SATELITNEWS.COM, LEBAK – Banjir yang terus berulang kembali merendam persawahan di Desa Cisangu, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak. Puluhan hektare sawah rusak, musim tanam gagal, dan kerugian petani membengkak hingga puluhan juta rupiah. Kondisi ini menegaskan rapuhnya sistem irigasi sekaligus lambannya penanganan pemerintah terhadap banjir tahunan.
Hamparan sawah yang sebelumnya ditanami padi kini tampak kosong. Bibit padi hanyut terbawa arus, sementara tanaman yang mulai berbuah membusuk setelah berhari-hari terendam air. Dalam dua pekan terakhir, banjir datang silih berganti—sempat surut, lalu kembali meluap dan menenggelamkan lahan pertanian warga.
Salah seorang petani, Ujang Komarudin (55), mengaku banjir telah memupus harapan panen. Dari 20 petak sawah yang ia garap, separuh rusak total akibat terendam air. “Banjirnya datang, surut, datang lagi. Sudah lebih dari dua minggu. Padi yang baru dua mingguan habis terbawa air. Kalau sudah lama terendam, akhirnya busuk seperti bubur,” ujar Ujang, Minggu (11/1/2026).
Tak hanya tanaman yang lenyap, seluruh biaya produksi ikut terbuang. Mulai dari benih, pupuk, hingga ongkos tanam, semuanya hilang tanpa hasil. Ujang memperkirakan kerugian yang dialaminya mencapai sekitar Rp20 juta. “Nyemai benih hampir 50 kilogram gagal, nyemai lagi gagal lagi. Kalau ditotal, sekitar Rp20 juta habis begitu saja,” katanya.
Menurut para petani, banjir yang terus berulang bukan semata disebabkan faktor cuaca, melainkan buruknya pengelolaan saluran irigasi. Pendangkalan dan penyumbatan telah terjadi sejak lama, namun tak pernah ditangani secara serius. “Kalau cuma petani yang memperbaiki, jelas tidak cukup. Ini kejadian setiap tahun, tapi terus dibiarkan,” tegas Ujang.
Ia menyebut sedikitnya 30 petani di kawasan Blok Cimenteng dan sekitarnya mengalami kerugian serupa. Hampir seluruh area persawahan terdampak, mulai dari gagal tanam ulang hingga puso total. “Yang di atas, yang di pinggir jalan, semuanya kena. Ini bukan satu dua orang, hampir semua gagal,” ungkapnya.
Baca Juga: 11 Kilogram Ganja dan 4,56 Gram Sabu Disita, Dua Tersangka Diamankan ke Mapolda Banten
Kepala Desa Cisangu, Doli, mengakui banjir merupakan persoalan tahunan yang belum kunjung tuntas. Bahkan pada 2023–2024 lalu, banjir disebut sebagai yang terparah karena sempat merendam permukiman warga. “Banjir di Cisangu ini bukan kejadian baru. Setiap musim hujan pasti terjadi,” ujarnya.
Dari total 115 hektare lahan persawahan di Desa Cisangu, sekitar 75 hektare terdampak banjir pada musim tanam tahun ini. Doli menjelaskan, Cisangu menjadi daerah buangan air dari sejumlah wilayah lain, termasuk Kecamatan Warunggunung, dengan aliran yang bermuara di Kali Cisangu.
“Solusinya jelas, normalisasi Kali Cisangu. Ini sudah berkali-kali kami sampaikan ke dinas terkait, tapi sampai sekarang belum ada realisasi. Harapan kami, Gubernur Banten bisa turun tangan langsung,” tegasnya. Jika persoalan ini terus dibiarkan tanpa langkah nyata, petani Cisangu dipastikan akan terus menjadi korban setiap musim hujan. Sawah-sawah produktif akan terus tenggelam, kerugian petani kian menumpuk, dan ketahanan pangan lokal terancam. (mulyana)





















