SATELITNEWS.COM, LEBAK — Tumpukan sampah yang menggunung di Terminal Ciboleger, Desa Bojong Menteng, Kecamatan Leuwidamar, akhirnya diangkut oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Lebak. DLH menilai persoalan tersebut terjadi akibat minimnya tanggung jawab pengelola terminal yang belum menjalin kerja sama pengelolaan sampah.
Kepala DLH Kabupaten Lebak, Irvan Suyatupika, mengatakan pengangkutan sampah dilakukan pekan lalu karena kondisinya dinilai mengganggu kebersihan dan kenyamanan, terutama bagi wisatawan yang hendak menuju kawasan wisata Adat Baduy. “Pada akhirnya kami (DLH) yang harus mengangkut. Pekan lalu kami membersihkan tumpukan sampah di Terminal Ciboleger,” ujar Irvan, Kamis (8/1/2026).
Irvan menegaskan, sesuai ketentuan yang berlaku, pengelolaan sampah di kawasan terminal merupakan tanggung jawab pengelola. DLH, lanjut dia, hanya dapat melakukan pengangkutan secara rutin apabila terdapat kerja sama resmi atau nota kesepahaman (MoU) dengan Pemerintah Kabupaten Lebak.
“Kalau ingin DLH yang mengangkut secara rutin, seharusnya ada kerja sama. Sampai sekarang pihak pengelola terminal belum pernah mau melakukan itu,” katanya.
Ia menyayangkan sikap pengelola terminal yang dinilai tidak menunjukkan itikad baik, padahal pengelolaan sampah membutuhkan biaya operasional yang tidak sedikit, mulai dari armada, bahan bakar, hingga tenaga kebersihan.
Berdasarkan ketentuan yang berlaku, biaya pengangkutan sampah dikenakan sekitar Rp44 ribu per meter kubik. Dengan kapasitas satu bak truk sekitar lima meter kubik, DLH seharusnya menerima sekitar Rp220 ribu setiap kali pengangkutan.
Baca Juga: Abu Vulkanik GAK Masih Menyebar, DLH Lebak Pantau Kualitas Udara
“Pengangkutan sampah jelas membutuhkan biaya. Selain untuk operasional, retribusi ini juga dapat menjadi pemasukan daerah,” jelasnya.
Selain pengelola terminal, Irvan menambahkan bahwa pemerintah desa juga memiliki kewajiban dalam pengelolaan sampah. Hal tersebut diatur dalam Peraturan Daerah (Perda) Nomor 4 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Sampah.
Sementara, Hendra, salah seorang wisatawan yang berkunjung ke kawasan Adat Baduy, mengaku kecewa dengan kondisi Terminal Ciboleger yang dipenuhi tumpukan sampah. Menurutnya, kondisi tersebut merusak kesan awal wisatawan saat tiba di kawasan wisata. “Wisatanya sudah bagus, tapi pas pertama datang di terminal langsung disuguhi tumpukan sampah yang baunya menyengat,” ujarnya.
Ia menduga tumpukan sampah tersebut sudah cukup lama tidak ditangani, melihat volumenya yang besar serta aroma tidak sedap. Kondisi itu semakin mengganggu karena di sekitar terminal terdapat sejumlah warung dan tempat makan.
“Ini kan pintu masuk wisata Baduy. Harusnya kebersihannya lebih diperhatikan,” katanya. Para wisatawan berharap pengelola terminal dan pihak terkait lebih serius menangani persoalan kebersihan Terminal Ciboleger, mengingat kawasan tersebut merupakan wajah awal pariwisata Baduy yang dikenal hingga mancanegara. (mulyana)
























