Oleh: Rhomi Ramdani*
21 APRIL. Hari Kartini. Di Tangerang, seperti juga di berbagai penjuru Indonesia, kita mungkin melihat anak-anak sekolah mengenakan kebaya dan pakaian adat lainnya, sebuah tradisi tahunan untuk mengenang Raden Ajeng (RA) Kartini. Pemandangan ini tentu indah dan menjadi bagian dari kekayaan budaya kita. Namun, di tengah hiruk pikuk perayaan, penting untuk bertanya, sejauh mana esensi perjuangan Kartini tercermin dalam realitas perempuan Indonesia saat ini?
Seperti umumnya yang kita ketahui, Kartini tidak hanya berjuang untuk kesetaraan gender dalam pengertian sempit. Visinya jauh lebih luas, mencakup hak atas pendidikan yang setara, kebebasan berpikir, dan penghapusan segala bentuk diskriminasi yang membatasi ruang gerak perempuan pada masanya. Beliau adalah suara lantang di tengah kungkungan tradisi patriarki yang begitu kuat.
Sayangnya, kita seringkali terpaku pada simbol-simbol perayaan, seperti kebaya dan upacara seremonial, dan kurang mendalami substansi pemikiran Kartini yang begitu revolusioner. Tentu, tidak ada yang salah dengan merayakan. Hari ini, di tahun 2025, di tengah perkembangan teknologi dan informasi yang pesat, tantangan yang dihadapi perempuan mungkin berbeda, namun semangat perjuangan untuk kesetaraan dan keadilan tetap relevan.
Cita-Cita Kartini di Tengah Arus Modernitas
Mari kita telaah beberapa fenomena aktual dan mencoba merajutnya dengan cita-cita luhur Kartini. Pertama, akses pendidikan dan kesenjangan digital menunjukkan bahwa meskipun kemajuan signifikan telah dicapai dalam perluasan akses pendidikan bagi perempuan dibandingkan era Kartini, jurang kesenjangan masih menganga, terutama di wilayah terpencil dan kelompok masyarakat marginal.
Baca Juga: 200 PKL Jalan Kiasnawi Tangerang Direlokasi Mulai 14 Oktober 2026
Lebih lanjut, era digital ini melahirkan tantangan baru berupa kesenjangan digital, di mana tidak semua perempuan memiliki kesempatan yang setara untuk memanfaatkan teknologi dan informasi, padahal keduanya krusial bagi pengembangan diri dan partisipasi aktif dalam berbagai ranah. Semangat Kartini seharusnya memicu refleksi mendalam: sudahkah kita memastikan setiap perempuan, tanpa terkecuali, memiliki peluang yang sama untuk meraih pendidikan dan menguasai teknologi?
Kedua, terkait partisipasi perempuan dalam ruang publik dan kepemimpinan, kita menyaksikan peningkatan jumlah perempuan yang berkiprah di beragam sektor, mulai dari politik dan bisnis hingga ilmu pengetahuan dan teknologi. Kendati demikian, representasi perempuan di posisi-posisi kepemimpinan masih jauh dari proporsional. Stereotip gender dan budaya patriarki yang masih kuat berakar sering kali menghambat perempuan untuk mengaktualisasikan potensi penuh mereka.
Semangat Kartini yang gigih memperjuangkan kebebasan berpikir dan hak untuk berkarya semestinya menginspirasi kita untuk terus membangun ruang inklusif bagi partisipasi perempuan di seluruh lini kehidupan. Di Tangerang hari ini, sangat mungkin ada perempuan-perempuan tangguh yang sedang berjuang mendobrak batasan dan memberikan inspirasi bagi generasi mendatang.
Ketiga, isu kekerasan dan diskriminasi masih menjadi keprihatinan mendalam di Indonesia. Berita mengenai kekerasan berbasis gender, pelecehan seksual, dan diskriminasi di tempat kerja masih seringkali menghiasi media. Cita-cita Kartini tentang penghapusan diskriminasi dan perlakuan adil bagi perempuan belum sepenuhnya terwujud. Peringatan Hari Kartini hendaknya menjadi momentum krusial untuk memperteguh komitmen kita dalam memberantas segala bentuk kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan.
Keempat, mengenai pemberdayaan ekonomi perempuan, Kartini memiliki visi tentang kemandirian kaumnya. Saat ini, kita melihat banyak perempuan yang sukses menjadi pengusaha, inovator, dan pilar ekonomi keluarga. Namun, mereka acapkali menghadapi rintangan yang lebih berat dibandingkan laki-laki dalam hal akses modal, pelatihan, dan dukungan jaringan. Semangat Kartini seyogianya menginspirasi kita untuk menciptakan ekosistem yang kondusif bagi pemberdayaan ekonomi perempuan secara berkelanjutan.
Meneladani Semangat Kartini di Era Kini
Baca Juga: Porseda 2026 Ponpes Tarbiyatul Mubtadiin, Tanamkan Cinta Budaya dan Toleransi
Peringatan Hari Kartini di tahun 2025 ini seharusnya tidak hanya menjadi seremoni mengenakan kebaya, tetapi juga momentum untuk merefleksikan sejauh mana kita telah mewujudkan cita-cita Kartini. Semangat Kartini adalah semangat keberanian untuk bermimpi besar, berpikir kritis, memperjuangkan keadilan, dan terus bergerak maju. Semangat ini relevan bagi perempuan maupun laki-laki.
Di Tangerang dan di seluruh Indonesia, mari kita jadikan Hari Kartini sebagai pengingat dan pendorong untuk terus berjuang demi kesetaraan, keadilan, dan kemajuan perempuan. Mari kita pastikan bahwa setiap perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk meraih pendidikan setinggi-tingginya, berkarya sesuai potensi, dan hidup bebas dari segala bentuk diskriminasi dan kekerasan. Dengan begitu, barulah perayaan Hari Kartini memiliki makna yang lebih dalam dan sesuai dengan visi mulia R.A. Kartini.
*(Mahasiswa Universitas Pamulang, Kota Tangerang Selatan)





















