SATELITNEWS.COM, LEBAK – Kasus perundungan kembali marak terjadi di sejumlah daerah dalam beberapa hari terakhir. Menyikapi kondisi tersebut, Wakil Bupati Lebak, Amir Hamzah, meminta sekolah-sekolah di Kabupaten Lebak untuk meningkatkan pembinaan dan pengawasan terhadap para peserta didik.
Perundungan adalah tindakan agresif yang disengaja dan dilakukan berulang untuk menyakiti, menindas, atau merendahkan orang lain. Bentuknya dapat berupa kekerasan fisik, verbal, sosial, maupun perundungan siber. Tindakan ini melibatkan ketidakseimbangan kekuatan, baik nyata maupun yang dirasakan, dan berdampak buruk pada kesehatan mental serta emosional korban.
Faktor penyebab perundungan di sekolah biasanya berkaitan dengan kurangnya pengawasan, tidak adanya aturan yang jelas, serta sikap abai terhadap kasus yang terjadi. Selain itu, lingkungan sosial dan pergaulan sebaya—seperti pengaruh media sosial, pencarian popularitas, atau tekanan teman—juga berkontribusi. Perundungan bahkan dapat dipicu faktor keluarga, seperti pola asuh keras, kurang kasih sayang, atau kondisi rumah yang tidak harmonis. Amir berharap peran sekolah dan orang tua dapat lebih ditingkatkan.
“Sekolah di Lebak harus lebih aktif melakukan pembinaan dan pengawasan ketat, terutama para guru,” ujarnya, Kamis (20/11/2025). Amir menambahkan, komunikasi antara guru, orang tua, dan siswa sangat penting untuk mendeteksi dini potensi perundungan.
Menurutnya, setiap kasus perundungan yang menimpa anak menunjukkan lemahnya penanaman nilai karakter sejak usia dini. Perundungan kerap muncul karena anak tidak dibekali pemahaman untuk saling menghargai. “Ini permasalahan sikap anak terhadap temannya, terutama yang dianggap memiliki kekurangan atau kelemahan,” ungkapnya.
Selain peran sekolah, orang tua juga memegang tanggung jawab utama dalam membimbing karakter anak. “Maka sikap saling menghargai harus dipupuk di sekolah dan di rumah. Manusia diciptakan berbeda, dan kita harus menerimanya,” katanya.
Baca Juga: Pemkab Lebak Percepat Langkah Garap Eks HGU PTPN
Amir menilai sekolah akan kesulitan membentuk karakter anak bila kebiasaan di rumah tidak mendukung. Pendidikan moral, tegasnya, tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada guru. “Anak-anak kita lebih banyak diajarkan menghormati yang kaya, yang kuat, yang pintar. Padahal kita juga harus menghormati yang lemah,” tambahnya. (mulyana)
























