SATELITNEWS.COM, TANGERANG – Ancaman deforestasi masih menjadi isu lingkungan besar di Indonesia. Permintaan tinggi terhadap produk berbahan dasar kayu, termasuk kertas dan kardus sekali pakai untuk kebutuhan pengemasan, turut mendorong penurunan tutupan hutan dari tahun ke tahun. Pertumbuhan industri e-commerce, logistik, dan distribusi membuat kebutuhan kardus terus meningkat, sehingga menambah tekanan terhadap sumber daya alam.
Kardus konvensional hingga kini masih menjadi pilihan utama karena mudah diperoleh dan berharga terjangkau. Namun penggunaannya yang hanya sekali pakai menimbulkan persoalan serius, baik dari sisi produksi maupun pengelolaan limbah. Volume sampah kardus mendominasi limbah rumah tangga dan industri, dan tidak semuanya dapat didaur ulang akibat kerusakan oleh air dan kelembapan.
Menjawab tantangan tersebut, ALVAboard, produk kemasan berbahan plastik berongga (corrugated plastic), hadir sebagai alternatif pengganti kardus sekali pakai. Material ini dirancang untuk penggunaan jangka panjang dan dapat digunakan berulang, sehingga dinilai mampu mengurangi timbulan sampah dan menekan pemanfaatan bahan baku kayu.
Direktur Utama PT Alpha Gemilang Makmur, Alden Lukman, mengatakan bahwa sistem pengemasan berkelanjutan menjadi kebutuhan mendesak di tengah tuntutan global penerapan prinsip ESG (Environmental, Social, Governance) dalam bisnis modern.
“Keberlanjutan harus dimulai dari perubahan sistem, bukan sekadar kampanye. Selama model konsumsi ‘pakai-buang’ masih dipertahankan, dampak negatif terhadap lingkungan akan terus berlangsung. Transisi menuju kemasan reusable seperti ALVAboard adalah langkah nyata untuk menekan jejak ekologis tanpa mengorbankan kebutuhan industri,” ujarnya.
ALVAboard memiliki ketahanan terhadap kelembapan, air, dan beban berat, serta dapat diaplikasikan menjadi berbagai jenis kemasan seperti bin box, box logistik, storage warehouse, layer pad industri, packaging frozen food, hingga box pindahan. Fleksibilitas desain memudahkan penyesuaian dengan kebutuhan industri skala kecil hingga besar.
Penggunaan kemasan reusable juga membantu perusahaan menekan biaya operasional jangka panjang karena tidak perlu melakukan pembelian kardus berkala. Selain itu, manfaat lingkungan yang ditawarkan antara lain pengurangan penebangan pohon untuk produksi kertas dan penurunan volume sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Alden menambahkan, meningkatnya kesadaran publik terkait kelestarian lingkungan mendorong perusahaan untuk lebih bertanggung jawab dalam memilih bahan kemasan. Perusahaan yang menerapkan inovasi ramah lingkungan juga dinilai memiliki posisi strategis di mata konsumen, investor, dan mitra bisnis.
Industri kemasan diprediksi terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan logistik global. Namun pertumbuhan tersebut, kata Alden, tidak harus berdampak negatif terhadap lingkungan. “Pemilihan kemasan yang tepat merupakan langkah sederhana namun berdampak nyata untuk mengurangi deforestasi dan mengurangi limbah. Pergeseran dari kardus sekali pakai ke sistem kemasan guna ulang adalah investasi masa depan,” tegasnya. (made)