SATELITNEWS.COM, JAKARTA — “Sudah habis semua dibawa arus sungai, Pak… rumah saya tidak ada lagi,” kata seorang ibu sambil menahan tangis. Ia menceritakan kondisi rumahnya yang hanyut terseret banjir bandang, langsung kepada Presiden Prabowo Subianto saat meninjau Posko Pengungsian di Desa Balee Panah, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, Aceh, Minggu (7/12/2025).
Kunjungan itu berlangsung dalam suasana yang sarat emosi. Para warga—terutama para ibu—memanfaatkan kesempatan untuk menyampaikan cerita mereka. Presiden Prabowo terlihat menepuk bahu ibu yang menceritakan kiondisi rumahnya yang hanyut terbawa banjir itu. “Sabar ya, sabar,” kata dia.
Prabowo mendengarkan satu per satu pengakuan para penyintas, menenangkan mereka, dan memastikan bahwa pemerintah menyiapkan dukungan untuk pemulihan serta penyediaan hunian bagi warga terdampak. “Anggarannya sudah saya siapkan,” ujarnya, dikutip dari siaran langsung YouTube @sekretariatpresiden.
Setelah berdialog, Prabowo bergerak ke tenda dapur umum yang menjadi pusat pengolahan makanan para pengungsi. Didampingi Gubernur Aceh Muzakir Manaf, ia melepas topinya sebelum masuk, lalu berhenti sejenak untuk berbincang dengan seorang ibu yang membantu memasak bersama prajurit TNI.
“Lauknya apa itu?” tanyanya. “Ikan tongkol,” jawab seorang warga. “Wah, enak ya.”
Presiden kemudian menggulung lengan kemejanya, meminta sendok, dan mencicipi hidangan yang disiapkan untuk para pengungsi. “Pedes ya ini?” katanya sambil mengaduk, mencicipi hidangan tersebut sambil berdiri.
Baca Juga: Guru Besar UIN Jakarta: Sapi Kurban Presiden Perlu Dipahami sebagai Program Sosial Negara
Kunjungan ke Aceh ini merupakan yang kedua dalam sepekan. Pada 1 Desember, ia terlebih dahulu meninjau Kutacane, Kabupaten Aceh Tenggara.
Selain posko pengungsian, Prabowo meninjau pengerjaan Jembatan Bailey Teupin Mane di ruas Bireuen–Takengon, jalur penting yang terdampak bencana. Ia menegaskan komitmen pemerintah menjaga ketersediaan pangan masyarakat.
Dia memastikan stok logistik tetap aman. “Pangan akan kita kirim dari tempat lain. Cadangannya masih cukup banyak. Kemudian utang-utang KUR… kita akan hapus karena ini keadaan terpaksa, force majeure,” ujarnya.
Presiden juga menyinggung tantangan penanganan bencana yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada tahun pertama masa kepemimpinannya. “Ini musibah, tantangan yang kita coba. Pimpinan baru satu tahun, tapi kita dipilih untuk mengatasi kesulitan,” katanya di hadapan Gubernur Aceh Muzakir Manaf dan Bupati Bireuen Mukhlis Takabeya.
Sepanjang peninjauan, Prabowo berdialog dengan petugas lapangan—TNI, Polri, tim teknik PUPR, hingga relawan. Ia juga tampak menyalami para penyintas dan memeluk sejumlah anak. Di tengah kerumunan, terdengar teriakan “Hidup Prabowo” dari beberapa warga.
Pada bagian jembatan, Prabowo mengapresiasi kerja instansi yang terlibat dalam percepatan pemulihan. “Kerja semua instansi baik, bahu-membahu dengan rakyat,” ujarnya.
Baca Juga: Prabowo Patok Defisit APBN, Optimistis Ekonomi Tumbuh 6,5 Persen
Untuk mempercepat perbaikan infrastruktur, ia menunjuk KSAD Jenderal TNI Maruli Simanjuntak sebagai komandan percepatan. “Kasad akan menjadi Satgas percepatan perbaikan jembatan. Punya banyak pasukan Zeni dan konstruksi, jadi bisa segera membantu,” kata Prabowo.
Saat berada di Jembatan Bailey Teupin Mane, ia menanyakan kepada Menteri Bahlil Lahadalia mengenai pemulihan listrik. “Lampu menyala sudah cepat?” tanya Prabowo.
“Malam ini nyala, Pak, semua, malam ini,” jawab Bahlil. Ia menjelaskan bahwa sekitar 93 persen wilayah Aceh akan kembali mendapat aliran listrik pada malam yang sama.
Sebelumnya, Presiden telah memerintahkan jajarannya memastikan listrik kembali masuk ke wilayah terdampak di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat paling lambat Minggu (7/12) malam.
Berdasarkan pemutakhiran data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Minggu (7/12) pukul 16.13 WIB, jumlah korban banjir dan longsor tercatat total 940 orang meninggal dunia. Korban meninggal paling banyak di Aceh yakni 382 orang. Kemudian Sumatera Utara (330), dan Sumatera Barat (228).
Selain korban jiwa, ada 276 orang yang masih dinyatakan hilang, dan 5.000 jiwa terluka. Data BNPB juga mencatat 655 fasilitas umum rusak, 72 fasilitas kesehatan rusak, 383 fasilitas pendidikan rusak, 200 rumah ibadah rusak, 29 gedung atau kantor rusak, dan 64 jembatan rusak.
Baca Juga: Pemulihan Pascabencana Sumatera, Dana Rp10,65 Triliun Tuntas Disalurkan
Di Sumatera Barat, Sekretaris Daerah Provinsi Arry Yuswandi menyebut 16 kabupaten/kota terdampak bencana, dengan 50 kecamatan mengalami banjir dan longsor. Total warga terdampak mencapai 247.402 jiwa; 20.604 di antaranya mengungsi.
“Data tersebut bersumber dari laporan resmi kabupaten/kota terdampak dan telah melalui verifikasi instansi pengampu, sehingga potensi biasnya menjadi kecil,” ujar Arry di Padang. (rmg/xan)
