TANGERANG—Wali Kota Tangerang Sachrudin meresmikan Krematorium Boen Tek Bio di Karawaci, Kota Tangerang, Jumat (14/11/2025). Kegiatan itu turut dibarengi dengan peresmian Pengayengan/Pura Prajapati yang difungsikan sebagai sarana prosesi Pitra Yadnya khususnya pengabenan bagi umat Hindu.
Dalam sambutannya, Sachrudin menegaskan bahwa pembangunan fasilitas kremasi bukan sekadar pembangunan infrastruktur, tetapi bagian dari pelayanan kemanusiaan yang harus dipenuhi pemerintah.
“Sebagai kota yang terus tumbuh dan berkembang, Tangerang harus mampu menyediakan layanan yang tidak hanya mengejar kuantitas, tetapi juga kualitas. Termasuk dalam pelayanan kematian, yang merupakan bagian penting dari siklus kehidupan,” ujarnya.
Ia berharap krematorium tersebut dapat menjadi opsi pelayanan yang modern, layak, dan tetap menghormati nilai budaya serta kearifan lokal. Pemerintah Kota Tangerang, kata dia, mendukung penuh inovasi layanan publik yang inklusif dan mengapresiasi keberagaman.
“Kami ingin memastikan setiap warga merasa dihargai dan terlindungi dalam setiap fase kehidupan, hingga akhir perjalanannya,” tambahnya.
Sachrudin juga menyampaikan apresiasi kepada panitia, pengurus Boen Tek Bio, tokoh masyarakat, serta warga yang terlibat dalam pembangunan fasilitas tersebut. Ia meminta agar pengelolaan dilakukan secara profesional dan beretika, serta mengedepankan nilai-nilai agama dan budaya.
Baca Juga: Wali Kota Tangerang Sachrudin Putuskan PJJ Diperpanjang hingga Jumat
Lebih dari sekadar infrastruktur, Sachrudin menyebut krematorium ini diharapkan menjadi simbol kepedulian dan kerukunan sosial. “Mari kita jaga bersama. Fasilitas ini adalah cerminan tanggung jawab kita dalam memastikan lingkungan tetap bersih, tertib, dan harmonis,” pungkasnya.
Dibangun Atas Kebutuhan Mendesak Sejak Pandemi
Sementara Ketua Yayasan Boen Tek Bio, Romo Ruby Santamoko, menjelaskan bahwa krematorium dan rumah abu tersebut dibangun atas kebutuhan mendesak yang terlihat sejak masa pandemi COVID-19. Kala itu, jenazah umat Buddha, Konghucu, dan Taoisme dari Tangerang harus mengantre hingga lima hari di luar kota, padahal SOP penanganan COVID mewajibkan proses maksimal empat jam.
“Selama ini jenazah yang akan dikremasi harus dibawa ke luar daerah. Puncaknya saat COVID, antreannya empat sampai lima hari. Dari situ kami mengajukan izin agar Kota Tangerang punya fasilitas sendiri,” ungkap Ruby.
Fasilitas Umat Hindu
Pemerintah Kota Tangerang kemudian mendorong agar fasilitas tersebut juga dapat digunakan umat Hindu, yang memiliki rangkaian ritual khusus sebelum proses kremasi. Pengelola bekerja sama dengan Pura Persejaya untuk membangun ruang dan altar khusus sebagai bagian dari prosesi keagamaan.
Baca Juga: Wali Kota Tangerang Imbau Warga Waspada Abu Vulkanik GAK
“Kalau Hindu kan ada prosesi keagamaannya. Jadi kami siapkan fasilitasnya, agar mereka tidak perlu lagi pergi jauh ke Ceringin,” jelas Ruby.
Standar Bangunan Dibuat Semaksimal Mungkin
Ruby menambahkan, bangunan krematorium didesain dengan kualitas tinggi agar menjadi tempat perpisahan terakhir yang layak dan terhormat. “Bahkan sampai ke area apartemen di sekitar lokasi, fasilitas yang dibangun ini menjadi yang terbaik di kawasan tersebut,” ujarnya.
Terbuka untuk Masyarakat Luas dan Sediakan Bantuan Biaya
Krematorium dan rumah abu Boen Tek Bio tidak hanya diperuntukkan bagi warga Kota Tangerang, tetapi juga masyarakat daerah sekitar. Ruby menegaskan bahwa fasilitas tersebut terbuka untuk semua golongan dan keyakinan. Bagi warga kurang mampu, pengelola bahkan menyiapkan skema keringanan biaya.
“Kalau memang ada yang tidak mampu, kami bisa berikan keringanan bahkan sampai gratis delapan juta rupiah,” terangnya.
Layanannya juga mencakup masyarakat Kabupaten Tangerang, Tangerang Selatan, Bogor, Serang, Cilegon, hingga Jakarta. “Karena lokasinya dekat, dari mana pun bisa memakai fasilitas ini,” ujarnya.
Diharapkan Jadi Kebanggaan Kota Tangerang
Dengan fasilitas yang lengkap dan akses yang mudah, Ruby berharap krematorium dan rumah abu Boen Tek Bio dapat menjadi layanan yang terpercaya dan menjadi kebanggaan Kota Tangerang.
“Pesan Pak Wali, fasilitas ini harus jadi kebanggaan kota. Kalau bisa, orang Jakarta, Bogor, Serang—kalau butuh kremasi—datangnya ke Tangerang,” tutupnya. (adv)
























