SATELITNEWS.COM, LEBAK—Sore itu, langit Rangkasbitung mulai berubah warna. Semburat jingga menyelimuti halaman Masjid Agung Al-A’raaf. Jamaah duduk bersila, sebagian anak-anak berlarian kecil, sementara sejumlah petugas Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) tampak sibuk di sudut halaman.
Di sana, sebuah pipa besi besar berwarna hijau sepanjang dua meter terbaring kokoh. Diameternya sekitar 40 sentimeter. Bagi warga Rangkasbitung, benda itu bukan sekadar besi tua. Ia adalah meriam sundut penanda berbuka puasa yang sudah mengakar puluhan tahun. Menjelang azan magrib, petugas mulai memasukkan karbit ke dalam tabung meriam. Air dituangkan secukupnya. Reaksi sederhana dua bahan itu menjadi awal dari dentuman yang selalu dinanti.
“Ini sudah tradisi, setiap Ramadan pasti kita keluarkan meriamnya untuk penanda buka puasa dan imsak,” ujar Candra (38), salah satu petugas DKM yang sudah 14 tahun terlibat langsung dalam tradisi tersebut. Di Masjid Agung Al-A’raaf terdapat dua unit meriam. Salah satunya disebut sudah ada sejak awal 1980-an, sementara satu lainnya merupakan meriam yang lebih baru. Namun keduanya hanya dikeluarkan setahun sekali khusus di bulan Ramadan.
Begitu azan berkumandang, api disulut ke bagian pemicu. Dor dentuman keras memecah langit senja. Suaranya menggelegar, konon bisa terdengar hingga belasan kilometer. Beberapa anak kecil tampak terkejut, sebagian lainnya tersenyum lebar. Jamaah pun serempak membatalkan puasa. “Bahannya cuma karbit sama air, enggak ada campuran lain. Ini memang khusus Ramadan saja, kalau hari biasa enggak pernah dinyalakan,” jelas Candra.
Tradisi ini bukan sekadar penanda waktu. Ia telah menjadi ikon Ramadan di Rangkasbitung. Bahkan, tak sedikit warga luar daerah yang sengaja datang untuk menyaksikannya. Salahsatunya Yuli (54), warga Kecamatan Cipanas, yang datang jauh-jauh bersama anak-anaknya hanya ingin tahu suara lebih dekat dentuman meriam sundut tersebut. “Saya baru pertama kali ke sini. Penasaran karena ada meriamnya,” ujarnya.
Ia mengaku sempat kaget saat dentuman pertama terdengar begitu keras. Namun justru dari kejutan itu, ia dan keluarganya mendapatkan pengalaman yang tak terlupakan. Sebab, di tengah modernisasi penanda waktu berbuka dari sirene hingga notifikasi ponsel meriam sundut tetap bertahan. Ia bukan sekadar bunyi. Ia adalah kenangan, kebersamaan, dan identitas lokal. “Mudah-mudahan tradisi ini terus ada, jangan sampai dihilangkan,” harapnya. (mulyana)
Baca Juga: Tradisi Menyalakan Meriam Saat Berbuka Puasa Jadi Momen Ditunggu-tunggu di Rangkasbitung
























