kg.
Babar melanjutkan, saat ini Pemprov sudah melakukan upaya mengendalikan harga beras itu dengan mengeluarkan beras impor dan SPHP. stok beras itu tidak hanya diguyur ke beberapa titik pasar saja, melainkan juga kita perluas dengan membuka outlet-outlet dan Operasi pasar (OP) yang menggandeng BUMD PT Agrobisnis Banten Mandiri (ABM) dengan program Warung Banten (Wanten-nya).
“Selain itu, kita juga ikut berpartisipasi terhadap kegiatan OP yang dilakukan oleh Kabupaten dan Kota yang biasanya dilakukan di setiap kecamatan,” pungkasnya.
Dengan adanya tambahan stok beras itu, Babar mengaku optimis untuk stok beras sampai tiga bulan kedepan dipastikan aman. Termasuk distribusinya juga kita tambah.
Baca Juga: Penguatan Literasi, Pemprov bersama ICN Banten Antisipasi Penyebaran Hoax
Tinggal saat ini, menyadarkan masyarakat saja untuk sementara bisa terlebih dahulu beralih menggunakan beras medium.
“Mudah-mudahan, masyarakat bisa menyikapinya beralih sementara ke beras bulog, supaya harganya bisa stabil kembali sambil menunggu panen,” harapnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distan) Provinsi Banten Agus M Tauchid menambahkan, stok beras di bulan Februari ini memang berasal dari masa panen di bulan November.
Karena masa tanamnya masih sedikit, sehingga kebutuhan berasnya mengalami defisit.
“Luas tanamnya sekitar 23.361 dengan luas panen sekitar 22.544 hektar dan menghasilkan beras 83 ton. Sementara kebutuhan 119.677 ton berarti Februari ini masih defisit 36.674 ton,” katanya.
Meski demikian, Agus memastikan jika bulan Maret nanti harga beras akan Kembali normal, mengingat masa panen kita cukup banyak bahkan diprediksi surplus.
Masa tanam bulan Desember itu, ada sekitar 46.929 hektar dengan potensi luas panen mencapai 45.287 hektar atau akhir maret ini Banten akan mengalami 186.741 ton atau ada kelebihan produksi 47.063 ton.
“Puncak kita ada di bulan April perkiraan luas panen mencapai 61.153 hektar dengan potensi produksi 225.158 ton beras. Ini juga sudah diperhitungkan kebutuhan zakat fitrah, dimana kebutuhan Provinsi Banten diperkirakan meningkat 171.645 ton,” pungkasnya.
Sementara, Penjabat Sekretaris Daerah (Pj Sekda) Provinsi Banten Virgojanti mengatakan, pihaknya terus melakukan upaya-upaya dalam pengendalian inflasi di Provinsi Banten, terutama memastikan ketersedian bahan pokok menjelang bulan suci ramadan.
“Inflasi kita cukup terkendali, dan itu kita pertahankan apalagi kita akan menghadapi hari besar keagamaan bulan suci ramadahan. Mudah-mudahan kebutuhan bahan pokok masyarakat tersedia dan masyarakat dapat mengakses kebutuhan pangan sehari harinya,” ungkapnya.
Virgojanti menyebutkan, inflasi Provinsi Banten pada Januari 2024 mencapai 2,59 persen. Angka tersebut merupakan gabungan angka inflasi dari Kota Serang, Kota Tangerang, Kota Cilegon, Kabupaten Lebak dan Kabupaten Pandeglang.
“Inflasi kita saat ini masih di 2,59 persen, kita juga akan terus koordinasi dengan instansi terkait untuk melakukan monitor ketersedian pangan. Termasuk berkoordinasi dengan satgas pangan guna pengendalian inflasi,” katanya.
Sedangkan, terkait dengan permasalahan kenaikan harga beras. Pihaknya akan berkoordinasi dengan Bulog dan BAPANAS untuk memastikan pendistribusian beras SPHP.
“Pemerintah Daerah dan Pusat, terus berkoordinasi dalam rangka pemenuhan ketersedian kebutuhan beras di setiap daerah,” imbuhnya. (luthfi)
























