SATELITNEWS.COM, TANGERANG—Siapa sangka, meski dunia makin serba digital, Tamiya mobil balap mini 4WD yang populer sejak era 90-an masih terus “ngegas” bahkan kembali naik daun dalam beberapa tahun terakhir. Tak hanya jadi ajang nostalgia, Tamiya kini menjelma jadi hobi yang serius, bahkan menghasilkan cuan.
Salah satu pelaku yang menjadi bagian dari geliat dunia Tamiya ini adalah Apri Rikardeni (40), penghobi sekaligus pemilik toko Arjuna Tamiya. Dia menuturkan pamor Tamiya mulai kembali naik empat tahun lalu. Namun baru benar-benar booming tahun ini.
“Sebenarnya sudah naik dari sekitar empat tahun lalu. Tapi yang benar-benar booming lagi itu setahun belakangan. Apalagi booming karena masuk Pekan Olahraga Nasional (PON) tahun 2024 kemarin,” ujarnya saat ditemui di tokonya yang berada di Pasar Modern Bintaro Mas, Jalan Parkit, Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Minggu (15/6).
Apri menceritakan bagaimana dirinya bisa tenggelam dalam mainan yang memiliki roda empat tersebut. Apri bukan pemain baru. Ia benar-benar aktif fokus pada tahun 2019. Kala itu, pandemi covid-19 sedang merebak, dan dirinya termasuk pekerja yang terdampak pemutusan kerja (PHK) dari sektor IT. Berawal dari itulah, perjalanan hobi Apri menjadi profesi.
“Mulai aktifnya lagi tahun 2019. Baru mulai main lagi, terus diajak sama teman waktu itu ikut lomba. Banyak teman, kenalan baru. Mulai dari situ tuh udah sering akhirnya ikut lomba. Terus diajak ikut event. Tapi makin lama makin serius, kenal banyak orang, terus ditawari jadi distributor,” ucapnya.

Kini, toko Arjuna Tamiya menjadi salah satu pusat kegiatan komunitas Tamiya di Tangsel. Bersama toko-toko lain di Jabodetabek, mereka tergabung dalam jaringan yang mengatur jadwal lomba harian hingga akhir pekan, demi menghindari bentrok dan memaksimalkan partisipasi para penggiat.
Baca Juga: PMI Kecamatan Pinang Salurkan Air Minum Bersih untuk Warga Cipete
Bicara soal mainan, identik erat bagi dunia anak-anak. Nyatanya persepsi itu telah beda cerita saat ini khususnya bagi penggila Tamiya. “Kalau ditanya soal pemainnya, sekarang 95 persen itu orang dewasa. Kebanyakan malah bapak-bapak kelahiran ’90-an awal,” ujar Denny seraya menyampaikan bahwa daya tarik Tamiya bukan cuma nostalgia, tapi juga teknis dan tantangan saat merakit dan mengikuti lomba.
Dari cerita Apri, event lomba Tamiya sendiri sangat terorganisir, dengan jadwal yang padat. Lomba harian biasanya jadi ajang pemanasan atau latihan, sedangkan akhir pekan menjadi puncak kegiatan dengan event-event besar dengan masing-masing kategori yang dilombakan.
Tiga kategorinya ialah Standard Tamiya Box (STB), dimana mobil yang dirakit sesuai standar kit pabrikan, dengan aturan ketat soal part yang boleh diganti. Lalu ada Side Damper adalah mobil yang dirakit dari awal secara terpisah, seringkali melibatkan modifikasi dan teknik tinggi, dan STOI, serupa dengan Side Damper, namun dilengkapi suspensi khusus. Setiap kelas punya regulasi masing-masing, dan diawasi langsung oleh komunitas serta standar dari Ikatan Motor Indonesia (IMI).
Hobi satu ini cukup merogoh kocek kantung cukup dalam, dan modal awal untuk bermain Tamiya memang bervariasi. Untuk kelas STB, cukup merogoh kocek Rp200.000-Rp300.000. Namun untuk kelas Side Damper atau STOI, bisa tembus Rp1,5 juta-Rp2,5 juta tergantung part dan keaslian komponennya. Penggunaan part original bisa membuat harga makin tinggi, meski suku cadang KW juga masih diperbolehkan di beberapa event.
Apri menyampaikan bahwa kejuaraan Tamiya tak main-main. Kini, dalam sebulan bisa ada satu hingga dua kejuaraan nasional yang lokasinya berpindah-pindah mulai dari Jakarta, Jawa Tengah, Surabaya, hingga kemungkinan luar Pulau Jawa.
“Saat ini Surabaya paling jauh saya ikuti. Kalau event terbesarnya itu baru belum lama ini kemarin sih kejuaran set damper. Kemarin itu total hadiahnya Rp500 juta, belum dapat podium dijadikan sebagai pengalaman,” jelasnya.
Selama menggeluti hobi masa duduk di bangku SD, Apri pun telah mengoleksi lebih dari sepuluh piala tingkat nasional, termasuk gelar prestisius di ajang Build to Order (BTO) kategori STB, penghargaan untuk mobil tercepat. Namun bukan hadiah uang atau piala yang jadi alasan utama Denny bertahan di dunia Tamiya.
Baca Juga: Ironi Miras Beredar dekat Kantor Kecamatan Cibodas
“Yang didapetin itu sebenarnya salah satunya dapet teman baru. terus pengalaman baru. Kepuasan sih yang paling penting ya. Karena kalau kita bisa kejuaraan itu menurut saya kepuasan yang lebih,” tegasnya.
Saat ditemui di kesibukannya di toko yang berada di lantai dua pasar, ia memberikan informasi bahwa lintasan Tamiya yang terbentang di depan tokonya akan ramai oleh pengunjung pada hari Selasa-Rabu setiap minggunya. Aktivitas itu bisa berlangsung sejak pukul 17.00 WIB hingga tengah malam tiba.
Ternyata, meski kecil secara ukuran, mobil Tamiya tetap punya kecepatan tinggi untuk terus melaju di tengah era digital. Dunia boleh berubah, tapi semangat komunitas dan keseruan adrenalin di lintasan mini 4WD tak pernah padam. (eko)

















