SATELITNEWS.COM, TANGSEL--Sebanyak 120 kepala keluarga di kampung Koceak, Kelurahan Kranggan, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) kesulitan mendapatkan air bersih akibat kemarau panjang. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, para warga mengandalkan air kali dan bantuan air bersih.
Kekeringan tersebut kerap dirasakan oleh warga setiap tahunnya. Pasalnya, sumur di rumah mereka sudah tidak keluar air. Sekalipun ada, itu tidak mencukupi dan tidak jernih. Musim kemarau yang cukup lama membuat volume air menjadi surut.
Salah satu warga terdampak Ojah (53) menyampaikan bahwa kekeringan sudah berlangsung selama dua bulan. Menurutnya, selain disebabkan musim kemarau, perumahan disekitar juga menjadi salah satu penyebabnya.
“Sejak awal bulan Juli sudah mulai kekeringan. Mengecil airnya tidak kering banget, tapi sebagian warga sudah ada yang kering banget. Disini pada pakai sumur bor, kalau orang perumahan kan pakai satelit ya jadi kehabisan sama mereka,” katanya.
Ojah mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan air mulai dari mandi hingga mencuci pakaian, ia dan para warga mengandalkan Kali Cisalak yang berlokasi di sudut kampung. Terkadang, mereka juga menunggu distribusi air bersih dari Pemkot Tangsel.
“Belilah, air galon isi ulang cuma lima ribu. Sehari beli satu untuk konsumsi. Kalau cuci pakaian di sungai, cuci pakaian dua hari sekali. Mandi jadi cuma sekali, mengurangi doang,” ucapnya.
Baca Juga: Lima Pemuda Ditangkap Warga Pondok Aren, Dua Orang Bawa Celurit
Hal serupa diungkapkan Hidayat (45), kata dia, wilayah tempat tinggalnya sudah menjadi langganan kekeringan dan bisa terjadi dua kali dalam satu tahun. Sehingga, para warga mengajukan pendistribusian air bersih kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tangsel.
Air yang dikirim, para warga gunakan untuk konsumsi maupun kebutuhan lainnya. Namun, dalam penggunaannya diperhitungkan agar cukup sampai pendistribusian selanjutnya.
“Iya untuk konsumsi, bukan hanya konsumsi aja banyak untuk keperluan lainnya. Mandi dikurangin, biasanya satu bak jadi setengah bak. “Setiap kering langung lapor, karena masyarakat nggak ada air. Biasanya dikirim dua kali, satu tangki,” katanya.
Hidayat menyampaikan, pendistribusian air telah berlangsung tiga kali. Pantauan di lokasi, para warga menaruh wadah kosong seperti galon dan ember untuk ditaruh dekat toren berukuran 2.000 liter. Petugas BPBD Tangsel yang datang langsung mengisi toren tersebut.
“Kami melakukan pendistribusian air di hari ketiga. Satu titik atau RT kami variatif ada yang 4.000 liter ada yang 8.000 liter. Kalau di kelurahan Kranggan ada 2 RT yang terdampak kekeringan,” ujar Dian Wiriyawan, Danton Satgas Penanggulangan Bencana BPBD Tangsel saat dijumpai di kampung Koceak, Kamis (5/9).
Kata dia, 120 Kepala Keluarga yang terdampak itu hanya di Kranggan. Selain itu, terdapat juga di Kademangan. Namun, pendistribusian belum bisa dilakukan lantaran masih menunggu administrasi pengiriman air.
Baca Juga: Ambil Motor yang Tertinggal di Cikupa, Anggota Gangster Ditangkap Warga
“Kami yang mendapatkan laporan ada dua kelurahan yang terdampak yaitu di Kranggan dan Kademangan. Kademangan di RT 6 RW 3, tapi saat ini kami masih menunggu surat untuk distribusi airnya. Bagi masyarakat yang membutuhkan distribusi silahkan berkoordinasi ke pihak RT kelurahan dan dari kelurahan nanti bersurat ke kami. Yang pasti berapa pun jumlah yang diinginkan masyarakat itu yang kami distribusikan,” pungkasnya. (eko)
























