SATELITNEWS.COM, SERANG – Pemprov Banten menargetkan produksi gabah kering giling (GKG) ditahun ini sekira 1,85 juta ton. Jumlah itu lebih banyak dibandingkan tahun 2024 lalu, yaitu hanya sebanyak 1,501 juta ton GKG.
Sekretaris Daerah (Sekda) Pemprov Banten Deden Apriandhi Hartawan mengatakan, pihaknya terus menargetkan peningkatan produksi GKG setiap tahun. Tindakan itu dilakukan, selain karena areal pertanian yang luas, juga sebagai upaya menjadi salah satu lumbung pangan nasional.
“Pada 2024, Provinsi Banten mencatat 1,501 juta ton gabah kering giling. Tahun 2025, angka itu diproyeksikan naik ke 1,73 juta ton, bahkan ditargetkan menembus 1,85 juta ton,” katanya, Minggu (14/9/2025).
Deden menerangkan, dengan terus bertambahnya produksi GKG setiap tahun, menjadikan Provinsi Banten sEbagai salah satu daerah penyuplai atau pemasok gabah terbesar secara nasional. Capaian itu, akan terus ditingkatkan agar Provinsi Banten bisa menjadi lumbung pangan nasional.
“Dengan capaian tersebut, Provinsi Banten kini berada di posisi ke delapan provinsi produsen padi terbesar nasional. Ini bukan hanya prestasi, tapi tantangan agar kita tetap menjaga produktivitas sekaligus meningkatkan kualitas hasil pertanian,” tambahnya.
Deden mengatakan, agar target tersebut dapat terealisasi dengan baik, pihaknya sudah mengalokasikan anggaran cukup besar untuk menopang peningkatan hasil pertanian. Pada pos Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) murni tahun 2025, pihaknya menggelontorkan anggaran hingga Rp8,8 Miliar.
Baca Juga: Kasus ISPA Capai 4.500, Pemprov Banten Perpanjang PJJ
“Anggaran itu, ditambah Rp4,3 miliar dalam APBD Perubahan 2025. Dana itu dialirkan untuk penyediaan benih dan pupuk, alsintan, peningkatan kapasitas petani dan penyuluh, hingga pembangunan infrastruktur pertanian,” kkbnya.
Deden menerangkan, pihaknya juga sudah membuat beberapa program lain untuk mendukung dunia pertanian, salah satunya melalui pengembangan padi Gogo di Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak.
“Untuk pengembangan padi ini, kita targetkan kebutuhan lahan sampai 15.417 hektare. Sementara intensifikasi melalui penyediaan benih unggul, pupuk bersubsidi sampai 82.904 ton, serta distribusi alat dan mesin pertanian,” ujarnya.
Dia menerangkan, sebelumnya Pemprov Banten sempat kesulitan mengatasi beberapa persoalan didunia pertanian, terutama terkait akses untuk mengangkut hasil panen. Namun, ditahun 2025 ini persoalan itu mulai diselesaikan secara bertahap oleh Gubernur Banten Andra Soni.
“Salah satunya di Kabupaten Lebak, kita bangun jalan usaha tani sepanjang 7,5 kilometer. Sebelum jalan dibangun, biaya angkut panen dari 3.000 hektare lahan mencapai delapan miliar per musim. Setelah ada jalan, biayanya hanya sekitar dua miliar. Ada efisiensi enam miliar yang langsung menambah keuntungan petani,” tuturnya.
Kepala Dinas Pertanian Banten Agus M Tauchid mengatakan, JUT merupakan salah satu akses vital para petani. Sarana tersebut bisa menjadi salah satu pintu menutup pembengkakan biaya produksi para petani di Banten dan memaksimalkan pendapatan dari hasil penjualan gabah atau hasil panen.
Baca Juga: Pengadaan 500 Ribu Perumahan Di Banten Terkendala Lahan
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh pihaknya, setidaknya Provinsi Banten harus bisa membangun JUT sepanjang 80 kilometer dan tersebar di semua wilayah di Banten. Dengan begitu, para petani bisa merasakan dampak dari hasil pengolahan lahan mereka.
“Kita sudah melakukan penelitian, dan dari hitungan sementara kita, setidaknya kita membutuhkan 80 kilometer JUT tersebar di Kabupaten Lebak, Pandeglang, Serang, dan Tangerang, dan itu sedang kita usahakan,” ungkapnya.
Agus meyakini, JUT yang memadai bisa menjadi salah satu faktor meningkatnya perekonomian para petani, karena mereka tidak lagi mengeluarkan biaya tambahan untuk mengangkut hasil panen dari sawah ke lokasi penyimpanan.
“Disinilah pentingnya kehadiran negara, kita usahakan agar kedepan semua JUT bisa terbangun, karena dengan begitu, para petani kita bisa lebih sejahtera dan meningkat perekonomiannya,” imbuhnya. (adib)
























