SATELITNEWS.COM, TANGERANG—Puluhan warga RT 01 RW 01 Kelurahan Jatiuwung, Kecamatan Cibodas Kota Tangerang kembali harus berjibaku dengan genangan air setiap kali hujan turun. Penyebabnya, sebuah bangunan yang berdiri di atas saluran drainase menyebabkan aliran air tersumbat hingga meluap ke permukiman warga.
Keluhan warga soal bangunan di Jalan Gatot Subroto RT 02 RW 01, Kelurahan Sangiang Jaya Kecamatan Periuk ini sebenarnya bukan hal baru. Persoalan ini sempat ramai dan viral pada tahun 2022. Bahkan sudah ditangani dalam pertemuan lintas instansi yang melibatkan dinas terkait, anggota dewan, camat, hingga aparat kepolisian. Namun, hingga kini bangunan yang diduga menutup jalur drainase itu tetap berdiri dan belum ada solusi nyata dari pemerintah.
Ketua RW 01 Kelurahan Jatiuwung, Agus menuturkan bahwa wilayahnya mengalami banjir hampir setiap hujan turun, bahkan ketika hanya berlangsung sebentar. Ia mengungkapkan bahwa sebelum bangunan itu berdiri, kawasan tersebut nyaris tak pernah tergenang karena drainase masih berfungsi dengan baik.
“Sebelum ada bangunan itu, air lancar, nggak pernah banjir. Tapi sekarang, drainasenya ditutup total. Air nggak bisa ngalir, ya akhirnya meluap ke wilayah kami. Dampaknya paling parah di RT 01 RW 01, sampai ke mushola Baitussalam,” ujar Agus, Minggu (29/6).
Menurut Agus, warga sudah berkali-kali menyampaikan keluhan ke berbagai instansi, termasuk Dinas PUPR, Dinas Perkim, hingga anggota DPRD dan camat. Namun keluhan itu tak kunjung membuahkan hasil.
“Waktu itu sekitar tahun 2022, masih zaman pak Camat Maryono, sempat ditinjau juga bareng anggota Dewan Saiful Millah. Tapi bangunannya tetap berdiri, tidak ada tindak lanjut,” tambahnya.
Baca Juga: Lubang di Jalan Raya Cadas Periuk Selesai Ditambal
Ujang, Ketua Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Kelurahan Jatiuwung sekaligus mantan RW 01, menyatakan bahwa bangunan di atas drainase itu menjadi akar permasalahan banjir yang memburuk sejak dua tahun terakhir. Ia bahkan menyebut bahwa saluran air sempat ditutup dengan karung-karung berisi sampah oleh pemilik bangunan, sehingga memperparah kondisi lingkungan saat hujan.
“Warga sampai angkat sendiri karung-karung itu karena air udah nggak bisa jalan. Tapi pemilik bangunan nggak terima. Kami tetap angkat karena kalau nggak, kami terus yang kena banjir,” tutur Ujang.
Ia menambahkan, saat hujan deras, air bisa mencapai betis orang dewasa bahkan masuk ke rumah kontrakan warga. Meski air surut dalam beberapa jam, frekuensi banjir yang sering terjadi membuat warga waswas setiap musim hujan datang.
Masalah ini telah beberapa kali dibawa ke forum resmi dan kunjungan lapangan. Menurut catatan warga, pertemuan tahun 2022 dihadiri berbagai unsur, termasuk perwakilan dari Dinas Perkim, Dinas PUPR, kepolisian, Babinsa, Binamas, hingga seluruh RT/RW dan lurah setempat. Namun hingga kini belum terlihat adanya tindakan konkret untuk membongkar atau mengalihkan bangunan yang menutup saluran air tersebut.
“Kalau aparat pemerintah mau serius, Insya Allah ini bisa selesai. Tinggal perlu komitmen dan keberanian menindak tegas,” kata Ujang.
Warga berharap pemerintah Kota Tangerang tidak menutup mata atas persoalan ini. Mereka mendesak agar bangunan yang menutup drainase segera ditindak sesuai aturan. Sebab, jika dibiarkan, banjir yang selama ini hanya sampai betis bisa saja memburuk dan membahayakan kesehatan serta keselamatan warga.
Baca Juga: Layanan SIM Keliling Kota Tangerang Jumat 7 Agustus, Cek Lokasinya
“Kami hanya ingin air bisa jalan lagi seperti dulu. Jangan tunggu makin parah baru bertindak,” pungkas Agus.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pemilik bangunan maupun dinas terkait soal tindak lanjut penanganan drainase di lokasi tersebut. (mg01)

















