SATELITNEWS.COM, TANGSEL—Ancaman pencemaran air tanah warga di sekitar tempat pembuangan akhir (TPA) Cipeucang Kota Tangerang Selatan patut diwaspadai. Ahli Perekayasa Madya Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, Nur Hidayat mengingatkan indikasi pencemaran sudah terlihat dan bila tidak ditangani dengan pendekatan ilmiah, dampaknya dapat meluas.
Menurut Nur, sumber utama pencemaran air tanah di kawasan tersebut diduga berasal dari rembesan air lindi yang keluar dari timbunan sampah TPA. Air lindi yang mengandung berbagai senyawa organik dan logam berat ini berpotensi meresap ke dalam tanah dan mencemari lapisan air bawah permukaan.
“Pemerintah perlu mengkaji keberadaan akuifernya yaitu lapisan batuan atau formasi geologi di bawah permukaan tanah yang mampu menyimpan dan mengalirkan air tanah yang ada di wilayah TPA Cipeucang dan sekitarnya,” ujarnya dalam keterangan yang diterima, Kamis (30/10).
Ia menjelaskan, akuifer memiliki peran penting dalam menentukan bagaimana air tanah mengalir di bawah permukaan bumi. Bila lapisan ini terkontaminasi, maka air tercemar akan mengikuti pola aliran alami dari akuifer yang bersangkutan.
Secara geologi, wilayah TPA Cipeucang terletak di dataran rendah cekungan Jakarta dan berbatasan langsung dengan Sungai Cisadane. Daerah ini didominasi oleh endapan alluvial yang terdiri dari pasir dan kerikil. Jenis tanah seperti ini dikenal permeabel atau mudah dilalui air, suatu kondisi yang menjadikan wilayah tersebut rentan terhadap pencemaran.
“Ciri khas endapan alluvial salah satunya adalah bersifat lolos air (permeabel) pada lapisan pasir/kerikil, menjadikannya lapisan akuifer bebas (dangkal) yang baik, tetapi sekaligus rentan terhadap pencemaran,” katanya.
Baca Juga: Damkar Tangsel Waspadai Musim Kemarau Tingkatkan Risiko Kebakaran di TPA
Nur melanjutkan, salah satu upaya paling efektif untuk memetakan akuifer dengan menggunakan metode resistivity (metoda geolistrik). Pengukuran dengan metoda ini dilakukan di TPA dan juga di sekitar TPA bahkan di sekitar area pemukiman yang diindikasikan tercemar.
“Dengan metoda ini maka bisa diketahui keberadaan akuifer bawah permukaan baik jumlah akuifer, kedalaman, ketebalan dan sebarannya termasuk keberadaan air tanah dan aliran air bawah tanahnya. Hal ini sangat penting sekali bila dikaitkan dengan konsumsi air tanah yang dilakukan oleh masyarakat umumnya berada pada akuifer yang mana (sumur penduduk),” paparnya.
Karena itu, ia menilai perlu segera dilakukan pemetaan akuifer menggunakan metode geofisika resistivity (geolistrik). Melalui teknologi ini, peneliti dapat mendeteksi struktur bawah tanah tanpa menggali, termasuk kedalaman, ketebalan, serta arah sebaran air tanah tercemar.Setelah peta akuifer diperoleh, tahap berikutnya adalah membangun sumur pantau di lokasi-lokasi strategis.
Sumur pantau berfungsi untuk memonitor kualitas air tanah secara berkala, sehingga pemerintah memiliki data ilmiah yang akurat untuk menentukan langkah penanganan. Nur juga merekomendasikan penerapan teknologi pump-and-treat, yakni sistem pengendalian aliran air tanah yang efektif mencegah penyebaran kontaminan lebih luas.
“Sistem ini bukan pemblokiran fisik, tetapi lebih kepada mengontrol aliran air tanah yang tercemar. Sumur-sumur dibangun di sekitar lokasi tercemar dengan pola blocking untuk memompa air tanah yang terkontaminasi keluar,” jelasnya.
Menurut Nur, strategi seperti ini jauh lebih efektif dibanding hanya menutup sumber lindi di permukaan. Pendekatan ilmiah berbasis hidrogeologi akan memberi gambaran menyeluruh tentang dinamika air tanah dan pola pergerakan pencemar.
Diberitakan sebelumnya, warga sekitar TPA Cipeucang mengaku air lindi dari tumpukan sampah telah mencemari sumber air mereka. Akibatnya, warga kini sepenuhnya bergantung pada air galon untuk kebutuhan sehari-hari. (eko)
Baca Juga: Pelayanan Kesehatan Jadi Perhatian, Pemprov – BRIN Lakukan Riset
























