SATELITNEWS.COM, TANGSEL–Hujan deras selama satu jam pada Selasa (14/5/2025) mengubah malam tenang di Kayu Gede 1 Kelurahan Paku Jaya, Kecamatan Serpong Utara, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menjadi mimpi buruk bagi ratusan warga. Air naik dengan cepat, merendam rumah-rumah hingga ketinggian 140 sentimeter.
Bagi Buyung (53), warga RT 003 RW 04, ini bukan sekadar banjir. Peristiwa ini adalah pengingat pahit bahwa sistem pengendalian air di kawasan tempat tinggalnya diklaim masih jauh dari kata siaga. Pasalnya, kata Buyung, banjir ini bukan semata karena hujan. Tapi karena pompa air yang seharusnya menjadi garis pertahanan terakhir, terlambat menyala.
“Di sana ada pintu airnya sama pompa. Setahu saya kalau cepat menyala ya airnya cepat turunnya. Kemarin soalnya agak lambat berbeda dari sebelumnya. Biasanya hujan 2 jam lebih tidak naik, hujan gede pompa langsung hidup langsung ngalir. Kalau hujan sudah setengah, tapi pompa baru hidup ya tidak bakal keburu nyedotnya tidak seimbang,” ujarnya saya ditemui di rumahnya, pada Rabu (14/5).
Buyung sudah 10 tahun tinggal di kawasan ini. Ia hafal betul pola air yang mengalir dari atas perumahan dan jalanan ke Kali Fortune, yang menjadi jalur utama pembuangan air. Tapi malam itu, kali tak mampu lagi menampung derasnya limpahan air hujan. Jalanan lumpuh, rumah-rumah tenggelam dalam genangan.
“Biasanya kalau hujan dua jam lebih pun enggak naik setinggi ini. Tapi kemarin, hujan cuma sejam, air langsung masuk rumah. Dua sepeda motor mati, kasur terendam, semua barang enggak sempat kami selamatkan,” sebut Buyung.
Banjir, bagi warga sini, bukan hal baru. Tapi banjir setinggi dada orang dewasa yang masuk ke rumah, terjadi hanya lima tahunan sekali. Terakhir di awal 2020. Bedanya, dulu air tak secepat ini datang. Ada waktu untuk bersiap. Sekarang, semua berubah.
Baca Juga: Pemkot Tangerang Selatan Putuskan Tak Perpanjang PJJ
“Banjir besar seperti ini lima tahunan, banjir seperti ini juga pernah tahun 2020 awal. Tapi memang kalau banjir yang kecil sering tapi tidak sampai masuk rumah, ini saja rumah saya udah diurug semeter padahal,” katanya.
Buyung menceritakan bagaimana air masuk ke dalam rumah secara tiba-tiba. Sekira pukul 18.00 WIB, air mulai masuk kedalam rumah merendam semua barang-barang miliknya. Dua sepeda motor yang terparkir di teras rumah hingga hari ini belum tau membutuhkan biaya berapa untuk menghidupkannya.
Sekitar pukul 03.00 WIB, banjir mulai surut dari dalam rumah-rumah warga, tapi kerusakan sudah terjadi. Rumah-rumah penuh lumpur, perabotan basah, kendaraan rusak, dan trauma yang mungkin akan lama tinggal.
“Banyak barang-barang yang terendam kasur, motor dua, kita langsung ngungsi di lantai dua,” jelasnya.
Sementara, warga lainnya Dewi (53) mengaku sudah pasrah soal permasalahan banjir ini. Barang dagangan di warung miliknya sebagian tidak bisa diselamatkan saat itu. Ia berharap, banjir yang rutin terjadi setiap lima tahun ini bisa diatasi oleh pemerintah daerah bagaimana pun caranya.
“Airnya kencang jadi saya gak bisa nyamperin barang-barang, tiba-tiba gitu, mendadak, pokoknya banjir itu gak bisa diselamatin lagi. Pokoknya udah air kali seperti udah tumpah semua deh kesini. Ya apa udah semua , tenggelam Semua gak bisa selamatin. Banjirnya secara tiba-tiba gimana mau selamatin?,” tutupnya.
Baca Juga: SIM Keliling Tangerang Selatan Rabu 9 September 2026, Cek Lokasinya
Pantauan di lokasi pada Rabu siang, sebagian warga masih membersihkan rumah dan barang-barang dari rendaman banjir. Sementara areal pertokoan di Jalan Boulevard Graha Raya yang juga terendam nampak masih membersihkan sisa kotoran yang terbawa banjir.
Ditelusuri lebih jauh, terdapat mesin pompa yang membuang air dari dua kolam penampungan. Terlihat hanya satu pipa yang mengeluarkan air dari mesin penyedotan. Sampah yang tertahan pintu air pun masih terlihat mengambang di atas permukaan air. (eko)
























