SATELITNEWS.COM, PANDEGLANG – Potret kemiskinan di Kabupaten Pandeglang, masih sulit dientaskan. Salah satunya, nenek Salimah (66) warga Kampung Badur RT/RW 002/001, Desa Rancateureup, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang.
Selama puluhan tahun, Salimah hidup di rumah tidak layak huni, bersama anaknya, Salina (30), yang berkebutuhan khusus. Untuk bertahan hidup, nenek paruh baya ini biasa memulung melinjo atau buah pinang untuk kemudian diolah dan dijual.
Kedua orang itu, tinggal digubuk reyot dengan tembok yang terbuat dari anyaman bambu alias bilik, yang kondisinya sudah lapuk dan banyak bolong.
Bahkan, sebagian plafon atau atap rumahnya harus disangga menggunakan bambu, karena sudah lapuk dan rentan roboh.
Pada bagian dalam rumah, hanya beralaskan tanah tanpa ada keramik atau marmer. Bahkan, dibeberapa titik, atap rumahnya mengalami kebocoran ketika musim hujan, dan tidak ada peralatan rumah tangga yang mewah di dalamnya.
Kondisi itu sudah dia alami, selama puluhan tahun tanpa pernah mendapatkan bantuan perbaikan rumah dari Pemerintah Daerah. Ditengah gempuran tidak stabilnya perekonomian, nenek tua ini tetap bertahan hidup dengan cara mengais rezeki, dari buah melinjo dan pinang.
Baca Juga: Sidak WP, DPRD Pandeglang Canangkan Revisi Perda Pajak Daerah
Meski hanya mendapatkan beberapa rupiah, namun hal itu tetap dia syukuri dan dipergunakan untuk bertahan hidup. Miris memang, ditengah mewahnya kehidupan para pejabat dan sebagian kalangan, justru angka kemiskinan masih terjadi dan sukit dientaskan.
Berbagai program kerja disemua instansi pemerintahan, menggunakan anggaran yang tidak sedikit, dana yang berasal dari masyarakat itu harusnya kembali lagi untuk kepentingan masyarakat.
Bukan kemewahan yang didambakan nenek Salimah, melainkan hanya ingin tempat tinggalnya mendapat perbaikan. Bukan juga meminta dibuatkan istana, tetapi paling tidak terlihat lebih layak dan nyaman untuk ditinggali.
Diusianya yang sudah senja, ditambah harus merawat anaknya yang berkebutuhan khusus, bukanlah perkara mudah, terlebih kondisi perekonomian yang ada dibawah garis kemiskinan.
Seharusnya, Pemkab Pandeglang menaruh perhatian khusus untuk kasus seperti ini, karena kemiskinan dan ketertinggalan daerah kerap dijadikan sebagai tiket mendapatkan bantuan dari Pemerintah Pusat maupun Pemprov Banten.
Ditengah cuaca yang tidak menentu saat ini, janda miskin asal Kecamatan Labuan itu kerap merasa waswas, karena khawatir rumahnya roboh. Kekhawatiran itu muncul, karena kondisi rumahnya yang sudah tidak layak huni dan sebagian besar bangunan sudah lapuk dan rentan roboh.
Baca Juga: UPT Puskesmas Bojong Pandeglang Bahas Kesehatan Masyarakat
Selama hidupnya, dia hanya ingin mendapatkan bantuan perbaikan rumah, agar bisa lebih tenang dan tidak terganggu ketika terjadi hujan lebat dan angin kencang.
Usaha itu sudah sering disampaikan kepada pemerintah setempat, namun tidak kunjung ada kejelasan. “Mau bagaimana lagi, kondisinya sudah begini,” ucapnya pasrah, Rabu (2/7/2025).
Kehidupan sehari-harinya, jauh dari mewah, seperak dua perak uang yang didapat dari menjual olahan melinjo dan buah pinang itu, dibelikan beras dan kebutuhan untuk makan. Bukan dari kebun sendiri, melainkan didapat dari memulung di kebun orang lain.
“Atuh kitu bae nyiar, aya ieu (buah-red) di bawa, boga batur kitu nyah menang mulung. Mulung lain ngala. Jebug jeung di jual deui. (Ya begitu tiap hari mencari, ada ini buah pinang dan melinjo di bawa, punya orang dapat memulung. Dapat memulung, bukan mengambil. Buah pinang buat di jual lagi-red),” tambahnya.
Uang yang didapat itu, tidak pernah lebih melainkan hanya cukup untuk bertahan hidup sehari-hari. Setiap hari, dia selalu mencari buah melinjo dan buah pinang, untuk diolah kemudian dijual lagi agar bisa mendapatkan uang.
“Atuh ieu ja, ieu la ngajual ieu la, menang sakilo tah dua kilo. Ke itu di poe di belahan. Ke geus eta di jual, ke kabeuli saliter setengah, dua liter beras (Ya begitu menjual buah ini, dapat sekilo atau dua kilo. Nanti ini di jemur di belah. Udah gitu di jual, nanti kebeli beras satu liter, dua liter)-red),” tukasnya.
Husen (73), warga setempat mengaku, sering mengajukan bantuan untuk perbaikan rumah kepada Pemkab Pandeglang, melalui Pemerintahan Desa dan Pemerintahan Kecamatan. Akan tetapi, sampai saat ini usulan yang sering disampaikan itu belum pernah terealisasi.
“Setap hari, dia paling kalau ada melinjo di kebun orang dia mulung, terus di olah untuk di jual. Tiap hari itu. Saya minta kepada pemerintah atau yang kuasa di pemerintah, tolong untuk tidak tinggal diam karena kondisinya tidak layak,” pungkasnya.
Dikonfirmasi terpisah, Ketua Komisi IV DPRD Pandeglang Tb Udi Juhdi, mengaku akan segera menyampaikan kondisi tersebut kepada instansi terkait, agar bisa mendapatkan bantuan. Dia berharap, usulan yang disampaikan itu bisa segera ditindaklanjuti.
“Kita akan segera sampaikan, semoga saja bisa ditindaklanjuti. Kita juga akan coba tanyakan, ada berapa yang membutuhkan bantuan perbaikan rumah, supaya bisa dirumuskan bagaimana caranya agar bisa dibantu,” imbuhnya.(adib)
























