SATELITNEWS.COM, TANGERANG—Manchester United masih kurang sip di Liga Inggris. Kalau The Red Devils tak kunjung membaik, Ruben Amorim siap hengkang.
MU menelan kekalahan 0-2 dari West Ham United saat bertanding dalam lanjutan Liga Inggris akhir pekan lalu. Di Old Trafford, gawang yang dikawal oleh Altay Bayindir dibobol oleh Tomas Soucek dan Jarrod Bowen.
Dengan hasil itu, MU menelan kekalahan kandang kesembilan musim ini. Hasil itu menjadi torehan terburuk Setan Merah di Premier League.
MU puasa kemenangan dalam tujuh pertandingan terakhir. Rinciannya, MU mencatatkan lima kekalahan dan dua hasil imbang.
Amorim sadar betul bahwa dirinya belum maksimal membenahi Man United. Kalau sampai musim depan tak ada perkembangan signifikan, dia pun bersedia memberi ruang untuk manajer lain.
“Semua orang di sini harus berpikir serius mengenai banyak hal. Semua orang berpikir mengenai final (Liga Europa). Final bukan masalah. Kami mempunyai hal lebih besar untuk dipikirkan,” kata Amorim di BBC.
“Ini momen menentukan di sejarah klub. Kami harus sangat kuat di musim panas dan berani karena kami tak akan menjalani musim depan seperti ini.”
“Kalau kami mulai seperti ini, kalau masih ada perasaan itu, kami harus memberi ruang untuk orang berbeda,” kata dia menambahkan.
Bersama MU, Amorim sudah menjalani 39 pertandingan di semua ajang. Hasilnya, manajer asal Portugal itu membukukan 16 kemenangan, delapan hasil imbang, dan 15 kali menelan kekalahan.
Manchester United sendiri punya satu kesempatan menyelamatkan musimnya: juara Liga Europa dan main di Liga Champions. Tapi itu malah bikin Ruben Amorim galau.
MU menjalani musim terburuknya di Premier League setelah dipastikan finis di luar 10 besar. Menempati posisi 16 klasemen sementara, Setan Merah mentok cuma bisa naik ke posisi 13, itupun dengan syarat memenangi dua laga tersisa.
Terakhir kali mereka finis di luar 10 besar Liga Inggris adalah pada musim 1989/1990, yakni kala berakhir di urutan 13. Finis di bawah itu juga akan menandai posisi terendah baru sejak finis di posisi 21 pada Liga Inggris 1973/1974, kala mereka degradasi.
Catatan positifnya adalah MU sudah dipastikan aman dari degradasi dan masih punya kesempatan untuk sedikit menyelamatkan musim. MU akan tampil di final Liga Europa melawan sesama tim Inggris, Tottenham Hotspur, pada Kamis (22/5) mendatang.
Partai ini bahkan berarti lebih dari sekadar menyelamatkan musim dan mengangkat trofi. Ada urgensi untuk lolos Liga Champions karena kucuran uang yang besar dari tampil di sana, mengingat keuangan MU sedang seret.
Itu dari segi finansial. Rupanya dari segi teknis, Manajer MU Ruben Amorim malah punya masalah. Ia menyadari timnya akan sulit kompetitif di Premier League dan Liga Champions sekaligus, sebab komposisi skuadnya butuh banyak pembenahan.
Banyak pembenahan berarti juga butuh waktu. Sementara waktu sendiri merupakan hal yang amat mahal harganya di klub sebesar MU.
“Final itu sejauh ini adalah masalah terkecil di klub kami. Kami perlu mengubah sesuatu dan itu jauh lebih dalam daripada urusan final ini,” kata Amorim dikutip BBC.
“Bermain di Premier League dan Liga Champions buat kami itu seperti bulan jauhnya. Kami perlu mengetahui itu.”
“Saya tak khawatir dengan final. Mereka akan fokus, tapi saya tak tahu mana yang terbaik apakah main di Liga Champions atau tidak,” imbuhnya.
Pada sisi lain, Ange Postecoglou menyadari sukses tidaknya ia sebagai manajer Tottenham Hotspur akan ditentukan dari trofi yang ia raih, terlepas dari proses jatuh bangun yang ia lakukan di balik itu semua. Kini ia memiliki kans untuk menuntaskannya.
“Sebagian adalah masalah psikologis, namun tak semua karna kalian tak bisa mengabaikan fakta saya harus mengubah banyak hal di internal klub dalam hal gaya main dan juga skuad,” ujar Postecoglou, dikutip ESPN.
“Saya tak mengambil alih tim yang berada di posisi ketiga dan selalu konsisten di posisi itu. Sebelum saya mengambil alih, kami berada di posisi kedelapan. Kami bahkan tidak tampil di kompetisi Eropa.”
“Jadi, ini bukan hanya ‘Oke, ini kepingan terakhir.’ Kami harus melakukan banyak hal lain. Kami telah melakukan banyak tugas besar dalam dua tahun terakhir. Kami telah merekrut banyak pemain muda dengan pemikiran yang tepat untuk masa depan.”
“Itu merugikan kami karena kami tidak memiliki skuad yang dapat mengatasi apa yang sedang terjadi saat ini. Ini bukan hanya psikologis, ini tentang mencoba mengubah berbagai hal tetapi juga bisa meraih (gelar).”
“Menurut saya, itulah yang akan dinilai dari saya. Saya bisa saja duduk di sini di posisi kelima tahun lalu dan tetap kelima tahun ini, mungkin orang-orang tak akan menunggu asap putih untuk melihat apakah itu musim terakhir saya, tetapi mereka tetap akan berkata ‘Anda tahu Ange, dia hebat tetapi tak berbeda dengan sebelumnya. Sampai klub ini juara, Anda belum memberi dampak.”
“Saya sudah tahu sepanjang masa jabatan saya tahun lalu, itulah yang akan dinilai dari saya jadi sekarang kami punya kesempatan untuk melakukannya,” tegas Postecoglou. (dm)