SATELITNEWS.COM, SERANG – Pemprov Banten, menaruh perhatian serius dalam penguatan perekonomian di Banten. Salah satunya, dengan cara memberikn dukungan terhadap penguatan ekonomi syariah, sebagai upaya membangun dan meningkatkan kesejahteraan umat.
Pernyataan itu, disampaikan Wakil Gubernur Banten Achmad Dimyati Natakusumah, di acara Sahabat Ibu Cakap Literasi Keuangan Syariah (Si Cantiks) yang diselenggarakan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Balai Baladika Grup 1 Kopassus, Jalan Raya Serang–Cilegon, Kelurahan Taman Baru, Kecamatan Taktakan, Kota Serang, Selasa (7/10/2025).
Wakil Gubernur Banten Achmad Dimyati Natakusumah mengatakan, Provinsi Banten merupakan salah satu daerah yang religius, sehingga peran perbankan syariah bisa berkembang dengan baik. Serta bisa memberikan manfaat besar bagi masyarakat Banten.
“Terima kasih telah menyelenggarakan kegiatan ini di Provinsi Banten sebagai daerah yang religius dalam menggencarkan ekonomi syariah. Syariah akan menyelamatkan kita karena berbasis bagi hasil dan menciptakan usaha yang baik dan benar,” katanya.
Dia mengatakan, salah satu peran penting perbankan syariah yaitu untuk mengelola keuangan secara halal dengan tujuan menghindari riba dan hal-hal yang bersifat syubhat. Hal itu, kata dia, menjadi modal besar untuk menggerakkan perekonomian masyarakat.
“Jika berbicara syariah, ada lima komponen yang harus diperhatikan yaitu halal, haram, makruh, syubhat, dan sunah,” tambahnya.
Baca Juga: Buka Kejurda Mini Soccer, Wagub Dimyati Ingatkan Pentingnya Kerja Sama Tim
Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi mengatakan, perempuan adalah ibu yang mendidik anak-anak untuk kelak menjadi penentu masa depan bangsa sebagaimana pesan yang disampaikan R.A Kartini.
Kata dia, salah satu fokus OJK dalam perlindungan konsumen dan masyarakat adalah pemberdayaan perempuan di bidang keuangan. Sebab, perempuan merupakan kelompok yang rentan terhadap berbagai skema penipuan.
“Penting bagi ibu-ibu untuk belajar tentang keuangan,” tandasnya.
Dia memberikan tips kepada peserta, agar mampu membedakan pinjaman online (pinjol) legal dan ilegal. Menurutnya, perempuan dan remaja kini rawan terjerat pinjol ilegal.
“Ciri pinjol legal, ingat kata Camila singkatan dari camera, microphone, dan location. Sedangkan pinjol ilegal biasanya meminta akses ke data kontak kita untuk menagih,” tukasnya.
Dia juga menerangkan, ada beberapa jenis penipuan yang marak terjadi di masyarakat, seperti penipuan transaksi daring, melalui media sosial, transaksi atas nama pihak lain, phishing, dan sebagainya.
Baca Juga: Berbeda Dengan Jabar, Bayar Pajak Kendaraan Di Pemprov Banten Tetap Pakai KTP Pemilik Pertama
OJK, lanjut Friderica, berkomitmen bekerja sama dengan berbagai pihak untuk memperluas literasi keuangan syariah. Saat ini, tingkat literasi keuangan syariah di Indonesia mencapai 43 persen dengan tingkat inklusi 13,41 persen.
“Sehingga perlu didorong terus” pungkasnya.
“Pentingnya pengelolaan keuangan yang bijak, antara lain dengan memahami kondisi keuangan, menabung secara konsisten, membedakan kebutuhan dan keinginan, bijak dalam berutang, menyiapkan dana darurat, serta berani menolak ajakan yang tidak perlu,” sambungnya.
Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Banten, Irna Narulita mengatakan, kegiatan ini memberikan ruang bagi perempuan yang memiliki kontribusi besar untuk memperoleh pelatihan dan berdiskusi secara berkelanjutan.
“BKOW akan terus menjembatani perempuan-perempuan hebat untuk terus berkembang dan bekerja sama,” ujat Irna.
Ketua Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS) Provinsi Banten mengatakan, ada sebanyak 754 peserta merupakan kader dan pimpinan yang akan melaksanakan literasi keuangan syariah di Provinsi Banten. Kegiatan ini, lanjutnya, merupakan bagian dari upaya peningkatan kesejahteraan keluarga.
Baca Juga: Malaysia – Banten Jajaki Kerja Sama, Fokus Pendidikan dan Pariwisata
“Perempuan sangat rentan terhadap pinjol, padahal mereka berperan penting dalam kesejahteraan dan ketahanan keluarga,” katanya.
Kepala DP3AKB Provinsi Banten Sitti Ma’ani Nina menyampaikan bahwa literasi keuangan syariah bagi perempuan sangat tepat. Saat ini, ada sebanyak 60 persen perempuan di Banten terlibat dalam usaha mikro, kecil, dan menengah.
“Kegiatan ini membekali para ibu sebagai agen edukasi keuangan syariah di lingkungannya untuk memberdayakan perempuan serta mengembangkan keuangan syariah di komunitas masing-masing,” imbuhnya. (adib)
