SATELITNEWS.COM, SERANG – Pernyataan Gubernur Banten Andra Soni, terkait pertanian bagian dari investasi ditanggapi beragam oleh berbagai kalangan. Ada yang memberikan dukungan, ada juga yang memberikan pandangan kebijakan Pemprov Banten masih lemah, dalam melindungi lahan-lahan produktif.
Pengamat kebijakan publik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Doktor Ikhsan Ahmad mengatakan, Pemprov Banten perlu menggeser mindset pembangunan. Oleh karena, investasi bukan berarti ekspansi lahan terus-menerus.
“Kita harus mendorong investasi berbasis value creation, bukan sekadar land grabbing. Misalnya, memperkuat sektor digital, industri berbasis inovasi, atau hilirisasi pertanian dan UMKM lokal, yang justru bisa menghidupkan desa tanpa harus merusak ruang hidupnya,” katanya, Senin (29/9/2024).
“Kalau pemerintah hanya mengejar angka investasi, tapi abai terhadap dampak ekologis dan sosial, maka akan ada biaya sosial yang jauh lebih mahal ke depan,” sambungnya.
Dia mengatakan, jenis investasi yang cocok dan punya prospek besar di Banten yaitu agraria. Oleh karena, Banten punya keunggulan geografis dan sumber daya manusia yang bisa dioptimalkan untuk sektor-sektor strategis.
Selain industri manufaktur yang sudah kuat, ke depan investasi yang berbasis teknologi bersih, ekonomi hijau, dan industri kreatif sangat potensial. Kawasan pesisir dan budaya lokal juga bisa jadi basis pengembangan ekowisata yang berkelanjutan.
“Tapi ini semua harus dikemas dalam perencanaan tata ruang dan regulasi yang konsisten agar tidak merusak lingkungan atau meminggirkan masyarakat lokal,” tandasnya.
Selain itu, kata dia, Pemprov juga harus bisa menjaga keamanan dan kenyamanan investor dari gangguan oknum. Soalnya, persoalan ini masalah klasik tapi belum selesai-selesai. Banyak oknum di lapangan yang memanfaatkan celah birokrasi, untuk mencari rente ekonomi, termasuk oknum-oknum berbaju LSM di lapangan.
Kalau ini dibiarkan, bukan cuma investor yang dirugikan, tapi citra daerah juga akan rusak. Pemprov harus tegas membangun sistem pengawasan yang berbasis transparansi dan digitalisasi perizinan. Jangan hanya menyederhanakan prosedur, tapi juga menjamin integritas di lapangan.
“Kalau perlu, bentuk satuan tugas khusus untuk memantau dan menindak penyimpangan dalam proses investasi,” tukasnya.
“Bagi saya, investasi itu bukan cuma urusan ekonomi, tapi juga komunikasi bagaimana pemerintah membangun kepercayaan, memastikan keadilan ruang, dan merawat partisipasi publik. Itu yang akan jadi fondasi investasi yang berkelanjutan,” tutupnya.
Dia mengatakan, Pemprov Banten harus bisa memanfaatkan peluang investasi pertanian dan perkebunan agar tidak selalu mengutamakan investasi manufaktur. Oleh karena, berdasarkan informasi yang didapat, realisasi investasi baru tercapai Rp60 Triliun dari target Rp119 Triliun.
Secara angka, lanjutnya, realisasi investasi yang baru menyentuh sekitar 50 perden lebih dari target memang patut kita apresiasi, tapi juga harus jadi bahan refleksi kritis. Artinya, ada gap besar yang belum tertutup, dan waktu yang tersisa di tahun berjalan ini sangat terbatas. Kalau kita objektif, besar kemungkinan target Rp119 triliun tidak tercapai.
“Ini bukan sekadar soal angka, tapi tentang bagaimana perencanaan, eksekusi kebijakan, dan kualitas iklim investasi kita dievaluasi secara serius. Bandingkan Banten dengan Jawa Barat atau Batam. Kalau melihat Banten masih rawan konflik sosial, infrastruktur belum merata, dan ada ketidakpastian hukum,” pungkasnya.
