SATELITNEWS.COM, LEBAK – Malam pergantian Tahun Baru 2026 yang biasanya menjadi ladang rezeki bagi pedagang musiman justru berakhir pahit bagi Lili (43). Warga Kampung Koncang, Desa Sumurbandung, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak, Banten itu harus menelan kenyataan sepinya pembeli di malam yang ia harapkan penuh keuntungan.
Di tepi Jalan Raya Sampay–Gunungkencana, jalur strategis yang saban akhir tahun dikenal ramai wisatawan dan warga lokal, Lili tampak duduk termenung di balik meja kayu kapuk. Jagung manis tersusun rapi di depannya, namun masih utuh, nyaris tak tersentuh pembeli. Hingga Rabu (31/12/2025) sore, tak satu pun kendaraan menepi. Yang terdengar hanya deru kendaraan melintas tanpa berhenti.
Dua hari terakhir, Lili mencoba mengadu nasib dengan berjualan jagung manis. Harapan besar ia gantungkan pada momentum malam tahun baru. Namun, harapan itu tak kunjung berbuah manis.
“Modal saya sekitar Rp2,5 juta, kembali kurang lebih Rp1 juta. Jadi modal juga belum pulang,” ujar Lili, Jumat (2/1/2026).
Ia mengaku kondisi penjualan tahun ini jauh berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Minat pembeli turun drastis, meski harga jagung sudah ia turunkan.
“Kalau tahun kemarin ramai. Sekarang sepi. Padahal harga sudah dimurahin, cuma Rp12 ribu per kilogram. Tahun kemarin saya jual Rp15 ribu juga masih laku,” katanya.
Baca Juga: Di Bukit Sunyi Lebak, Ribuan Umat Katolik Datang Menitipkan Harapan di Goa Maria Kanada
Berjualan jagung manis saat malam pergantian tahun sebenarnya bukan hal baru bagi Lili. Setiap akhir tahun, ia rutin mencoba peruntungan di jalur tersebut. Namun, situasi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih serta melemahnya daya beli masyarakat diduga menjadi penyebab utama sepinya pembeli tahun ini.
“Ini mah peralihan saja. Aslinya saya jualan cimol keliling. Cuma ya namanya juga ngadu nasib,” tuturnya.
Meski hasil penjualan jauh dari harapan, Lili memilih bertahan hingga malam pergantian tahun. Ia berharap arus warga yang merayakan tahun baru setidaknya bisa membawa sedikit pembeli.
Bagi Lili, malam tahun baru bukan sekadar pesta kembang api. Di balik jalur yang lengang, tersimpan harapan sederhana: sisa waktu menjelang tengah malam mampu sedikit menutup kerugian dan menghadirkan rezeki untuk keluarganya. (mulyana)
