SATELITNEWS.COM, LEBAK– Bunyi meriam di Masjid Agung Al-A’raaf Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, menjelang azan magrib menjadi tradisi unik pada saat bulan suci Ramadan.
Sebab, kerasnya dentuman tersebut sangat ditunggu-tunggu atau dirindukan masyarakat banyak sebagai tanda berbuka puasa.
Tradisi unik menyalakan meriam menyulut sebagai penanda waktu berbuka puasa yang dilakukan petugas DKM di Masjid Agung Al- A’raaf ini sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu. Bahkan sudah menjadi ciri khas sehingga banyak warga yang menunggu-nunggu dan merindukan momen tersebut.
Maka tak heran, banyak warga dari berbagai daerah mendatangi Alun-alun Rangkasbitung dan berkumpul bersama keluarga, teman, sanak sodara ataupun kerabat hanya untuk sekadar menikmati suasana berbuka puasa bersama dan sekaligus melihat dan mendengarkan langsung kerasnya suara dentuman meriam menjelang berbuka puasa.
Suara dentuman meriam ini berasal dari hasil suara sebuah pipa besi besar dengan berdiameter sekitar empat puluh cm yang dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai sebuah meriam sungguhan. Bahkan, suara dentuman meriam sundut ini terdengar sampai belasan kilometer.
Menurut salah satu petugas DKM Masjid Al- A’raaf Ujong Suryadi, tanda suara dentuman meriam ini sudah berlangsung lama dan hanya dibunyikan pada saat bulan suci Ramadan sebagai pertanda waktu tiba berbuka puasa dan memasuki datangnya waktu imsak.
Baca Juga: Dentuman Meriam Sundut Rangkasbitung, Tradisi Ramadan yang Menggema Sejak 1980-an
“Dinyalakan nya setiap waktu datangnya berbuka puasa, sama waktu imsak saja,”kata Ujong Suryadi, Jumat (7/3/2025).
Ia mengungkapkan, membunyikan meriam sundut di Masjid Agung Al- A’raaf ini sudah menjadi tradisi sejak puluhan tahun lalu. Lebih lanjut Ujong Suryadi mengatakan, suara yang keras dari meriam sundut tersebut merupakan hasil dari karbit dengan ditambahkan air yang dimasukkan ke dalam lubang meriam kemudian disulut memakai api sehingga menghasilkan suara yang menggelegar.
Fahri warga Kota Rangkasbitung, mengatakan tradisi suara dentuman meriam tanda berbuka puasa ini unik dan hanya ada di bulan suci Ramadan.
“Jadi kalau mau berbuka puasa itu kita selalu mendengarkan dentuman meriam. Suaranya cukup keras. Tidak hanya warga Rangkasbitung ya, dari berbagai daerah suka pada kumpul di Alun-alun mau berbuka puasa sambil mendengar langsung kerasnya dentuman meriam itu,” kata Fahri.(mulyana)
























