SATELITNEWS.COM, LEBAK—Kehadiran Sekolah Rakyat (SR) di Kabupaten Lebak mendapat respons positif. Pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) digelar di gedung sementara Badan Penjamin Mutu Pendidikan (BPMP) Banten, di Jalan Siliwangi, Kecamatan Rangkasbitung sebelum nantinya di Kecamatan Panggarangan.
Ada pun siswanya mencapai 200 orang, di mana 100 orang merupakan siswa SMA, sementara 50 orang tingkat SLTP dan 50 orang lagi untuk tingkat SD. Semangat pun dirasakan pada pelaksanaan KBM di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 34 Kabupaten Lebak, Senin (25/8/2025). Siswa-siswi di masing-masing kelas nampak antusias mengikuti setiap kegiatan yang diajarkan oleh gurunya.
Sekolah Rakyat dengan sistem boarding memiliki cerita tersendiri yang dialami siswa maupun siswi. Yang tadinya memiliki kebiasaan kurang disiplin, kini setelah menjadi siswa SR hidup jadi teratur. Salah satunya dirasakan siswa Awaludin.
Kata dia, usai menjalani serangkaian kegiatan di Sekolah Rakyat dirinya merasa lebih baik lagi dalam mengatur waktu.”Awal di sini agak kaget ya, biasa bangun jam jam enam, di sini sekarang bangun jam empat pagi,” kata siswa asal Kecamatan Cipanas, Kabupaten Lebak ini.
Keterbatasan ekonomi membuat Awal harus putus sekolah lantaran orang tua yang hanya buruh harian lepas tak mampu menyekolahkan dirinya. Maka, dengan kehadiran Sekolah Rakyat Awal mengaku antusias dan betah. Menurutnya dirinya mendapatkan banyak pengalaman dan teman baru karena berada di asrama. “Allhamdulillah betah ya, kalau untuk makanan semuanya cocok. Kalau pelajaran agak sulit, tapi alhamdulillah untuk saat ini sudah lancar,” pungkasnya.
Sementara, Kepala Sekolah SRMA 34 Lebak Chandra Lestiana Budiharja menyampaikan selama pelaksanaan tiga KBM semuanya berjalan dengan lancar. “Tidak ada kendala berarti karena dukungan yang luar biasa dari banyak pihak. Iya, masih lengkap. Jadi ada 51 siswa dan 49 siswi, enggak ada,” kata Chandra.
Baca Juga: Perubahan APBD 2026: Pemkot Tangsel Tambah Anggaran Pendidikan, Kesehatan hingga Infrastruktur
Ia menambahkan, bahwa sempat awal pelaksanaan ada siswa mengundurkan diri karena ada masalah keluarga. Namun saat ini kendala tersebut sudah dapat ditangani. Lebih lanjut, bahwa pihaknya senantiasa terus menjalankan program dari sekolah rakyat karena merupakan program pemerintah.
“Jadi sempat waktu awal-awal ada satu yang orang tuanya tidak berkenan ya mengundurkan diri karena ada masalah keluarga begitu. Ada perceraian oleh orang tuanya sehingga ingin anaknya diambil kami tidak bisa memaksakan,” tuturnya. “Ini juga program bersifat partisipatif tidak ada paksaan,”tambahnya. (mulyana)
























