SATELITNEWS.COM, LEBAK—Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW diwarnai tradisi unik di Kabupaten Lebak. Bila sebelumnya ada tradisi Ngatir, kali ini tak kalah menariknya adalah melantunkan zikir sembari berbaris berhadapan menggunakan kipas dari anyaman bambu. Kebiasaan ini dilakukan warga Kampung Cikunting, Desa Cibungur, Kecamatan Cigemblong.
Menurut warga, zikir Maulid menggunakan kipas dari anyaman bambu merupakan tradisi turun temurun yang terus dijaga oleh generasi ke generasi. Suasana syahdu menyelimuti perkampungan ketika ratusan warga dari berbagai usia, mulai anak-anak hingga orang tua, duduk berjejer sembari melantunkan zikir dari kitab Al-Barzanji.
Di tangan mereka tergenggam kipas anyaman bambu yang terus diayunkan, menciptakan harmonisasi antara doa, gerakan, dan semilir angin. Seakan setiap hembusan kipas membawa harapan serta doa kepada Allah SWT.
“Tradisi ini sudah ada sejak sekitar tahun 1955, diwariskan dari para sesepuh. Bacaan yang dilantunkan adalah kitab Barzanji karya Syekh Ja’far al-Barzanji, seorang ulama sufi abad ke-18,” kata Ahmad, tokoh masyarakat setempat, Kamis (11/9/2025).
Ahmad menjelaskan, zikir menggunakan kipas tersebut bukan sekadar pelengkap. Kipas bambu yang digunakan memiliki filosofi mendalam. Kipas menjadi simbol pengingat kewajiban utama umat Islam, yaitu salat, puasa, dan mengaji, sekaligus melambangkan kerendahan hati dalam mengharap ridha Allah SWT. “Ini menurut sesepuh sebagai simbol hukum Islam. Jadi maknanya bukan sekadar kipas, tapi mengingatkan salat, puasa, dan mengaji,” jelasnya.
Ahmad menuturkan, setelah selesai zikir, warga kemudian melanjutkan tradisi dengan saweran, yakni membagikan uang dan hadiah kecil kepada peserta sebagai bentuk rasa syukur. Perayaan pun semakin semarak saat ritual dandang digelar. Wadah besar berisi buah-buahan, pakaian, hingga aneka makanan diarak lalu dibagikan kepada seluruh warga, melambangkan kebersamaan dan rezeki yang merata. “Isinya macam-macam, ada pakaian, samping, sampai makanan. Pokoknya banyak,” kata Ahmad.
Baca Juga: Hadiri Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Wabup Iing Tegaskan Ini
Sementara menurut salah seorang tokoh masyarakat lainnya Ace, mengungkapkan, bahwa tradisi ini kini kian langka. Ace, menyebutkan bahwa dahulu zikir kipas bambu digelar di delapan kampung. Kini hanya dua kampung yang masih melestarikannya, yaitu Kampung Cikunting dan Kampung Cilangkahan, dengan jadwal pelaksanaan bergiliran setiap tahun. “Ya bergiliran. Tahun lalu di Kampung Cilangkahan, nah tahun ini di Kampung Cikunting,” ucapnya.
Ace menambahkan, meski tradisi zikir ini tergerus oleh zaman, namun warga berharap tradisi ini tidak hilang dan selalu bisa dijaga oleh generasi muda mendatang. “Sekarang dunia makin modern. Tradisi ini jangan sampai hilang. Karena ini bukan hiburan, tapi salawatan, puji-pujian kepada Nabi dan Allah SWT,” tegas Ace.
“Zikir dengan kipas bambu bukan semata ritual tahunan. Ia adalah identitas budaya, ruang silaturahmi, dan bukti cinta mereka kepada Nabi Muhammad SAW. Di tengah perubahan zaman, tradisi ini menjadi pengingat bahwa modernisasi boleh datang, tapi kearifan lokal harus tetap dijaga,” tandasnya.(mulyana)
























