SATELITNEWS.COM, LEBAK – Sejumlah aktivis di Kabupaten Lebak menyoroti pelaksanaan proyek rehabilitasi irigasi di wilayah Lebak Selatan. Mereka meminta agar proyek senilai Rp136 miliar yang bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2025 tersebut dikerjakan secara profesional dan sesuai standar teknis.
Proyek yang dilaksanakan oleh PT Waskita Karya (Persero) ini mencakup pekerjaan pada Daerah Irigasi (DI) Cibinuangeun, DI Cisiih, dan DI Cibanten. Pekerjaan yang telah berlangsung selama dua bulan itu ditargetkan selesai dalam 97 hari kalender, dengan masa pemeliharaan selama 360 hari.
Salah satu aktivis Komunitas Masyarakat Peduli Anti Korupsi (Kompak) Kabupaten Lebak, Nurul Huda, menegaskan bahwa proyek bernilai besar tersebut harus dikerjakan dengan baik. Ia mengingatkan agar tidak ada praktik asal-asalan yang berpotensi merugikan keuangan negara.
“Kita akan mengawasi dan memantau proyek rehabilitasi irigasi tersebut, sehingga hasilnya berkualitas dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh para petani di Lebak Selatan,” kata Nurul Huda, Jumat (12/12/2025).
Huda menambahkan, rehabilitasi irigasi merupakan bagian dari upaya mendukung program ketahanan pangan yang digagas Presiden Prabowo Subianto. Karena itu, pihaknya tidak akan ragu melaporkan pelaksana pekerjaan kepada aparat penegak hukum apabila ditemukan indikasi penyimpangan.
“Dalam waktu dekat, kami akan mendatangi Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau–Ciujung–Cidurian (BBWSC3) untuk mempertanyakan progres pembangunan serta temuan kami di lapangan,” ujarnya.
Aktivis Pemuda Muhammadiyah Lebak itu juga menegaskan bahwa mereka mendukung penuh program pemerintah pusat. Menurutnya, gelontoran anggaran miliaran rupiah tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas pertanian di Bumi Multatuli.
“Kita mendukung program ini. Karena itu, kita akan mengawasi dan terus memantau proyek yang menghabiskan anggaran besar ini. Jangan sampai menjadi ajang bancakan,” tegasnya.
Senada dengan Huda, Ketua HMI MPO Cabang Lebak, Kandi Permana, menyatakan pihaknya juga akan ikut mengawal proyek strategis tersebut. Ia menilai perbaikan irigasi sangat penting dalam memperkuat ketahanan pangan daerah.
“Kami minta BBWSC3 proaktif melakukan pengawasan. Jangan hanya duduk santai di kantor sementara pekerjaan di lapangan tidak terpantau,” ujarnya.
Kandi menegaskan bahwa proyek bernilai besar kerap rawan penyelewengan, sehingga pihaknya akan turun langsung memantau pekerjaan di lapangan.
“Kami tidak akan menoleransi pengerjaan yang asal-asalan. Jika itu terjadi, kami siap turun aksi di depan kantor Balai Besar,” tandasnya. (made)