SATELITNEWS.COM, LEBAK — Bencana pergerakan tanah melanda dua kampung di Desa Cigoong Utara, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak, pada 20 Desember 2025. Peristiwa tersebut mengakibatkan belasan rumah mengalami kerusakan berat dan ringan, serta menyebabkan satu warga terluka. Korban bernama Suhro Wardi, warga Kampung Hambur. Ia mengalami luka di bagian kepala dan tangan setelah tertimpa reruntuhan rumahnya yang ambruk akibat pergerakan tanah. Hingga kini, korban masih terbaring lemah dan belum dapat beraktivitas.
Selain rumah milik Suhro Wardi, dua rumah milik kerabatnya, yakni Ahyani dan orang tuanya, juga mengalami kerusakan berat hingga rata dengan tanah. Akibat kejadian tersebut, dua keluarga terpaksa mengungsi dan saat ini menempati tenda darurat yang disalurkan pemerintah melalui Taruna Siaga Bencana (Tagana).
Istri korban, Mumun, tampak terpukul atas musibah yang menimpa keluarganya. Dengan mata berkaca-kaca, ia menceritakan detik-detik kejadian yang hampir merenggut nyawa suaminya. “Kejadiannya sangat cepat. Saya tidak sempat berbuat apa-apa. Suami saya tertimpa bangunan dan sekarang hanya bisa terbaring karena luka di bagian kepala,” kata Mumun saat ditemui di rumah ibunya, Minggu (28/12/2025).
Ia mengaku sedih melihat kondisi suaminya yang kini tak berdaya, sementara rumah yang selama ini mereka tempati bersama keluarga telah hancur dan tidak menyisakan apa pun. “Saya hanya berharap suami saya cepat sembuh dan ada bantuan dari pemerintah untuk membangun kembali rumah kami,” ujarnya lirih.
Sementara, Kepala Desa Cigoong Utara, Habibi, mengatakan pergerakan tanah terjadi di dua kampung, yakni Kampung Hambur dan Kampung Margamulya. “Di Kampung Hambur terdapat tiga rumah rusak parah. Sementara di Kampung Margamulya ada 14 rumah terdampak, terdiri atas satu rumah rusak berat dan 13 rumah rusak ringan,” jelas Habibi.
Menurutnya, hingga saat ini penanganan difokuskan di Kampung Hambur karena tingkat kerusakannya paling parah. Bantuan darurat telah disalurkan bersama Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK), Tagana, Dinas Sosial, dan BPBD Kabupaten Lebak. “Untuk sementara, keluarga korban kami ungsikan ke tenda darurat yang disediakan Tagana,” tambahnya.
Baca Juga: Lagi, Sosialisasi Mitigasi Kebencanaan Kepada Pelajar di Pandeglang Dimasifkan
Habibi menyebutkan, tingginya curah hujan menjadi pemicu utama pergerakan tanah. Ia juga mengungkapkan bahwa kejadian serupa pernah terjadi sebelumnya, namun tidak separah peristiwa kali ini. “Sebelumnya memang pernah terjadi, tetapi tidak separah sekarang. Penyebab utamanya adalah curah hujan tinggi yang terjadi beberapa hari terakhir,” pungkasnya. (mulyana)




























