SATELITNEWS.COM, TANGERANG—Vertigo merupakan salah satu penyakit yang berbahaya dan dapat mengganggu aktifitas seseorang. Apa itu vertigo, bagaimana gejalanya dan apa yang harus dilakukan untuk mencegah penyakit tersebut?
Dokter Spesialis Neurologi pada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tigaraksa, dr. Fyrnaz Kautharifa,Sp.N mengatakan, vertigo merupakan kondisi ketika seseorang merasa seolah-olah lingkungan di sekitarnya berputar atau tubuhnya sendiri yang berputar, padahal sebenarnya tidak ada gerakan.
“Sensasi ini bisa membuat penderitanya kehilangan keseimbangan dan kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari,” kata dr. Fyrnaz Kautharifa,Sp.N kepada Satelit News, Rabu (11/6/2025).
Menurut dr. Fyrnaz Kautharifa,Sp.N, vertigo memiliki gejala yang bervariasi, hal itu tergantung pada penyebabnya. Namun pada umumnya meliputi perasaan berputar atau melayang, mual dan muntah, pandangan kabur atau ganda, kesulitan menjaga keseimbangan, dan disorientasi atau kebingungan. “Gejala-gejala ini dapat berlangsung dari beberapa detik hingga berjam-jam, dan dalam kasus tertentu, bisa berlangsung lebih lama,” ujarnya.
Dijelaskannya, vertigo ini bukanlah penyakit, melainkan gejala dari gangguan pada sistem keseimbangan tubuh. Penyebab vertigo dibagi menjadi dua kategori utama. Diantaranya, Vertigo Perifer yang disebabkan oleh masalah pada telinga bagian dalam atau saraf vestibular. Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan vertigo perifer antara lain, Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV) kondisi ini di mana perubahan posisi kepala tertentu memicu vertigo.
Penyakit Meniere, gangguan pada telinga bagian dalam yang menyebabkan vertigo, tinnitus, dan gangguan pendengaran. Neuronitis Vestibular, peradangan pada saraf vestibular yang menghubungkan telinga dengan otak. Labirinitis, peradangan pada labirin telinga bagian dalam.
Lalu, kedua vertigo sentral, dimana hal ini disebabkan oleh gangguan pada otak, terutama di batang otak atau otak kecil (serebelum). Penyebab vertigo sentral meliputi, stroke, atau gangguan aliran darah ke otak yang dapat mempengaruhi pusat keseimbangan. Tumor otak, dimana pertumbuhan massa di otak yang menekan area keseimbangan. Multiple Sclerosis, penyakit autoimun yang mempengaruhi sistem saraf pusat. “Jadi ada dua tipe vertigo, yaitu vertigo perifer dan vertigo sentral,” tukasnya.
Adapun untuk penanganan vertigo ini tergantung pada penyebab dan tingkat keparahannya. Beberapa pendekatan yang umum digunakan adalah dengan menggunakan obat-obatan, seperti antihistamin atau antikolinergik untuk meredakan gejala.
Terapi reposisi kanalit, teknik fisik untuk mengembalikan partikel di telinga bagian dalam ke posisi semula, efektif untuk BPPV. Terapi vestibular, latihan untuk meningkatkan keseimbangan dan mengurangi gejala vertigo. “Dan pengobatan penyebab utama, seperti pengobatan untuk infeksi telinga, kontrol tekanan darah, atau penanganan stroke,” jelasnya.
Sementara untuk pencegahan atau mengurangi resiko vertigo dapat dilakukan dengan beberapa langkah, diantaranya hindari gerakan kepala yang tiba-tiba, bangun dari tempat tidur secara perlahan, hindari stres berlebihan dan kelelahan, menjaga pola makan dan hindari konsumsi alkohol, rutin berolahraga untuk meningkatkan keseimbangan.
“Jika vertigo sering kambuh atau disertai gejala lain seperti kelemahan pada satu sisi tubuh, sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut. Poliklinik Neurologi hadir di RSUD Tigaraksa pada jadwal Senin, Selasa, dan Kamis setiap pukul 08.00 WIB hingga 12.00 WIB,” pungkasnya. (*)