SATELITNEWS.COM, PANDEGLANG – Hingga kini, Pemkab Pandeglang masih kesulitan mengatasi persoalan atau menekan angka pengangguran terbuka. Hal itu terjadi karena, minimnya lapangan pekerjaan dan tidak adanya terobosan dari pemerintah setempat.
Sekedar diketahui, hingga saat ini masih ada 52 ribu lebih atau sekira 9,05 persen warga Pandeglang, yang belum mendapatkan pekerjaan alias menganggur. Mayoritas pengangguran di Pandeglang, merupakan lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) atau sederajat.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Pandeglang, Mohamad Kabir, mengakui masih banyak pengangguran di Kabupaten Pandeglang. Hal itu terjadi, karena minimnya lapangan pekerja sehingga masyarakat kesulitan mendapatkan kerja.
“Pengangguran di Pandeglang terjadi, karena yang pasti angkatan kerja nambah setiap tahun, tetapi tidak seimbang dengan penyediaan lapangan kerja. Akibatnya, pengangguran terus bertambah,” kata Kabir, Selasa (16/7/2024).
Menurut Kabir, persoalan pengangguran akan sulit diatasi, karena Pandeglang bukan daerah industri. Dalam arti, lapangan pekerjaan cukup sedikit karena tidak ada perusahaan besar, atau investor yang membuka usaha di Pandeglang.
“Penambahan angkatan kerja bagaikan deret ukur, kalau kesediaan lapangan kerja kaya deret hitung. Artinya, angkatan kerja semakin bertambah, sementara lapangan pekerjaan sangat terbatas sekali,” tambahnya.
Baca Juga: Lapangan Kerja Minim, Puluhan Ribu Warga Pandeglang Nganggur
Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja Disnakertrans Kabupaten Pandeglang, Agus Suryana mengatakan, setiap hari tidak kurang dari 50 orang mengajukan permohonan pembuatan kartu kuning atau AK-1, sebagai persyaratan melamar pekerjaan.
“Setiap hari sekitar 50 pencari kerja mengajukan membuat kartu kuning. Jika dihitung dalam satu bulan, jumlahnya bisa mencapai 1.000 pencaker yang membuat kartu kuning tersebut,” ujarnya.
“Kebanyakan dari lulusan SMK, karena mereka rata-rata sudah punya keterampilan yang dibina dan di bimbing diarahkan melalui kejuruan bursa khusus punya keterampilan, beda dengan SMA yang notabene melanjutkan kuliah,” sambungnya.
Dia mengakui, Kabupaten Pandeglang tidak memiliki banyak perusahaan, yang dapat menampung pencaker untuk bekerja. Hal ini, berbeda dengan kabupaten/kota lain yang memiliki lebih banyak perusahaan, dan dapat membantu mengurangi angka pengangguran.
“Ketika mereka kerja di perusahaan, dimana pun ada laporannya ada feedback ke Disnaker, tapi memang kita akui itu sulit. Adanya pencaker ini, upaya untuk mengurangi pengangguran di Pandeglang,” imbuhnya. (adib)
























