SATELITNEWS.COM, TANGERANG — Program Gerakan Ayah Ambil Rapor menuai sorotan tajam publik setelah ramai diperbincangkan di media sosial. Alih-alih mendapat dukungan luas, gerakan yang bertujuan meningkatkan peran ayah dalam pendidikan anak itu justru dibanjiri respons negatif dari warganet.
Pantauan SatelitNews.Com, marak komentar bermunculan di berbagai platform digital. Banyak warganet menilai gerakan tersebut tidak sensitif terhadap kondisi sosial keluarga di Indonesia, khususnya anak-anak yang tidak memiliki figur ayah, baik karena meninggal dunia, perceraian, maupun faktor lain seperti ayah yang bekerja di luar daerah dalam waktu lama.
Sejumlah komentar menyebut kebijakan tersebut berpotensi melukai perasaan dan berdampak pada kondisi mental anak-anak yatim atau yang dibesarkan oleh orang tua tunggal. Warganet menilai penggunaan istilah “ayah” secara spesifik dinilai mengabaikan realitas jutaan anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah dalam kehidupan sehari-hari.
“Cukup gunakan istilah orang tua atau wali. Tidak semua anak memiliki ayah,” tulis salah satu warganet dalam kolom komentar yang mendapat ratusan tanda suka.
Komentar lain menilai ukuran kepedulian orang tua tidak seharusnya dipersempit hanya pada kehadiran ayah saat pengambilan rapor. Banyak pihak menekankan bahwa peran ibu, wali, maupun keluarga terdekat juga sama pentingnya dalam mendampingi pendidikan anak.
Selain itu, kalangan ibu tunggal turut menyuarakan keberatan. Mereka meminta agar kebijakan atau gerakan pendidikan lebih inklusif dan tidak menimbulkan stigma sosial terhadap anak maupun orang tua dengan latar belakang keluarga tidak lengkap.
Baca Juga: Gema Budaya 2026 Bangkitkan Pariwisata Nias
“Mohon hargai kami para single parent. Anak-anak kami juga berhak merasa aman dan tidak tersisih,” tulis warganet lainnya.
Meski ada pula pihak yang mencoba meluruskan bahwa gerakan tersebut bertujuan mendorong keterlibatan ayah yang selama ini dinilai kurang aktif, gelombang kritik tetap mendominasi percakapan publik. Banyak yang meminta agar program tersebut dikaji ulang sebelum diterapkan secara luas di lingkungan sekolah. (made)

















