SATELITNEWS.COM, SERANG – Di era digital yang terus berkembang pesat, pemanfaatan gawai dan media sosial oleh anak-anak menjadi isu yang semakin krusial. Meskipun teknologi memberikan berbagai kemudahan, tingkat literasi digital di Indonesia, khususnya di kalangan anak-anak, masih memerlukan perhatian serius. Menyikapi hal tersebut, Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Provinsi Banten kembali mengambil langkah nyata dengan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya literasi digital, khususnya di kalangan anak-anak.
Pada Senin (24/03), bertempat di Komplek Ciceri Permai, Kota Serang, Relawan TIK Provinsi Banten memenuhi undangan dari sebuah perusahaan media untuk memberikan edukasi kepada lebih dari 40 anak yatim penerima santunan dalam acara “Indahnya Berbagi di Bulan Penuh Berkah”. Tema yang diangkat adalah Edukasi Penggunaan Gawai dan Ruang Digital bagi Anak.
Ahmad Taufiq Jamaludin, Ketua Relawan TIK Provinsi Banten, memanfaatkan kesempatan ini untuk memberikan pemahaman kepada anak-anak tentang batasan penggunaan gawai yang tepat, serta potensi bahaya yang mengintai di ruang digital. “Penggunaan gawai harus disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak. Menurut Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPA), batas usia penggunaan gawai yang disarankan adalah 13 tahun,” jelas Taufiq dalam keterangan tertulis kepada satelitnews.com, Rabu (26/3/202
Sebagai pedoman, Taufiq memberikan aturan sederhana namun efektif untuk diingat anak-anak: BAWA BUKU MTK. “Buku ini adalah singkatan dari Batasan Waktu dan Tempat, Waspada dengan orang yang baru dikenali di media sosial, Buat kesepakatan antara anak dan orang tua, serta Jaga mata agar tidak terpapar layar terlalu lama. Selain itu, harus hati-hati dalam mengklik tautan atau konten yang tidak dikenal,” lanjut Taufiq.
Salah satu anak yang hadir, Rifat (11 tahun), mengungkapkan kegemarannya terhadap gim online seperti FreeFire dan mimpinya untuk menjadi YouTuber. “Saya ingin bisa mendapatkan uang dari permainan ini dan berbagi kebahagiaan dengan keluarga,” ujarnya dengan penuh semangat. Taufiq pun mengingatkan Rifat dan teman-temannya untuk tetap menjaga keseimbangan antara bermain gim dan kegiatan lainnya, seperti belajar.
Selain edukasi, acara ini juga dimeriahkan dengan santunan anak yatim, pembagian takjil kepada masyarakat, serta buka puasa bersama. H. Sutarjo, Pimpinan Perusahaan PT WMA Info Media, yang menjadi penyelenggara kegiatan ini, mengapresiasi upaya Relawan TIK dalam mengedukasi anak-anak tentang literasi digital. “Semoga kegiatan seperti ini dapat berlanjut dan menjadi agenda rutin, tidak hanya di bulan Ramadhan, tetapi juga pada momen lainnya,” tuturnya.
Relawan TIK Provinsi Banten terus mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk orang tua, pemerintahan, dan dunia pendidikan, untuk bersama-sama menggencarkan upaya edukasi literasi digital. Taufiq juga mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam mendampingi anak-anak di dunia digital. “Kami siap membantu orang tua agar lebih cakap dalam pengasuhan digital, serta mencegah dampak negatif dari teknologi,” ungkapnya.
Dengan semakin berkembangnya dunia digital, upaya edukasi seperti ini menjadi sangat penting, agar anak-anak dapat memanfaatkan teknologi dengan bijak dan aman. Relawan TIK Provinsi Banten terus berkomitmen untuk membantu menciptakan ruang digital yang lebih aman bagi anak-anak, demi membentuk generasi Indonesia yang cerdas, kreatif, dan produktif di era kecerdasan buatan (AI) ini.
Untuk informasi lebih lanjut atau mengundang Relawan TIK Banten dalam kegiatan edukasi literasi digital, masyarakat dapat menghubungi mereka melalui website resmi di rtikbanten.or.id. (rls/aditya)