SATELITNEWS.COM, LEBAK—Lebak menjadi salah satu kabupaten di Provinsi Banten dengan wilayah yang kerap dilanda fenomen tanah bergerak. Berdasarkan catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, terdapat 27 kecamatan yang masuk rawan bencana alam tersebut. Atau dengan kata lain hampir seluruh kecamatan masuk dalam zona tersebut.
Ancama tanah bergerak membayangi hampir seluruh wilayah Kabupaten Lebak. Dari 28 kecamatan yang ada, 27 di antaranya masuk kategori rawan pergerakan tanah. Mulai dari kawasan pegunungan hingga permukiman padat penduduk. Hanya Kecamatan Rangkasbitung yang dinilai relatif aman. Kendati begitu, masyarakat tetap diminta waspada karena potensi bencana dapat terjadi sewaktu-waktu.
“Dari 28 kecamatan di Lebak, sebanyak 27 kecamatan rawan bencana pergerakan tanah. Hanya satu kecamatan yang relatif aman, yaitu Kecamatan Rangkasbitung, sementara yang paling tinggi berada di Kecamatan Bojongmanik, Cibeber, Muncang, Sobang,dan Leuwidamar,” kata Kepala BPBD Lebak Febby Rikzi Pratama, Minggu (21/9/2025).
Febby mengungkapkan, Kabupaten Lebak dikenal sebagai wilayah yang kerap terdampak pergerakan tanah. Sejumlah kejadian tercatat sejak 2019 di Kampung Jampang, Desa Sudamanik, Kecamatan Cimarga, Kampung Curugpanjang, Kecamatan Cikulur pada 2022, serta di Kecamatan Cihara pada 2024.
“Kejadian terbaru terjadi di Kampung Cipasung, Desa Sukarendah, Kecamatan Warunggunung, dan di Kampung Sukadaya, Kecamatan Cikulur,” ujar Febby. Menurut Febby, faktor utama pemicu pergerakan tanah di Lebak adalah kondisi geografis dan struktur tanah yang labil, diperparah curah hujan tinggi sepanjang tahun.
“Daerah Kabupaten Lebak memang memiliki kerentanan tanah menengah hingga tinggi. Tren pergerakan tanah ini juga semakin meningkat,” katanya.
BPBD Lebak yang terus melakukan pemantauan dan berkoordinasi dengan pemerintah desa untuk mengantisipasi potensi bencana lanjutan. Febby mengimbau warga tetap waspada dan segera melapor jika menemukan retakan tanah atau tanda-tanda pergeseran di sekitar permukiman. “Kami tahun depan akan memitigasi pergerakan tanah dengan membuat peta KRB (Kawasan Rawan Bencana),” tambah Febby.
Lebih lanjut kata Febby, BPBD Lebak juga tengah berkoordinasi dengan Badan Geologi terkait penanganan sejumlah kejadian pergerakan tanah di daerah yang terjadi. Hal itu dimaksudkan untuk mengetahui kultur dan meminimalisir korban jiwa. “Trennya meningkat mulai dari Cimarga hingga Cikulur Raya. Kita perlu langkah bersama untuk menanggulangi peristiwa tersebut,” pungkasnya. (mulyana)