SATELITNEWS.COM, TANGSEL--Warga Kelurahan Benda Baru, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) kembali mendatangi SMAN 3 Tangsel, pada Minggu (13/7/2025).
Kedatangan mereka untuk melakukan mediasi dengan pihak SMAN 3 Tangsel terkait tuntutannya agar 33 calon siswa dari sekitar sekolah diterima dalam Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2025.
Sebelumnya, warga setempat telah melakukan aksi unjukrasa pada Senin 2 Juli 2025 lalu.
Pantauan di lokasi, puluhan warga yang tergabung dalam tujuh RW itu masuk ke dalam sekolah untuk bertemu dengan pihak sekolah. Kali ini, mereka datang tanpa pengeras suara, poster tuntutan hingga amarah. Warga pun disambut baik dengan langsung melaksanakan mediasi secara terbatas.
Mediasi di dalam gedung sekolah mulai berlangsung sekitar pukul 09.20 WIB disambut Kepala SMA Negeri 3 Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Aan Sri Analiah. Nampak hanya beberapa perwakilan warga yang masuk ke dalam dikarenakan keterbatasan ruang. Selain warga, pertemuan itu juga diikuti Lurah Benda Baru, Doddy Dores. Mediasi berlangsung sampai sekitar 11.30 WIB.
Pihak sekolah kemudian hendak membongkar portal yang sebelumnya telah dipasang warga dalam aksi unjuk rasa sebelumnya.
Baca Juga: Doa Bersama untuk 5 Jurnalis dan 3 Awak Kapal Digelar di Islamic Center Tangsel
Warga yang menunggu di depan sekolah kemudian naik pitam. Akhirnya, dikarenakan adanya suasana panas itu, pembongkaran portal ditunda.
“Warga sudah menandatangani tidak mungkin dibuka kalau yang 33 siswa tidak masuk,” ucap warga dengan nada keras saat pihak sekolah hendak membongkar portal tersebut.
Ketua Wong Pitoe, Ahmad mengatakan bahwa hasil mediasi terdapat empat poin kesepakatan. Kesepakatan pertama soal transparansi pihak sekolah mengenai data siswa yang diterima.
“Kedua kita juga ke depan untuk bisa memperhatikan warga RW Wong Pitoe ini akan mendapatkan akomodasi untuk anak-anak. Ketiga adalah memberikan data daftar anak-anak yang memang warga kita yang sudah diterima karena kita butuh cek dan ricek, dan terakhir soal sejarah dilingkungan ini ada tokoh-tokoh kita soal sekolah ini,” ujarnya di lokasi.
Setelah adanya pembacaan hasil mediasi di dalam sekolah, rupanya warga yang menunggu diluar tidak puas . Alhasil, perundingan yang berlangsung di depan sekolah deadlock, pihak sekolah kembali masuk ke dalam sekolah.
Kepala Sekolah SMA Negeri 3 Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Aan Sri Analiah mengatakan bahwa tidak dapat menjanjikan apa pun atas apa yang terjadi. Bahkan, bisa dibilang dirinya pasrah akan permasalahan tersebut.
Baca Juga: Jurnalis Asal Tangsel Hilang di Kawasan GAK, Ketua RT Berharap Ditemukan Selamat
“Dalam pertemuan kami ada beberapa hal yang diajukan terkait untuk mengakomodir saya akan mengusahakan akan menyampaikan itu semua kesepakatan akan disampaikan ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi banten,” paparnya.
“Saya mohon maaf jika saya tidak bisa mengakomodir 33 siswa yang memang tidak masuk SMAN 3 Tangsel, tidak ada yang diakomodir dari mana pun jangankan dari luar, contoh dari warga sendiri saja tidak bisa saya bantu,” sambungnya.
Aan pun menawarkan kepada para wali siswanya untuk mendaftarkan anaknya ke sekolah swasta gratis yang sudah bekerjasama dengan pemerintah. Hal itu, kata dia, sebagai upaya yang bisa dilakukan oleh pihaknya.
“Sebagai solusi tadi saya sampaikan silahkan bapak ibu untuk mendaftarkan siswanya ke sekolah swasta gratis yang sudah menjadi program dari Pemerintah Provinsi Banten. Silahkan didata siswanya yang akan mendaftar ke sekolah mana nanti saya buatkan surat pengantarnya,” jelasnya.
Diberitakan sebelumnya, ratusan warga Kelurahan Benda Baru, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menggelar aksi demonstrasi di depan SMP Negeri 3 Tangsel, pada Senin (2/7/2025). Mereka memprotes proses sistem penerimaan murid baru (SPMB) yang dinilai tidak adil dan merugikan warga sekitar sekolah.
Aksi ini dipicu oleh banyaknya anak-anak dari lingkungan sekitar sekolah yang gagal diterima, meskipun tinggal sangat dekat dan memiliki nilai akademik yang cukup tinggi. (eko)
