Dosen Akuntansi Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) Banten Tanda Setiya mengatakan, ada beberapa kendala yang tidak pernah terselesaikan terkait investasi manufaktur, seperi perizinan yang masih rumit di lapangan, koordinasi antarlembaga yang belum solid, serta kepastian hukum yang belum sepenuhnya dirasakan oleh investor.
“Belum lagi persoalan infrastruktur pendukung yang timpang antara wilayah industri dan kawasan perdesaan. Semua ini menghambat investor masuk dengan keyakinan penuh,” tuturnya.
“Kalau kita jujur, problemnya bukan cuma faktor global. Justru banyak kendala internal yang belum tertangani secara sistematis,” sambungnya.
Dia memprediksi, disisa tahun berjalan yang ada, besar kemungkinan target itu tak tercapai. Jika dilihat secara nasional, pertumbuhan ekonomi meningkat atau bagus. Seharusnya ini juga diikuti oleh pertumbuhan investasi di daerah, kalau tidak berarti timpang.
Terkait pertumbuhan capaian target investasi di Provinsi Banten, yang capainya pada kisaran 50 persen dari target hingga akhir tahun, ini berat bisa dicapai hingga akhir tahun.
“Namun perlu ditelisik lebih jauh apa sebab-sebab masih seretnya capaian investasi ini. Secaa umum investor di akhir tahun sudah agak lesu untuk berburu atau menanamkan investasinya,” ucapnya.
Dia mengatakan, perencanaan target investasi yang kurang akurat tentu akan berpengaruh terhadap capaian investasi. Kemudian, promosi, alau peluang investasi bagus namun tidak di promosikan dengan bagus pada investor yang tepat dengan cara yang tepat, tentu bisa jadi penyebab seretnya capaian investasi.
Selanjutnya kondisi eksternal, faktor eksternal saat ini sangat besar memberikan dampak terhadap keputusan investor akan menanamkan investasinya atau menahan investasinya.
“Kondisi eksternal sangat besar menjadi alasan bagi investor, kondisi global dan internal negara, hitungan bisnis, danfaktor eksternal lainnya sangat besar memperngaruhi keputusaninvestasi,” paparnya.
Dia menyarankan, agar Pemprov melakukan investasi tanpa harus mengorbankan lahan perdesaan seperti pertanian, perkebunan, dan lainnya. Kebijakan investasi tentu harus dilakukan kajian yang mendalam dengan memperhitungkan berbagai faktor.
Apalagi di era Sustainable development goals (SDGs) ini, setiap Keputusan investasi tentu harus memperhatikan masalah Environment, Ekonomy, Social dan Governance.
“Mau investasi di sektor apapun keempat hal tersebut harus menjadi perhatian, karena pihak investorpun sekarang juga harus ikut kebijakan global terkait dengan inventasi yang di tanamkan,” cetusnya.
Sebelumnya diberitakan, Pemprov Banten menjadikan sektor pertanian sebagai salah satu bentuk investasi di Banten. Terkait hal itu, Gubernur Banten Andra Soni menjanjikan akan memberikan perhatian lebih terhadap dunia pertanian, terutama para petani.
Pesan itu disampaikam Andra diacara Pekan Daerah Kelompok Tani Nelayan Andalan (PEDA KTNA) Provinsi Banten 2025 yang dimulai sejak Jumat-Selasa (26-30/9/2025).
Andra mengatakan, sektor pertanian masuk dalam investasi karena banyak hal, selain dari segi perekonomian, sektor pertanian juga harus didikung oleh teknologi moderen agar memudahkan para petani menggarap lahan pertanian dan perkebunan.
Selain itu, penggunaan teknologi pada sektor pertanian akan berdampak positif terhadap peningkatan hasil produksi pada pasca panen.
“Penggunaan teknologi yang sudah dilakukan, harus terus ditingkatkan,” imbuhnya, Sabtu (27/9/2025). (adib)